Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

Kepada jiwa yang [TER] luka...



Mungkin yang pergi dengan kenangan Indah itu CINTA,
tapi yang datang dengan komitmen itu JODOH,

Mungkin yang menggelisahkan hati itu BERHARAP,
namun yang menentramkan hati itulah YAKIN,

Mungkin yang tak bisa di lupakan itu MASA LALU,
namun yang bisa kita rubah adalah HARI INI,

Mungkin yang menyesakkan dada itu CEMBURU,
tapi yang melegakan dada adalah IKHLAS,

Memang berat untuk melupakan seseorang yang pernah memberi WARNA dalam hidup,
yang pernah memercikkan embun HARAPAN dalam hati,

Namun sejatinya siapa belahan jiwa yang DIA anugerahkan sebagai tempat yang halal untuk menambatkan hati, mengekpresikan segala warna cinta...?

Bukankah kita tak pernah tau...?
Dan hatimu kini terluka...

Namun ingatlah duhai jiwa,
Ketika hati hamba beriman terluka,
Dia akan menghapus air matanya dengan imannya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
Dia akan menguatkan hatinya dengan ilmunya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
hari-harinya akan dia penuhi dengan semangat perubahan dan muhasabah diri…
Ketika hati hamba beriman terluka,
Dia asyik bermunajad dalam doa, memohon ampunan terhadap Rabbnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
wajah kusutnya tetap terlihat indah bagi dunia…

Ketika hati hamba beriman terluka,
bibirnya tetap menyimpulkan senyuman untuk hidupnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
matanya basah oleh kelembutan hatinya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
dunia nya terasa akan berlanjut dan dia terus dalam ketegaran…

Ketika hati hamba beriman terluka,
jiwa lembutnya sampaikan ketenangan pada hati kecilnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
akal dan hatinya hadir untuk menata kembali perasaannya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
tangannya ia gunakan seperti kebiasaannya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
tak akan ada perubahan dalam dirinya oleh hal-hal yang tidak berguna…

Ketika hati hamba beriman terluka,
ia gunakan kesadarannya untuk menjaga perasaan orang sekitarnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
air matanya dijadikan doa untuk kebaikan orang yang melukainya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
jari-jemarinya bergerak untuk tetap menolong orang lain tanpa beban di hatinya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
hidupnya tetap menjadi kebahagiaan bagi orang disekelilingnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
dia tetap meneruskan liku-liku hidupnya…

Ketika hati hamba beriman terluka,
kepercayaan dirinya tetap tak akan pudar…

Ketika hati hamba beriman terluka, ia dan dirinya tetap menjadi pribadi yang beriman, walau air mata tak terpungkiri membasahi bumi...

Tabahkanlah HATIMU duhai jiwa, disaat dirimu TERLUKA...
Anggaplah ujian ini sebagai ANUGERAH TERINDAH dari-NYA,
 karena DIA ingin senantiasa dekat denganmu...

Jakarta, 23 Dzulhijjah 1436 H
~abie sabiella~

#untuk jiwa yang terluka

Sabtu, 11 Mei 2013

From Failure To Hikmah (self talk & partnership Metode)




Sahabat, tak ada satu pun manusia yang menginginkan kegagalan, semua ingin sebaliknya. Tapi tak satupun manusia dapat menolak kegagalan, sebab ia hadir dalam setiap milio kehidupan. Kegagalan adalah ukuran-ukuran yang tak pernah baku takarannya. Setiap orang berbeda. Setiap zaman berbeda. Setiap tempat berbeda. Karenanya kegagalan selalu memilki makna yang berbeda…

Tak selamanya individu selalu baik dan benar tanpa membuat kesalahan, tanpa pernah mengalami kegagalan. Ada kalanya, individu berbuat salah atau keliru bersikap yang membuatnya terpuruk pada suatu keadaan dan akhirnya gagal dalam sebuah pencapaian.

 Jika individu mulai merasa terpuruk, waktunya menyemangati diri sendiri dengan mencoba  tehnik self talk . Inilah yang dilakukan banyak motivator muda dan aku pun mulai mencobanya melakukan seperti mereka  ketika aku down.

Ber-doa itu pasti, ketika kita sedang di rundung penderitaan cendrung lembaran – lembaran doa yang hendak kita munajadkan ke hadapan-Nya lebih banyak di banding saat kita sedang Happy.
Di samping doa, self talk menjadi  sebuah alternative untuk  mengatasi keterpurukan, namun kadangkala, berbicara kepada diri sendiri tak memberikan hasil positif. Tak sedikit orang yang justru menyalahkan diri sendiri, dan menambahkan beban diri saat kondisinya terpuruk. Untuk mengatasi hal  ini, kita tidak cukup hanya berbicara kepada diri sendiri saja tapi yang di maksud adalah berbicaralah dengan diri sendiri secara positif. Caranya, ganti kualitas pertanyaan kepada diri sendiri.

"Jangan tanya mengapa musibah ini terjadi, karena pertanyaan ini hanya akan memojokkan diri sendiri. Ganti pertanyaan ini dengan apa pelajaran positif yang bisa didapatkan dari musibah ini. Jangan pernah menanyakan mengapa, tetapi fokuslah pada pertanyaan (hikmah) , ada apa dari setiap masalah atau keterpurukan yang kita alami…”

Selanjutnya, mulailah melakukan sesuatu untuk memutus jeda saat mengalami keterpurukan. Tetaplah bergerak, berpikir dan memutuskan dengan cepat. "sebenarnya Jeda akan membuat diri semakin down,"namun meski begitu, bukan lantas bergerak cepat membuatmu (terkesan) terburu-buru mengambil langkah. Sehebat apapun kita, kita butuh seorang Penasehat, Supporter, atau minimal sahabat dekat sebagai teman bicara yang bisa kita jadikan sebagai control pergerakan kita agar tarus terarah. Jangankan aku, orang sukses saja punya orang kepercayaan atau mentor sebagai tempat meminta pertimbangan atau second opinion. Inilah gunanya partner dan setiap orang harus punya partner, tak terkecuali aku…

Self talk dan memiliki partner tempat berdiskusi, keseimbangan inilah yang membuat seseorang mampu bangkit dari keterpurukan, dari kegagalan atau memulihkan diri setelah melakukan kesalahan…

“Lupakan tentang konsekuensi dari kegagalan. Kegagalan hanya perubahan arah sementara untuk mengarahkan anda lurus ke arah kesuksesan anda” (Denis Waitley)

Kegagalan yang menyebabkan kita tahu penyebabnya adalah hikmah…
Kegagalan yang mengingatkan kita pada keterbatasan diri adalah hikmah…
Kegagalan yang menyadarkan kita tentang kerendahan hati adalah hikmah…
Kegagalan yang menuntun kita pada jalan kesuksesan adalah hikmah…
Kegagalan yang menyelamatkan kita dari keterlanjuran adalah hikmah…
Kegagalan yang mengingatkan kita pada Robbul Izzati,  adalah hikmah…, dan,
Dibalik kegagalan, selalu ada hikmah…

“Beda antara orang – orang sukses dan orang – orang lainnya bukan pada kurangnya kekuatan, juga bukan pada kurangnya pengetahuan tapi dari kurangnya kemauan” (Vince Lombardi)

Semoga aku dan kalian semua menjadi orang – orang yang pernah GAGAL namun mampu bangkit kembali, BUKAN orang – orang yang TAK pernah GAGAL karena tak pernah MENCOBA…

اللهم يسّر Ùˆ لا تعسر

Tebet City, 11 Mei 2013
Abie Sabiella

Senin, 28 Januari 2013

farewell

 
 
"Ketika aku tak lagi bersamamu, 
maka pahamilah jejakku..
 Karena mungkin, 
aku pernah menulis tentangmu 
pada tiap rinai hujan yang jatuh berderai 
di tepi jendelaku, dan mengeja namamu perlahan.."

_na_

Senin, 21 Januari 2013

Tetaplah saling bernasehat...

Nasehat yang indah dari Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku sendiri. Akupun tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya..

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wataala, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun dengan berkumpulnya Ilmu para ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.. Maka terus-meneruslah berada pada majelis-mejelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah mengampuni kalian.

Bisa jadi ada satu kata yang terdengar di sana dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”.

[Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 185]

Rabu, 09 Januari 2013

CURHAT..?




Kamu mau curhat..?

Di sini tempatnya,


Tempat curhat terbaik nyata dan benar hanyalah Allah Jalla wa ala...
hanya Dia yang takkan pergi saat kita belum selesai bercerita...
hanya Dia yang tetap mendengarkan meski kita sudah lelah bercerita...
hanya Dia yang tetap mendengarkan meski kita mengulang-ulang cerita kita...
hanya Dia yang takkan berpaling meski Dia tak suka cerita kita...


hanya Dia yang menenangkan jiwa saat kita terguncang, saat kita tak kuat menerima kenyataan dari keseluruhan isi cerita...


hanya Dia yang menguatkan dan memulihkan jiwa meski jiwa kita serasa telah hancur luluh berkeping-keping pada pertengahan cerita...


hanya Dia yang memberi jawaban saat kita sendiri tak tahu bagaimana akhir cerita kita...


hanya Dia yang rapat – rapat menyimpan cerita meski kita tak katakan padaNya bahwa "ini rahasia"...


Oh Allah...
syukur kami padaMu yang selalu ada dan dengarkan cerita kami terutama saat kami bersedih...

Kami kembali Ya Allah…

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku ( mengingat Allah), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan,'" (QS Thaahaa [20]: 124 – 126).

Bersama Gerimis Senja,

Jkt, 9 Jan 2012

abaZZaid

Rabu, 10 Oktober 2012

ESENSI DOSA



Dosa akan menghancurkan seorang hamba yang mana ia sangat membutuhkan keselamatan! Untuk itulah sangat pantas bagi orang yang mengetahui bahaya sebuah dosa, untuk menangis dan bertaubat, atau takut akan akibat yang ditimbulkanya.

 Dari Uqbah Ibn Amir RA berkata,” Aku bertanya kepada Rasullah tentang keselamatan.” Beliau pun menjawab, 

Jagalah lisanmu, menetaplah dirumahmu (tatkala terjadi fitnah atau kemungkaran merajalela), dan menangislah atas dosa-dosamu.[1]

 Abdurrahman Ibn Abdullah Ibn Mas`ud berkata bahwa Ayahnya berkata kepadanya, “Takutlah terhadap Tuhanmu, menetaplah dirumahmu, kuasailah lidahmu, dan menangislah dengan mengingat dosa-dosamu.”[2]

ãAlqomah Ibn Martsad berkisah, “Sifat zuhud bermuara pada delapan orang Tabi`in, salah satunya adalah al-Aswad Ibn Yazid. Dia adalah seorang yang tekun beribadah, dan berpuasa sampai-sampai wajahnya kelihatan menghijau dan menguning. Alqomah Ibn Qais bertanya kepadanya, “Untuk apakah penderitaan ini?” Ia menjawab, "Aku ingin mengistirahatkan jasad ini  (dari siksa akhirat), sesungguhnya akhirat membutuhkan kesungguhan."

Ketika sedang sakaratul maut ia menangis, maka ia ditanya: "Mengapa kamu takut?" ia menjawab: “Bagaimana aku tidak takut! Lalu siapakah yang berhak dariku akan hal itu?! Demi Allah, kalau sekiranya aku dianugerahi ampunan dari Allah AWJ, niscaya rasa malu akan menggelayutiku, akibat dari perbuatanku! Sesungguhnya seorang yang berbuat kesalahan kepada seseorang, lalu orang tersebut memaafkanya, maka laki-laki itu akan sesenantiasa merasa malu pada orang yang memaafkanya.”

ãMasma` Ibn Ashim bercerita, “Aku dan Abdul Aziz Ibn Sulaiman berangkat menemui Nasyirah Ibn Sa`id al-Hanafi, Dia selau menangis hingga matanya tak dapat melihat lagi. Kami meminta izin kepadanya dan iapun mengizinkan kami, lalu kami memasuki rumahnya. Abdul Aziz memberi salam kepadanya. Nasyarah berkata, “Abu Muhammad?” (bertanya untuk memastikan). Abdul Aziz, menjawab, “Iya benar.” Nasyirah bertanya, “Apakah tujuan anda datang kemari?” Abdul Aziz menjawab, “Kami datang untuk mendengarkanmu menangis, agar kami menangis bersamamu, atas dosa-dosa yang telah lampau.” Kemudian merekapun menangis ketika aku melihat air mata sudah membanjir, akupun memisahkan diri, lalu pergi keluar.”

Salamah Ibn Sa’id bercerita bahwa pada suatu hari Ziyad tertawa sehingga suaranya terdengar melengking.” Lalu ia berucap, “Astaghfirullah!” dan iapun menangis dengan sangat keras. Setelah majlis tersebut bubar, teman-temanya berkata, “Kami tidak pernah melihat -semoga Allah memberi kemashalatan kepada tuan- suatu tangisan akibat dari tertawa, secepat tangisanmu yang kemarin!” Ziyad berkata, “Demi Allah, sesungguhnya pada saat itu aku terkenang suatu dosa yang pernah aku perbuat, dan aku sangat menikmatinya!, tapi kemudian aku mengingatnya maka akupun menangis karena takut akan akibat buruknya,” lalu iapun menagis lagi.”

Muhammad Ibn Rayyah Al-Qaisiy -seorang kerabat Rayyah al-Qaisiy. Berkata, “Tatkala aku masuk masjid, aku mendapati Rayyah menangis. Ketika aku memasuki rumahnya ia dalam keadaan menangis dan ketika aku menemuinya di padang pasir, diapun menangis. Maka pada suatu kali aku bertanya kepadanya, “Apakah sepanjang waaktumu hanya untuk bersedih,?!” Rayyah pun menangis, lalu berkata, “Ini adalah sesuatu yang sangat pantas dilakukan oleh orang-orang yang berbuat dosa dan tertimpa kesusahan (akibat maksiat).”

Musa Ibn Isa al-Absi menuturkan, “Hudzaifah al-Mar`asyi memandangi seorang laki-laki yang sedang menangis. Hudzaifah bertanya, “Apakah gerangan yang menyebabkanmu menangis, wahai pemuda?!”

“Aku terkenang dosa-dosaku yang telah aku perbuat.” Jawab pemuda tersebut Kemudian Hudzaifiah ikut menangis, lalu berguman, “Benar! Wahai saudaraku! Untuk perbuatan dosalah kita patut menangis.”

Abdullah Ibn Musa al-Absi bercerita, “Pada suatu hari kami berada (dimajlis) al-Hasan Ibn Shalih. Dia menyebutkan suatu perkara yang kemudian membuat hati terenyuh. Maka menangislah salah seorang jama'ah dan suaranya pun meninggi dan tangisanya semakin melengkung. Lantas ada seorang berkata, “Benar, wahai saudaraku! Menagislah seperti ini atas apa yang menimpa dirimu (dari dosa). Tidak akan ada kebaikan bagi orang yang tidak menyayangi dirinya sendiri?! Ubaidullah berkata, “Setelah peristiwa itu, aku sering mendengar al-Hasan mengulang-ulang kalimat, “Tidak akan pernah memperoleh kebaikan, orang yang tidak menyayangi diriya?!”

Qais Ibn Sulaim al-Anbariy berkata, “Tersebutlah bahwa adh-Dhahhak Ibn Muzahim menangis apabila senja menjelang. Diapun ditanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan anda menangis.” Adh-Dhahhak menjawab, ‘Aku tidak tahu, amalanku yang mana (yang baik atau yang buruk) yang diangkat pada hari ini`.”

Zuhair Ibn Nu`aim as-Saluliy menuturkan, “Tersebutlah seorang laki-laki dari kabilah bal`anbar yang gemar menangis. Anda tidak akan pernah mendapatinya berhenti menangis. (hal ini) menyebabkan salah seorang dari kaumnya menegur apa yang ia perbuat seraya berkata, “Mengapa engkau menangis berkepanjangan seperti ini, semoga Allah merahmatimu,?” pemuda itu kembali menangis, kemudian bersenandung,”

Aku menangisi dosa-dosaku yang begitu besar
Memang para pendosa lebih pantas untuk menangis
Andaikata tangisan itu dapat menolak kegalaunku
Niscaya darah akan menyertai air mata kebahagiaan.

Abu Mihraz menuturkan bahwa Abu Imran al-Jauniy pernah berkata, “menangislah, maka kamu akan selamat.”

Thalhah Ibn Musharrif bercerita, “Ada seorang orang yang pernah melakukan banyak dosa. Setiap kali ia mengingat dosa-dosanya iapun menangis. Maka salah satu budaknya berkata, “Jika demikian cara anda menyesali dosa (yaitu menangis terus menerus) niscaya suatu saat nanti saya akan menuntun andaa yang menjadi buta (karena keseringan menangis)."

Sa`id Ibn Abdurrahman an-Nashibiy berkata, “Abu Sulaiman al-Labban adalah seorang yang menghabiskan sebagian besaar waktunya dengan menangis. Pada suatu hari aku mendengar dia berguman, dan perkataan yang paling sering ia ulang-ulang adalah, “Tangisilah dosa-dosa (yang telah anda perbuat) sebelum datang hari penyesalan, kosongkanlah hati, kecuali dengan kesibukan untuk menghitung dosa!!” Diapun menangis sambil berkata, “Kami mendapati Allah sebagai Penolong Yang Maha Mulia bagi hamba yang sangat keji!!
Muhammad Ibn al-Husain bertutur, “Pada pertengahan malam, aku mendengar Abu Ja’far al-Qori` menangis, sembari bersyair, “

Bersungguh-sungguhlah dalam menangisi dosa-dosamu sepanjang masa Karena tangisan itu pegangan orang-orang yang sedih
Kenanglah selalu dosamu sepanjang hari
Karena dosa-dosa itu selalu mengeliingi setiap insan.’

Lalu dia menangis sangat keras sekali. Dan iapun terus mengulang-ulang syair tersebut.”

Bahr Abu Yahya berkata, “Aku mendengar salah seorang ahli ibadah mengatakan, “Menangislah! Bagi siapa saja yang mengetahui bahwa dia tidak akan selamat, melainkan dengan terus bersedih dan menangis.” Lalu ia bersenandung, “

Barangsiapa mengalirkan air matanya karena dunia,
(Ketahuilah) sesungguhnya kami mengucurkan air mata karena menangis sebagai pengakuan atas dosa-dosa kami.

Ibnu Hayyan menuturkan, “Aku telah mendengar Shalih al-Mirriy mengucapkan, “Jika anda tidak menangis atas dosa-dosa anda maka siapakah yang akan menangisi dosa-dosa itu sepeninggal anda?!” Lalu Shalih pun menangis dan berkata lagi, “Wahai saudara-saudaraku! Menangislah atas dosa-dosa! Sesungguhnya dosa-dosa itu jika telah mengotori hati, hingga hati itu tertutupi, maka tak satupun dari petuah-petuah yang akan melekat dihati.”

Imam Ibn al-Faradhi bersenandung, menyeru kepada Allah , “

Seorang tawanan dosa-dosa berdiri mengharap di depan gerbang-Mu
Dengan perasaan takut dan cemas atas segala sesuatu (dosa) yang Engkau lebih mengetahuinya.
Dia takut atas dosa-dosanya yang tidak akan hilang dari pantauan-Mu.
Dia megharapkan ampunan-Mu dengan penuh harap dan cemas.
Siapakah tempat berharap dan takut selai diri-Mu
Yang tidak akan pernah keliru dalam memutuskan hukuman.
Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau membuatku bersedih dengan catatan-catatanku.
Pada hari perhitungan, di saat lembaran-lembaran amal dihamparan (dibuka).

‘Athiyah al-Aufi berkata, “Telah sampai padaku sebuah riwayat bahwa barangsiap menangis atas kesalahan-kesalahannya, maka itu akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”

Malik Ibn Dinar berkata, “Menangis atas dosa-dosa, itu akan menghapuskannya, seperti angin yang menerbangkan dedaunan yang kering!”



[1] HR. Turmudzi, ia berkata,” Hadist Hasan” dan dinisbatkan oleh Al-Abani.
[2] HR. Ibnu Majah

Sumber : el Data