Selasa, 24 Januari 2012

Muara Nestapa...





Duhai nestapa lara… 
kuurai dikau menjadi bulir-bulir bening yang menggenangi rasa
Engkau tidak lagi terwakili kata
Asa pun memutus arah tanpa suara…


Ku hamparkan sajadah dalam duka
Dengan tengadah jemari dan beribu pinta…

Demi Robb Yang Berlimpah Cinta
Sungguh, duka pun adalah kehendak-NYA
Seperti suka yang sering ku terima lewat tawa…

Maka, tersisa sabar yang separuh sempurna
Terbingkai bijak kasih tiada berbatas Sang Maha
Setelah ini, nestapa pasti bermuara…

“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah [2] ayat 153)

Senin, 23 Januari 2012

ingin-menikah-dengan-sesama-salafi...?!



Redaksai Yth
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,..
Saya sorang akhwat, saya seorang salafi walau masih banyak kelemahan. Saya sudah cukup untuk menikah, dan ada yang meminang, namun dia bukan salafi. Bahkan di antara kami ada perbedaan prinsip. Sebenarnya saya ingin sekali menikah dengan sesama salafi, apalagi saya banyak memiliki kelemahan dan kekurangan sebagai salafi, dan di daerah kami, salafi sangat sedikit. Itupun kerabat. Apa saya terima pinangan ikhwan tersebut? Atau sebaiknya saya harus bagaimana? Mohon bantuannya, dan jazakumullah khairan.
Akhwat , 081321xxxxxx

Jawab :
Permasalahan Saudari kami khawatirkan didasari ketidak tahuan tentang definisi salafi, dan siapa salafi itu. Sehingga, terkadang menganggap seseorang tidak salafi, hanya karena tidak mengikuti majlis pada pengajian yang Saudari ikuti.

Perlu kami berikan penjelasan berkenaan dengan masalah ini. Saudari harus melihat kembali ikhwan yang meminang tersebut, apakah ia memiliki komitmen yang kuat terhadap Al Qur`an dan Sunnah? Apakah dia menerima hukum syariat walaupun bertentangan dengan pendapat dan keinginannya? Ini sangat perlu dilihat. Karena, terkadang seseorang menyimpang dari ajaran Islam disebabkan ketidak tahuannya, padahal ia seorang yang menerima dan mau merubah sikap dan pendiriannya, bila ternyata bertentangan dengan Al Qur`an dan Sunnah.

Memang tidak dipungkiri pernikahan dua orang yang berbeda prinsip merupakan satu permasalahan sendiri. Namun, dengan adanya saling pengertian dan selalu berusaha merujuk kepada ajaran Islam, insya Allah dapat diselesaikan. Masalahnya, seandainya perbedaan ini berhubungan dengan bid’ah, maka harus dijelaskan dahulu perbedaan prinsip tersebut. Apabila bid’ahnya telah dihukumi sebagai bid’ah mukaffirah (bid’ah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam) seperti Rafidhah Syi’ah atau aliran kebatinan dan sebagainya, maka para ulama melarang pernikahan muslimah dengan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: “Dilarang menikahkan seseorang yang berada di bawah perwaliannya kepada seorang Rafidhah Syi’ah, dan tidak juga kepada orang yang tidak shalat. Apabila ketika menikahkannya laki-laki tersebut Ahlu Sunnah dan shalat lima waktu, kemudian jelas ia adalah seorang Syi’ah Rafidhah dan tidak shalat, atau ia kembali menajdi Syi’ah dan meninggalkan shalat, maka pernikahannya dibatalkan.[1]

Apabila kebid’ahan laki-laki tersebut tidak sampai mukaffirah, maka pernikahannya sah bila telah terjadi, namun akad tersebut tidak sah, kecuali dengan persetujuan dan keridhaan wanita dan walinya. Hal ini, tidak berarti Ahlu Sunnah mendukung pernikahan dengan ahli bid’ah. Pernikahan mereka tersebut sah, karena telah sempurna syarat-syaratnya, yang merupakan satu masalah tersendiri, dan keridhaan terhadap pernikahan tersebut juga masalah lain yang terpisah.

Pernikahan ini, walaupun sah, namun dimakruhkan para ulama ahlu sunnah, karena adanya kemudharatan yang timbul dari pernikahan tersebut untuk sang wanita dan anak-anaknya dikemudian hari. Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh menyatakan :

مَنْ زَوَّجَ كَرِيْمَتَهُ مِن مُبْتَدِعٍ فَقَدْ قَطَعَ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya kepada seorang ahli bid’ah, maka sungguh ia telah memutus kekerabatannya".[2]

Demikianlah para wali yang menikahkan anak perempuannya kepada ahli bid’ah telah mendatangkan kemudharatan bagi keluarganya, karena perkawinan dan pergaulan dengan ahli bid’ah tersebut memiliki pengaruh berbahaya bagi rumah tangga tersebut. Yang berarti, dia juga telah berbuat buruk kepada anak perempuannya tersebut dan tidak memilih yang terbaik untuknya. Dikhawatirkan anak perempuannya tersebut terpengaruh dan terbawa aqidah suaminya yang menyimpang. Kita ketahui, wanita memiliki tabiat lemah dan kurang mendalam memandang permasalahan.

Oleh karena itu, para ulama ahlu sunnah (salafiyun) sangat memakruhkan pernikahan dengan wanita dan laki-laki ahli bid’ah, karena mudharat yang mungkin timbul dari pernikahan tersebut. Imam Malik bin Anas, imam madzhab Malikiyah menyatakan :

لاَ يُنْكَحُ أَهلُ البِدْعَةِ وَلاَ يُنْكَح إِلَيْهِمْ وَ لاَ يَسَلِّم عَلَيْهِمْ وَلاَ يَصَلِّى خَلْفَهُمْ وَلاَ تُشْهَد جَنَائِزُهُمْ

"Janganlah ahli bid’ah dinikahi dan janganlah menikahkan kepada mereka, jangan memberi salam dan shalat di belakangnya, serta jangan menyaksikan jenazahnya".

Demikian juga Imam Ahmad menyatakan:

مَنْ لَمْ يَرْبَعْ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ فِيْ الْخِلاَفَةِ فَلاَ تُكَلِّمُوْهُ وَ لاَ تُنَاكِحُوْهُ

"Barangsiapa yang tidak menjadikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan ajak bicara dan jangan mengadakan pernikahan dengannya". [3]

Berdasarkan penjelasan ini, maka Saudari bisa melihat kembali orang yang telah meminang Saudari tersebut. Kalau memang tampak pada diri laki-laki tersebut baik ketakwaannya, semangat menerima kebenaran dan mengamalkannya, juga memiliki akhlak mulia, maka ajaklah untuk meniti manhaj Salaf. Sebaliknya, jika laki-laki tersebut memang tidak baik agama, kurang bertakwa serta tidak nampak pada dirinya adanya keinginan menerima kebenaran dan mengamalkannya, maka dengan berbekal takwa dan tawakal kepadaNya, Saudari bisa mencari orang lain yang lebih baik, walaupun harus menunggu beberapa lama. Sebab memilih suami yang shalih dan beraqidah benar, akan memberikan kebaikan kepada Saudari dan kaluarga pada masa depan.

Mudah-mudahan Allah memberikan suami terbaik buat Saudari. Bersabarlah dan istiqamah dalam jalan kebenaran. Wallahu a’lam. (Khs).


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]
________
Footnote
[1]. Majmu’ Fatawa (32/61).
[2]. Diriwayatkan Al Barbahari dalam Syarhu Sunnah, hlm. 60.
[3]. Jawaban ini disarikan dari kitab Mauqif Ahli Sunnah Min Ahli Al Hawa Wal Bid’ah, Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili (1/380-388) dengan penyesuaian dan tambahan.

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/1547/slash/0

APAKAH TANGGAL 12 RABIUL AWAL ADALAH HARI KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM?












Oleh : Ust. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Tanggal Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185).

Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih.
Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanggal 12 Rabiul Awal tidak shahih. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadits tersebut, “Sanadnya terputus.” (al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)

Berhubung penentuan hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam ar-Rahiqul Makhtum hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,

“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.” (al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)

Dengan demikian adanya, jadi apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed nurussunnah.com)

[Disalin dari Majalah Al-Furqon "artikel 8 Faedah Seputar Tarikh", Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M]

Sumber : http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html

Untuk mu Adekqu...






Duhai Adek-ku...

Jika ALLAH tidak memberimu seseorang yang kamu impikan,
Semoga Dia menghadirkan seseseorang yang MENGIMPIKANMU..

Bila ALLAH tidak memberimu seseorang yang kamu rindukan,
Semoga Dia menghadirkan seseorang yang MERINDUKANMU..


Bila ALLAH tidak memberimu seseorang yang kamu dambakan,
Semoga Dia memberimu seseorang yang MENDAMBAKANMU..


Bila ALLAH tidak menyatukanmu dengan seseorang yang kamu cintai,
Semoga Dia menghadirkan seseorang yang MENCINTAIMU..


Yang bukan HANYA karena apa yang ada PADAMU,
 tetapi apa adanya DIRIMU…
Semoga ALLAH memberikan kita yang TERBAIK
 dengan segala keINDAHan HATI  & KETAQWAANNYA,

InsyaAllah…



@bie Sabiella, Jkt - 23 Jan 2012

Sabtu, 21 Januari 2012

Kenapa aku memilih kamu...

ketika engkau bertanya, mengapa aku memilihmu?
aku menjawab ..., karena agamamu
ketika engkau bertanya, cukupkah hanya itu?
aku menjawab .., adakah yang lebih utama dari itu?

Mungkin alasanku terlalu sederhana ...
... Namun ku yakin engkau kan tahu, betapa mahal harganya

bahwa hal itu adalah sebuah kebenaran
bahwa alasan itu adalah sebuah kejujuran
bahwa sederhana itu adalah sebuah perjuangan
aku memilihmu tuk menjadi yang halal bagiku
bukan adu gengsi atau mengikuti trend masa kini
bukan untuk jadi pacar atau lebih dari teman
bukan untuk menemaniku jalan-jalan atau makan-makan

engkau mungkin kecewa ...,
engkau mungkin bertanya...,
mengapa aku tak pernah katakan "cinta"?

mengapa aku tak pernah bilang "sayang"?
mengapa kita tak pernah berpegangan tangan?
atau sekedar bertukar pandang ...?
bagiku ...,

wanita sangatlah suci
bukan barang dagangan yang layak dipegang, kemudian dibeli
wanita sangatlah mulia
bukan barang contoh untuk dirasa, kemudian tawar harga
bagiku ...
,
wanita punya potensi sholihah
yang harus dijaga oleh siapa saja, tak hanya kedua orang tua

wanita punya hati yang bersih
yang tak boleh ternodai oleh ikatan yang tak resmi

cintaku adalah bukti ...
cintaku adalah ujian ...
cintaku adalah proses ...
Bagaimana aku mencintai Alloh, dengan memuliakan wanita
Bagaimana aku mencintai Rasulalloh, dengan menjaga nasab umatnya
Bagaimana aku mengamalkan ilmu, tak sekedar membaca atau membicarakannya

Mari memohon kepada Tuhan kita, dengan menjaga wajib kita
Mari bermunajat kepadaNya, di sepertiga malam kita
Mari membaca dan bertanya, Bagaimana kita mengamalkannya
Mari jaga dhohir dan bathin kita, tuk meraih ridlo dan berkah-Nya
Mari bersabar, halalkan segera

Aku teguh memilihmu karena Alloh
Aku ikhlas engkau tolak karena Alloh
karena aku menyempurnakan agamaku karena Alloh
dan aku kembalikan semua, hanya kepada Alloh.

khitbah (lamaran) ku adalah bukti cintaku
Ikhtiarku adalah bukti sayangku
tunduk pandanganku dan lumpuh ragaku adalah bukti aku menjagamu
dan aku melakukan semua ini ....
adalah bukti aku ingin menggapai ridlo Tuhanku
bukti aku ingin mendapat syafaat rasulku,
bersamamu ...

Insya Allah...

Keuntungan Jatuh Cinta Bagi Kesehatan...



Ternyata ada sebuah keuntungan bagi orang - orang yang tengah di landa asmara dalah hal ini efek positif bagi kesehatan tubuh mereka, di antara keuntungan orang yang tengah jatuh cinta di antaranya :

Jatuh cinta turunkan risiko kecanduan alkohol
Anda yang masih jomblo, mungkin akan memilih menikmati malam minggu dengan meminum anggur atau minuman alkohol lainnya. Namun berdasarkan penelitian, diketahui bahwa seseorang yang sedang dalam hubungan asmara, lebih kecil kemungkinan mengonsumsi alkohol.

Penelitian tersebut menyatakan:
1) Empat persen orang yang telah menjalin hubungan asmara selama dua atau empat tahun, masih kecanduan alkohol,
2) Tiga persen orang yang telah menjalin hubungan asmara selama lebih dari lima tahun, masih kecanduan alkohol,
3) 12 persen orang yang sedang tidak menjalin hubungan asmara di usia 30-an, kecanduan alkohol,
4) 13,5 persen orang yang tidak menjalin hubungan asmara selama dua tahun, benar-benar mengalami kecanduan alkohol berat.

Jatuh cinta membuat kita awet muda
Kita semua tahu bahwa jatuh cinta dan bercinta adalah dua hal yang berbeda secara alamiah. Namun jatuh cinta biasanya sangat berpengaruh terhadap proses penuaan kita. Penelitian menunjukkan, jatuh cinta membuat kita awet muda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Royal Edinburgh Hospital di Skotlandia, didapatkan hasil bahwa para wanita yang melakukan hubungan seks sebanyak empat atau lima kali selama sepekan, akan terlihat 10 kali lebih muda dari usia sebenarnya.

Konsultan neuropsychologist Dr. David Weeks mengatakan, pasangan yang saling mencintai, tidak hanya terlihat memiliki bentuk tubuh yang lebih baik, namun juga berpengaruh terhadap kondisi fisik dan emosional. Jadi, mungkin lain kali kita semua akan lebih memilih baby oil sebagai krim anti penuaan.

Cinta baik bagi wanita, buruk bagi pria?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan English Longitudinal Study of Ageing, didapatkan hasil bahwa para wanita yang sedang menjalin hubungan asmara, akan memiliki kualitas diri yang lebih tinggi dari biasanya, namun tidak sama halnya dengan yang terjadi pada suami atau pasangan mereka, yang justru memiliki kualitas diri yang lebih rendah dari biasanya.

Meski tampaknya hal itu lebih menguntungkan bagi wanita dibandingkan pria, namun orang yang menjalin hubungan asmara akan jauh lebih bahagia dibandingkan dengan yang orang-orang yang jomblo.

Penelitian lain memberikan hasil bahwa 40 persen pasangan yang menikah mengatakan bahwa mereka bahagia, dan hanya 25 persen orang-orang yang jomblo mengatakan bahwa mereka bahagia.

Cinta meningkatkan kesehatan mental kita
Cinta memberikan sejumlah keuntungan bagi kesehatan tubuh kita, termasuk dapat meningkatkan kesehatan mental bagi para wanita maupun pria yang sedang menjalin hubungan asmara. Di New Zealand, sebuah tim dari University of Otago melakukan penelitian pada 1000 orang. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang telah menjalin hubungan asmara selama lebih dari lima tahun, akan lebih kecil kemungkinan mengalami depresi maupun melakukan bunuh diri dibandingkan mereka yang jomblo. 

Penelitian lain memberikan hasil bahwa orang-orang yang menikah, memiliki level yang lebih rendah untuk mengalami depresi dan stress dibandingkan mereka yang jomblo.

Cinta membuat kita lebih sering berulangtahun
Jatuh cinta akan membuat kita berulangtahun lebih dari sekali dalam setahun. Namun bukan berarti kita akan benar-benar berulang tahun. Penelitian membuktikan bahwa angka kematian pria jomblo berusia 30 hingga 59 tahun, dua setengah kali lebih tinggi dibandingkan dengan pria non-jomblo!

Angka kematian para wanita jomblo juga 23 persen lebih tinggi dibanding dengan para wanita menikah. Para peneliti menyatakan, ini karena para orang yang jomblo memiliki kesehatan yang jauh lebih buruk, pendapatan yang lebih rendah, dan terisolasi secara sosial. Dukungan dari orang lain akan membantu kita menjaga kesehatan.

Cinta sembuhkan penyakit jantung
Mungkin hanya kebetulan saja, bahwa cinta digambarkan dengan simbol jantung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of Rochester di New York, memberikan hasil bahwa hubungan asmara yang bahagia akan memberikan ketahanan jantung yang tiga kali lebih baik. Penelitian membuktikan bahwa pernikahan yang baik, akan memberikan keuntungan bagi kesehatan jantung, seperti mau berhenti merokok, menjaga berat badan, dan memperkecil risiko serangan darah tinggi.

Penelitian lain yang dilakukan di University of North Carolina, dan di Human Communication Research. Mereka berdua menemukan bahwa jatuh cinta dapat memberikan dampak positif terhadap kolesterol.







Jumat, 20 Januari 2012

Untukmu Wahai Buah Hatiku…

Hening malam disertai rintik-rintik hujan
Membuat hati ini beku dikala rindu datang menawan
Secercah harapan yang tersimpan dalam rapuhnya angan-angan
Hadirkan duka penuh derita terhimpit rindu dalam kesendirian

Di sini jiwa ini termangu biru
Menyendiri dalam hampa dirundung rindu
Cinta yang selalu setia kutunggu disetiap putaran waktu
Hingga kini tiada berlabuh menghapus sepiku

Andai jiwa ini mampu berlari
Andai angan ini mampu mengejar mimpi
Mungkin rasa rindu yang tiada henti menyelimuti
Akan segera terobati …

Aku masih terkungkung dalam dilema sepi di tengah hiruk – pikuk keramaian kota tua ini. Malam semakin larut, tergolek tak berdaya dua sosok tubuh kecil mungil yang hanya berbalut singlet yang lusuh dan telah kusam terlelap dalam heningnya malam. Aku terdiam menatap wajah dan tubuh mereka yang masih lugu dan polos. 

Tentu, karena mereka masih anak – anak. Belum jelas di mata mereka, gambaran tentang perjalanan hidup yang panjang serta berliku ini…Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan mu nak…:)


Ada sebuah tanya dalam benakku, kemanakah mereka akan melangkah kelak…
Masih kuatkah tubuh yang makin rapuh ini mendampinginya dalam setiap waktu…

Semoga kelak engkau mampu menghadapi ujian dan mampu menahan beban beratnya kehidupan berliku ini…?

Dalam diam dan hening itulah aku teringat akan sebuah kisah tentang Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullahu-. Sebuah kisah yang menunjukkan akan hausnya seorang anak akan ilmu serta dukungan yang kuat dari sang ibunda. Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini disebabkan dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan kecil mengambil manfaat dan pelajaran dari para ulama, baik berupa ilmu maupun pelajaran yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!” (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)

Tak jauh beda dengan kisah ibunda Al-Imam Malik ibnu Anas –rahimahullahu-, beliau selalu memperhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.
’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku.
‘Pakailah pakaian ilmu!’

Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal. 39)
Subhanallah…

Perjuangan seorang ibunda yang ingin anak – anaknya menjadi berilmu…
Perjuangan seorang ibunda yang ingin putra – putri mereka menjadi penyejuk pandang…
Teringat dalam sebuah buku, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا
“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (dikutip dari kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Betapa bahagianya semangat sang anak di barengi dengan kesungguhan orang tuanya.

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki kesungguhannya. Akankah ini kita biarkan…?

Mari belajar  yang sungguh – sungguh buah hatiku…
Belajarlah bersama Ayah, bersama teman – teman, bersama kaum muslimin…
Agar ayah bundamu senang…agar pandangan mereka tenang…agar jalanmu terang…

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga telah menggariskan bahwa kita hidup di zaman penuh fitnah dan coba…beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salla berucap:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676. Ash-Shahihah no. 937)

Belajarlah Y nak…
Agar kita mampu, menggigit  cahaya itu…
Cahaya sunnah…
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Yaitu apa – apa yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku. (HR. At-Tirmidzi 2641, Ath-Thabarani I/256. Ash-Shahihah 203, 204)

Semoga kita mampu menjalani kehidupan yang berliku ini di tas bimbingan ilmu dan selamat hingga ke hadirad Rabbul Izzati wal Jalaalah …

Dan untukmu wahai orang tua, semoga kita sama – sama mengetahui bahwa mengajarkan kebaikan pada anak ibaratnya adalah mengukir di atas batu…sulit, namun masih bisa untuk dilakukan, dan meninggalkan bekas yang tak pernah hilang.

Namun jika mengajarkan kebaikan ketika seseorang itu telah dewasa, maka itu ibarat mengukir di atas air, mudah namun mudah pula hilangnya.

Barakallahufikum…

Abie Sabiella
Jkt, 21 Jan 2012
_____________________________________________
Terilhami dari tulisan al akh  Abu ‘Abdirrazzaq al Fitrah

Kamis, 19 Januari 2012

Yaaaang...

 

Sayang,..

Hampir empat belas tahun kebersamaan kita, aku banyak belajar darimu,
tentang melihat kehidupan, tentang melihat di balik yang terlihat, tentang hikmah dari sebuah peristiwa yang kita alami sepanjang perjalanan yang kita tempuh saat ini…

Aku pun mulai belajar tentang kemampuan membaca mengapa dan bagaimana ,
tak hanya berupaya menjawab apa. ..

Aku pun belajar untuk menjadi sutradara akan hidupku sendiri.
Bukan lagi menjadi pelaku dan penikmat perjalanan dengan kacamata kenaifan …

Dan selama itu pula aku baru faham bahwa ternyata persamaan kita telah saling menguatkan, dan perbedaan kita pun untuk saling melengkapi.

Terima kasih ya Robbi, Engkau satukan kami dengan curahan Cinta Kasih Mu…

Dan terima kasih Sayangku…, keteguhan, kesabaran dan perhatianmu telah menjadi cermin yang selalu memantulkan apa yang kuinginkan. ..


Kamu paling faham bahwa aku tidak butuh instruksi. Hanya kalimat tanya…, Karena katamu, sebenarnya aku sudah tahu apa yang kubutuhkan dan apa yang seharusnya kulakukan…

Kuakui, seringkali tindakanku kurang perencanaan dan pertimbangan matang sehingga sulit bagimu mempercayai keputusanku.

Tapi sayang.., bukankah masa depan adalah sekarang..? Memang, jalan hidupmu setelah bertemu denganku penuh dengan kerikil - kerikil tajam. Aku selalu membawamu pada kesulitan. ..
Alhamdulillah…

Toh selalu saja terbentang jalan kemudahan. Kenapa kau masih juga meresahkan masa depan ya…?
Kan ku kuatkan keyakinanku Sayang…

Aku ingat sebuah kata bijak bahwa “Behind every successful man is a surprised woman”, aku ingin seperti itu yang…

Ku harap engkau slalu ada waktu tuk mengajariku…
Dan aku akan terus belajar tentang kebijaksanaan darimu…

Makasih “yang” yach…

Dari orang yang saaaangat mencintaimu,

_Aysha_

Rabu, 18 Januari 2012

The Journey of Love



Cinta itu menyatukan hati, menyamankan jiwa. Kepadanya hati mencari dan melepaskan dahaga, menjadikannya sumber energi yang nyaris tanpa henti untuk terus dan terus melayani, lapang dada dan ringan langkah selalu menemani jalani hari - hari .

Menjadikannya penawar atas semua jeri, dan pijakan untuk semua tindakan, seolah semua menjadi benar jika semua berlatarkan cinta.

Dengan cinta setiap saat menjadi nikmat, setiap warna menjadi mempesona, semua pengorbanan menjadi menawan dan segala lelah menjadi terasa megah.

Rasa ini sangat memabukan yang karenanya sering kali menumpulkan akal, karena dalam cinta kepasrahan tanpa syarat menjadi sebuah keniscayaan untuk cita rasa terbaik dan kelezatan terdasyat.

Badai nikmat menyapa seluruh pori - pori dan rasa angkuh meluruh karenanya dan setiap insan berharap semuanya tak kan usai, jangan pernah selesai.

Menjalani hidup bersama cinta selama mungkin, menjadi abadi andaikan bisa. Berdoa semoga waktu berhenti melaju, adakah yang lebih indah dari ini...???

Tapi setiap waktu bergulir, berlari tak peduli, ia kan membawa kita ke realita sejati membukakan mata, telinga dan hati, sesungguhnya Cinta bukanlah sang penguasa, mesti sebagian manusia menjadi budaknya.

Semuanya akan berubah, segalanya akan berakhir saat perjumpaan itu tiba, saat pertanggungjawaban itu di minta, saat keadilan di tunjukan dengan seadil - adilnya dan benar - benar di tampakkan, ketika kepalsuan di singkapkan dan semua alasan kebingungan tuk mencari rujukan.

Saat itulah Cinta ingkar tas perlakuannya yang munkar, memenangkan sahwat atas akal sehat. Para pencinta saling hindar, berlari, tunggang langgang  mencari selamat atas siksa akhirat.

Sebab cinta tanpa akhirat hanya melahirkan maksiat, dan puja puji akan berubah menjadi caci maki membuahkan permusuhan sejati.

Dan saat itu barulah kita tersadar, telah menghamba pada cinta yang salah dan sia - sia. Semua kelezatan hanya semu dan palsu menipu nafsu.

Karena Cinta seharusnya melahirkan keluhuran jiwa, memberanikan si penakut, memuliakan si pengecut, mendermawankan si kedekut dan membuat si kasar menjadi lembut.

Mata air cinta penuh vitalitas yang harus berasal dari sang Mpunya Cinta Yang sebenarnya, ia berjalan berkelindan dengan Iman mengitari kehidupan setiap insan membawa pesan - pesan langit membumi dalam prestasi terbaik seorang hamba, menegakkan kebenaran dan menghancurkan keangkaraan dengan sepenuh keikhlasan.

Inilah Cinta yang tak bisa di hentikan, karena ia membangun jembatan menuju istana syurga, membawanya nikmati manisnya buah penghambaan saat semua cinta TERlaknat tengah berakhir tragis.

Dan karena kita adalah hamba dari apa yang kita cintai, sudahkah kita memastikan pilihan Cinta kita adalah Cinta yang sesungguhnya, yang teridhoi...???

@bie sabiella
Jkt, 18 Jan 2012
ar-risalah - 127 - Safar 1433