Minggu, 08 Januari 2012

Perempuan yang Masih Ingin Berani Memulai Mimpi

 

Aku mengenalnya lewat dunia maya di situs jejaring social bernama facebook ( baca : fesbuk ) melalui tulisan – tulisannya yang sangat kreatif dinamis dan edukatif, ia selalu ceria pembawaannya sekalipun banyak masalah sebenarnya yang ia harus hadapi.

Kehidupannya penuh dengan warna dan cerita, tak banyak orang yang mampu memahaminya karena ia tak pernah menampakkan kegelisahannya. 


Kesedihannya selalu di tutupi dengan senyumnya yang selalu ceria. Dan ia adalah motivator bagi teman - temannya. Ia adalah wanita hebat yang pernah aku kenal.

Perempuan ini kini tidak terlalu berharap apa pun, hatta sekedar bermimpi sekalipun,bukan sebuah kepesimisan yang  pelan-pelan, kemudian bertambah cepat, dan makin cepat sedang membunuh jiwanya. Tapi, dia hanya berusaha menyesuaikan dirinya, menyadari dirinya akan sebuah realitas hidup  yang harus di hadapinya.

Ia tidak lagi sanggup bermimpi, bermimpi membangun mahligai rumah tangga yang Islami dengan seorang laki – laki sholeh pendamping hidupnya. Padahal, sejak kelas tiga SMU, atau tepatnya tujuh  tahun yang lalu, impian itu menjadi salah satu poin besar rancangan hidupnya. 

Bukan karena dirinya tidak cantik, bukan juga karena ia memiliki keterbelakangan mental, karena ia adalah salah satu wanita cerdas di negri ini. atau apa pun itu, yang kemungkinan besarnya akan membuat seorang laki-laki harus berpikir keras untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Bukan, bukan itu…

Tapi karena kondisi tubuhnya yang  terjangkiti sebuah penyakit, tepatnya ia terkena  ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) 'Idiopathic'berarti 'tidak diketahui penyebabnya'.'Thrombocytopenic' berarti 'darah yang tidak cukup memiliki sel darah merah (trombosit). 'Purpura' berarti seseorang memiliki luka memar yang banyak (berlebihan). Seseorang yang menderita ITP, dalam tubuhnya membentuk antibodi yang mampu menghancurkan sel-sel darah merahnya. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh yang sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi untuk penderita ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel darah merah tubuhnya sendiri.

Dalam tubuh seseorang yang menderita ITP, sel-sel darahnya kecuali sel darah merah berada dalam jumlah yang normal. Sel darah merah (Platelets) adalah sel-sel sangat kecil yang menutupi area tubuh paska luka atau akibat teriris/terpotong dan kemudian membentuk bekuan darah. Seseorang dengan sel darah merah yang terlalu sedikit dalam tubuhnya akan sangat mudah mengalami luka memar dan bahkan mengalami perdarahan dalam periode cukup lama setelah mengalami trauma luka. Kadang bintik-bintik kecil merah (disebut Petechiae) muncul pula pada permukaan kulitnya. Jika jumlah sel darah merah ini sangat rendah, penderita ITP bisa juga mengalami mimisan yang sukar berhenti, atau mengalami perdarahan dalam organ ususnya. Dan dalam kondisi seperti inilah perempuan ini berusaha menjalani sisa – sisa hidupnya dengan sebuah ketegaran dan kesabaran yang luar biasa.

Bibirnya tak pernah lepas dari Dzikir dan Doa, kesabarannya menjalani ujian Allah telah terbukti beberapa  kali, setidaknya dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir ini ia telah mengalami dua kali pendarahan yang cukup hebat. 

Dan lagi – lagi ketegarannya mampu menumbuhkan semangat hidupnya, kepasrahannya semakin menguatkan keimanannya, ketergantungannya kepada Allah Subhanahu wa ta’la makin ia kuatkan di sela – sela rintihan dan erangan akibat menahan sakitnya yang sedang menggerogoti tubuhnya.

Kenyataan pahit beberapa kali ia  rasakan berkaitan dengan jodoh yang dulu pernah ia idamkan. Beberapa kali ta’aruf ia jalani dan sejumlah itu pula kandas justru dengan sebuah “kejujuran”. Kejujuranya akan kondisi tubuhnya yang tengah di gerogoti ITP yang ia sendiri tak pernah tahu kapan kesembuhan itu ia dapatkan.
Realitas inilah yang menyebabkan dirinya tak sanggup lagi berkeinginan berumah tangga, bahkan untuk sekadar bermimpi sekalipun.

Kita semua pasti setuju, bahwa jika seseorang akan menikah, maka ia harus menyiapkan mental, fisik, materi, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan perempuan ini. Ia, harus menambah tuntutan tersebut dengan satu persiapan lagi. Yaitu bekal untuk menghadapNya di akhirat nanti. Memang, bukan hanya perempuan ini saja yang harus menyiapkan bekal ke akhirat dengan sebaik mungkin. Melainkan setiap kita. Tapi, bagi perempuan ini, persiapan bekal akhirat menjadi sesuatu yang wajib adanya. Sebab, ketika ia memutuskan untuk menikah, nyawanyalah yang akan dipertaruhkan,  benarkah..? Ya, benar… 

Karena setelah sebuah pernikahan mampu di laksanakan, maka roda rumah tangga mulai bergerak, bergulir, berputar dan berjalanlah ia seiring dengan bergulirnya sang waktu, dan di dalam “ khafilah rumah tangga” inilah perubahan demi perubahan biasanya terjadi dan tak terkecuali perubahan pada fisik seorang istri yang telah sekian lama bergaul dengan suami dan lingkungannya, dan pada akhirnya kelelahan fisikpun berangsur mulai terasa dan tidak menutup kemungkinan pertemuan dengan sang ajal pun segera kunjung tiba.

Kematian bukan sesuatu yang ia takutkan, bukan berarti pula menjadi sesuatu yang pantas kita abaikan, justru bukan itu yang ia takutkan.

Yang ia takutkan hanyalah, apabila sepeninggalnya nanti, orang-orang yang dicintainya justru tidak kuasa menghadapi cobaan ini. Tidak sanggup mengikhlaskan semua ini.

Yang perempuan ini takutkan pula, jika kedua orang tua yang begitu dikasihinya, tidak lagi kuat menahan kesedihannya akibat pupusnya keinginan mereka untuk melihatnya dalam sebuah akad pernikahan dan kemudian melahirkan cucu – cucu mereka.

Tidak. Ia tidak sanggup melihat mata kedua orang tuanya semakin sembab setiap pagi, akibat sepertiga malam terakhirnya, sajadah mereka selalu di banjiri air mata mereka seiring doa pengharapan agar keridhaan-Nya masih tetap terselip bagi keluarga perempuan ini.
***
Akhirnya, seiring berjalannya waktu, perempuan ini kini mencoba berharap kembali padaNya. Mencoba untuk berani memulai mimpinya yang sempat menguap begitu saja. Ia masih ingin, ingin sekali membangun rumah tangga Islami yang dulu pernah didambakannya dengan seorang laki-laki sholeh, yang lebih kuat keimanannya dari pada dirinya. Meskipun, ia juga sangat  menyadari, kondisinya masih saja tidak semudah yang ia bayangkan. Ia hanya ingin memasrahkan segalanya padaNya, apa pun itu keputusanNya. 
Hingga akhirnya, beruntunglah ia masih berani menyimpan sebuah doa, yang selalu ia panjatkan sebelum tidur malamnya, "Allah, jika engkau tidak memperkenankan aku bertemu pendamping hidupku di dunia ini, berikanlah ganjaran yang terbaik di sisiMu kelak..."

Alhamdulillah. Sejak itu, sang perempuan hebat ini menjadi lebih kuat dari kehidupan sebelumnya. Karena ia percaya, segala sesuatu pasti ada batasnya, ada akhirnya. Karena ia percaya, air mata tak abadi, akan hilang dan berganti. Pun ia percaya, semakin besar ujian seseorang, semakin besar pahala yang akan didapatkan jika keikhlasan menjadi perisainya. 

Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[ Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238, Darul Muayyad, cetakan pertama, tahun 1424 H.]

 Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

Apalagi ia juga semakin yakin bersama kesulitan, ada kemudahan.... Seperti sekarang ini. Ia sangat mendambakan sekali sebuah pernikahan, tapi… betapa sulitnya menemukan seorang lelaki baik yang sekaligus mampu memahami dan menerima kondisi tubunya. Tapi ia meyakini betul bahwa kesulitan yang ia alami saat ini adalah awal dari Nikmat Allah yang akan ia terima di kemudian hari, sebagaimana dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

Yang para ulama menafsiri ayat tersebut di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.[ Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qodir, 8/22, Mawqi’ At Tafasir.]
Alhamdulillah…ia kini diberiNya kemudahan untuk menjadi seorang muslimah yang benar-benar Islam. Mampu berserah diri padaNya setulus-tulusnya...
Alhamdulillah…, Allah Subhanahu wata’ala memberika karunia padanya sahabat – sahabat yang selalu Care dan sayang yang selalu memberikan support padanya di saat – saat kritis maupun di masa – masa senang.
Hidup adalah perjalanan menuju kematian. Susah dan senang silih berganti, Nikmat dan musibah saling bersahutan menyapa setiap insan. butuh kesabaran dan pengetahuan untuk menyikapinya agar semuanya menjadi pahala dan bekal setelah kematian.

Allah ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)

Barakallahufikum…


لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

"Tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih insya Allah.”

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ. 

“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan yg menguasai arasy yang agung agar menyembuhkan penyakitmu”

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


 Abie Sabiella
Jkt, 9 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar