Selasa, 15 November 2011

~ Untuk sebuah nama ~

Sebuah nama yang membuatku tak berdaya, memiliki berjuta peng-arti-an. Manis, sedap dipandang, menyenangkan ketika bersamanya dan terasa kehilangan saat ia pergi , kerinduan merajai jiwa saat ia tak ada.

Sesuatu yang mungkin sulit  tuk di gapai bagi seorang seperti aku ini…

Hari ini, malam ini, ditemani alunan nyanyian alam dan dinginnya hembusan angin malam ini, kucoba mengurai benang – benang hatiku yang kusut dan kusam…


Kehadirannya dalam hidupku  membuat mood-ku “jungkir balik”. Kadang senang, namun saat bersamaan ilusinya mampu membuatku jatuh kedasar mood-ku yang paling dalam dan curam. Tingkah lakunya membuatku berpikir lebih keras daripada saat mengerjakan tugas – tugas harianku. Sifatnya lebih rumit untuk dipahami daripada memahami flow chart sistem informasi akuntansi yang membingungkan.

Kehadirannya membuat aku sering bangun tengah malam tanpa alasan. Gundah, resah, cemas, takut, was – was senantiasa menghantui detik demi detik kehidupanku…

Dia begitu luar biasa di mataku, cerdas, lembut, tapi begitu sederhana, Sesaat bersamanya  membawaku kedalam sebuah keinginan yang tampaknya harus kuperjuangkan. Yach…, baru sebuah keinginan…!

Dia benar-benar smart…! Dia mampu  membuatku mencapai klimaks kekagumanku padanya. Dia mampu membuat  seseorang yang tak pernah punya harapan menjadi sosok yang tiba – tiba punya cita – cita tentang masa depan, ia membuat   pola fiikirku menghindari logika dikepalaku, tetapi sanggup menyentuh  perasaanku yang sensitf terhadap sebuah cinta.

 Kehadirannya  pun, dikehidupanku akhir-akhir ini seakan-akan mengajariku lagi bahwa sebuah cinta memerlukan sebuah perjuangan ekstra keras, tak mengenal lelah,  Seraya mengajariku lagi bagaimana merasakan sebuah kekecewaan, merasakan kembali kegundahan yang merajalela dalam gundukan hati, dan merasakan duri dalam tiap kunyahan nasi disarapan pagiku yang tak lagi asin ataupun manis.

Malam ini jadi saksi atas ketidakberdayaanku , tak berdaya akibat terkuasainya logika oleh rasa yang telah tertutup pekatnya kabut cinta buta…[ masya Allah…].

 Hatiku luka, hancur  berkeping berlumuran, wajahku tak lagi sumringah , semangatku menipis bak lapisan ozon dengan efek rumah kaca-nya. Aku kembali lagi pada kehidupan  nyata, kehidupan  sarat dengan rutinitas harian yang itu – itu ajah…


Aku menyerah…!!! Biarlah rasa ini kupendam dalam-dalam agar baunya tak menyengat hatiku yang sedang lemah ini. Biarlah kesengsaraan ini kurasakan agar hatiku ini ter-inject sistem imun dan hatiku dipenuhi anti bodi terhadap kejamnya virus cinta.

Semoga disaat tidurnya, malaikat akan datang dan membisikkan cintaku padanya agar ia tahu cintaku seindah wahyu dan seajaib mukjizat untuknya. Dan saat ia terbangun dari bisikan itu, ia akan menyadari bahwa cintaku sudah melebur menjadi sebuah mozaik dan hanya dia yang mampu menyatukan kembali semua itu. Satu demi satu dengan senyum dan tawanya.

Tetapi hati ini masih linu, ngilu..., Ingin rasaku mencapai cintanya, namun apa daya tangan tak sampai. Aku bagai pungguk yang merindukan bulan. Aku seperti jauh dari bayangan cintaku. Aku seperti berputar-putar dalam sebuah lingkar labirin, bingung mencari jalan keluar untuk menemukan cintaku. Aku terbentur semua teori yang ada dikepalaku.

Teori yang membawaku pada sebuah asumsi. Namun asumsi-asumsi ini seperti sebuah postulat yang harus aku terima tanpa sebuah aksioma (pembuktian) yang konkret.

Aku selalu ingin mendeskripsikan isi hatiku ini padanya, agar ia lebih mudah memahami rasa yang ada dihatiku ini. Akan kugambarkan isi hatiku pada sebuah bingkai dengan berbagai warna, agar ia mengerti bahwa hatiku adalah sebuah pantulan yang menyinarkan beragam pengharapan padanya. Akan kususun sebait kata puitis, agar aku bisa melihat siluet senyum indahnya di bola mataku.

Namun semua itu hanya sebuah pengharapan yang berujung pada sebuah jawaban. Jawaban yang sudah kuketahui sejak awal. Tapi aku coba menampiknya, karena aku percaya aku adalah bukan  seseorang yang ia harapkan.

Aku hanya Seorang  pengharap yang mencoba   memperjuangkan cintaku,  meski  aku tahu itu mustahil, meski aku pun sadar bahwa yang kulakukan ini seperti mencari batu es di padang pasir.

Dan biarlah semua berujung padanya, biarlah ia terlena, biarlah ia terdiam, biarlah ia membenci. Namun  aku disini menunggunya  untuk menjadikannya teman sejati…


Lembah Penantian Abadi, Senin - 18102010

“abie sabiella”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar