Selasa, 17 Januari 2012

Sebuah Pengakuan...


Mengakui, merobohkan kuatnya beban hati.
Mengakui, mengikis kerak air mata yang tersimpan bertahun- tahun.
Mengakui, membawa gemilang hidup baru yang lebih melegakan.
Mengakui, mendamaikan.
Sebuah pengakuan, sangat meringankan.

Disebuah sudut ruangan, terlihatlah seorang wanita yang sangat terkulai lemas. Badannya mengurus dan kelopak matanya terlihat semakin hitam. Siapapun yang melihat, pastilah setuju bahwa  kondisinya terlihat begitu mengenaskan.

Pandangannya kosong menatap jendela di luar, sama sekali tidak nampak sebuah kebahagiaan selain air mata yang selalu menetes, bahkan tanpa sama sekali di rasanya. Penampilannya terlihat lusuh, sepertinya dia benar- benar kehilangan gairah untuk terus hidup.

Betapa tidak, sebuah kanker rahim telah menemani hari- harinya kini. Dan dokter telah menegaskan kepadanya, bahwa untuk menyelamatkan hidupnya, tiada jalan lain kecuali rahim miliknya harus diangkat.

Terbayanglah seketika, bahwa selamanya dia tidak akan pernah memiliki keturunan. Dia akan menjadi sangat terendahkan dengan sebutan bukan hanya sebagai wanita mandul, namun wanita yang benar- benar tidak sempurna.

Terngiang juga dikepalanya tentang sebuah pertanyaan, Lalu bagaimana dengan suaminya, mungkinkah sang suami akan meninggalkannnya dan memilih untuk bersama wanita lain yang akan memberinya keturunan?. Selain itu pertanyaan tentang perceraian pun ikut berkecamuk menyerang batinnya. mungkinkah pernikahan yang baru 3 tahun dijalaninya ini, akan berakhir dengan kata cerai?. Semua kenyataan yang terasa seperti mimpi itu, semakin menambah berat batinnya.

Tak lama setelah itu,  terdengar ketok pintu, dan seorang laki- laki melangkah masuk dengan terburu- buru.  Laki- laki itu adalah sang suami yang baru saja kembali dari luar kota.

Begitu sangat sedihnya, ketika beliau menghadapi kenyataan saat melihat kondisi istrinya, yang hampir- hampir hilang kesadaran jiwanya. Sang suami bertanya, " mama kenapa?".

Pertanyaan itu seolah membuyarkan pandangan kosong sang istri dan berbalik dengan pandangan sedih tepat ke arah wajah suaminya. Tanpa di mengerti oleh sang suami, seketika itu pula meledaklah tangis sang istri. Seakan dia meronta dan menahan beban yang selama ini dia pendam, hanya sendiri.

"Papa sudah tahu apa yang mama alami...?

"Mama jangan khawatir, Allah pasti selalu memberi yang terbaik untuk para hambanya, termasuk mama".

Kalimat bijak dan mendamaikan tersebut mengalir halus dari mulut sang suami. Namun anehnya, hal tersebut tidak sama sekali meredakan tangisnya, bahkan semakin menjadi. Dengan tanpa alasan, sang istri kemudian bersimpuh dan lalu mencium kaki sang suami seraya berkata ;

" Mama minta maaf, pa, ini semua salah mama. Mama khilaf pa, mama bejat. Mungkin ini akibat dari dosa mama, mama sudah tidak jujur dengan papa, sebelum kita menikah. Mama dulu pernah beberapa kali menggugurkan kandungan. Mama bejat, pa. Sekarang mungkin Allah ingin menghukum mama dengan mengambil rahim mama. Maafkan mama, pa. Maafkan mama"

Bagai disambar petir, kata- kata itu terasa menyobek ulu hati sang suami, sampai- sampai dia tidak sanggup menggerakkan badannya.Ya, sebuah pengakuan dari istrinya tercinta, tentang gelapnya masa lalu dan kekhilafan yang telah dilakukan.

 Pikirannya pun kalut seketika itu, dan bahkan beliau tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Beliau bahkan berharap seakan hal itu hanyalah mimpi buruk yang secepatnya dia ingin tersadar darinya. Rasa kesadaran atas harga diri seorang pemimpin keluarga yang telah di bohongi dan ditipu oleh pasangan hidupnya sendiri, juga ikut menyeruak dan menggugah jiwanya sebagai laki- laki.

Namun....
Setelah beberapa hari berlalu, sang suami mencoba kembali menilik keadaan istrinya yang semakin hari semakin memburuk. Tinggal beberapa hari lagi, rahimnya akan diangkat. Ingin rasanya kedua tangannya merengkuh kembali sang istri yang tengah bersedih dan membawanya kedalam pelukannya. Namun, rasa marah, sesal, kecewa dan banyak lagi, seakan tetap mengunci geraknya untuk tetap berada disana saja.
Tapi entah dari mana kekuatan itu, tiba- tiba tergeraklah tangan untuk membelai kepala sang istri seraya beliau berkata,

" Ma, Pernikahan memang membutuhkan anak- anak agar kita merasa bahagia didalamnya. Pernikahan memang salah satunya bertujuan mendapatkan keturunan.

Dan jujur, papa memang sangat mendambakannya. Dan jujur, papa memang sangat terluka dengan apa yang telah mama jujurkan beberapa hari yang lalu. Namun kasih sayang mama selama ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah ucapan maaf. Dan perlakuan yang mama berikan kepada papa, sudah cukup papa nilai sebagai usaha tobat mama atas berbagai dosa. Papa terima maaf mama, kekurangan dan kelebihan mama, karena tidak ada yang lebih indah dari sebuah kasih sayang yang telah mama berikan kepada papa, dan mungkin dengan penerimaan maaf yang mama mohonkan kepada papa, itu bisa membalas sedikit harga dari semua itu. Walaupun baru hanya sedikit."

Kembali, meledaklah tangis sang istri yang seketika berhamburan kedalam pelukan suaminya. Tak pernah disangkanya sama sekali tentang pengampunan yang begitu besar dari seorang suami yang sangat disayanginya. Semua pemikirannya tentang bagaimana kelanjutan hidup bagi dirinya kedepan seakan lebih terang bagi dirinya. Tak pernah disangkanya bahwa pengakuan dari sesuatu yang begitu menyesakkan dan menghimpit dadanya, kini telah terangkat karena luasnya hati seseorang yang sangat dicintainya. Ucap syukur kepada allah yang dia lantunkan berkali- kali, seakan tak bisa mengganti rasa terima kasih yang terpanjat kepada Nya.

Dan dalam dekapan hangat itu, memang sempatlah terbersit dalam pikiran sang suami....
Bahwa nasehat yang beliau ucapkan memang terdengar sangat mulia dan mendamaikan, walau ada sudut dalam hatinya sendiri yang memaki tentang kemampuannya untuk tetap melanjutkan pernikahan dan misi mulia memaafkan dan merangkul istrinya kembali.

Beliau kemudian tersenyum dan menjawab balik kepada dirinya sendiri, bahwa pernikahannya memang tidaklah biasa, dan jalan yang dia tempuh juga memang bukanlah hal yang biasa untuk dilewati. Namun bukankah Allah sudah terbiasa dan senantiasa mengasihi hambanya yang memaafkan dan bertaubat kembali ke jalannya? dan bukankah memaafkan itu melegakan bagi penerimanya dan memuliakan bagi sang pemberi..? [] (Syahidah/Voa-islam.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar