Sabtu, 24 Desember 2011

Karena kau...

Bismillah…

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi penantianku di waktu dulu, hingga sampai detik inipun. Keindahan maknanya masih terasa. Sebab kamu hadir setelah do’a dan ikhtiar panjang nan melelahkan yang kulakukan. Dan untuk kesekian kalinya. Kau memberi banyak sekali arti bagi diri. Arti yang sangat rumit untuk kuterjemahkan.

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi tentang cinta di waktu sekarangku, hingga sampai kapanpun, do’aku adalah kau tetap menjadi yang terindah di hati, yang termanis dalam perjalanan panjang cinta kita. Dalam tiap debar hangat karena sakinah yang terlahir dalam kebersamaan. Ungkapan tentang semangat memperbaiki diri dalam mawaddah dan rahmah yang kita usahakan bersama. Sampai kapanpun, aku ingin kita seperti itu. Seperti puisi-puisi nan menggairahkan yang telah kita sempurnakan bersama.

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi tentang rindu diwaktu yang akan datangku, hingga kupatrikan janji, kusempurnakan laku, dan kuperkayakan kemampuan untuk memilikimu. Sebab bersamamu adalah sebuah penyesuaian terbaik yang pernah kulakukan. Kamu tak tahu bukan? bahwa sampai saat ini aku suka diam-diam mengagumimu, tanpa sepengetahuanmu, kau telah menjadi semacam pembius bagi hati untuk tak hentinya bersyukur telah memilikimu.

Maka kamu menjadi begitu cukup untuk aku dalam cerita tentang kita dimasa yang akan datang. Sebab bagiku sekarang, kamu telah menyempurnakan aku, dalam banyaknya khilafku.

Untuk itu cinta.. Kau telah purna dihadapanku. Kau telah menghapus semua ragu yang sempat menggerogoti jiwa ketika kelegaan itu masih belum terasa. Malam ini, dalam jihadmu menjadi seorang Ibu, kamu memberi bakti purna untukku. Untuk seseorang yang dulu tak begitu dikenal olehmu, tapi kamu tekadkan jiwamu untuk memilikiku. Malam ini cinta.. Dalam jihadmu menjadi seorang Ibu, kamu membuatku jatuh cinta berkali-kali lipat dari sebelumnya. Perasaan terbaik yang pernah kurasa, satu saja alasannya.. “Karena memilikimu..”

“Love is life. All, everything that I understand, I understand only because I love” (Leo Tolstoy)

Taipei, 20 November 2011

~ Yusuf Al Bahi ~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar