Jumat, 20 Januari 2012

Untukmu Wahai Buah Hatiku…

Hening malam disertai rintik-rintik hujan
Membuat hati ini beku dikala rindu datang menawan
Secercah harapan yang tersimpan dalam rapuhnya angan-angan
Hadirkan duka penuh derita terhimpit rindu dalam kesendirian

Di sini jiwa ini termangu biru
Menyendiri dalam hampa dirundung rindu
Cinta yang selalu setia kutunggu disetiap putaran waktu
Hingga kini tiada berlabuh menghapus sepiku

Andai jiwa ini mampu berlari
Andai angan ini mampu mengejar mimpi
Mungkin rasa rindu yang tiada henti menyelimuti
Akan segera terobati …

Aku masih terkungkung dalam dilema sepi di tengah hiruk – pikuk keramaian kota tua ini. Malam semakin larut, tergolek tak berdaya dua sosok tubuh kecil mungil yang hanya berbalut singlet yang lusuh dan telah kusam terlelap dalam heningnya malam. Aku terdiam menatap wajah dan tubuh mereka yang masih lugu dan polos. 

Tentu, karena mereka masih anak – anak. Belum jelas di mata mereka, gambaran tentang perjalanan hidup yang panjang serta berliku ini…Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan mu nak…:)


Ada sebuah tanya dalam benakku, kemanakah mereka akan melangkah kelak…
Masih kuatkah tubuh yang makin rapuh ini mendampinginya dalam setiap waktu…

Semoga kelak engkau mampu menghadapi ujian dan mampu menahan beban beratnya kehidupan berliku ini…?

Dalam diam dan hening itulah aku teringat akan sebuah kisah tentang Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullahu-. Sebuah kisah yang menunjukkan akan hausnya seorang anak akan ilmu serta dukungan yang kuat dari sang ibunda. Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini disebabkan dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan kecil mengambil manfaat dan pelajaran dari para ulama, baik berupa ilmu maupun pelajaran yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!” (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)

Tak jauh beda dengan kisah ibunda Al-Imam Malik ibnu Anas –rahimahullahu-, beliau selalu memperhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.
’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku.
‘Pakailah pakaian ilmu!’

Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal. 39)
Subhanallah…

Perjuangan seorang ibunda yang ingin anak – anaknya menjadi berilmu…
Perjuangan seorang ibunda yang ingin putra – putri mereka menjadi penyejuk pandang…
Teringat dalam sebuah buku, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا
“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (dikutip dari kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Betapa bahagianya semangat sang anak di barengi dengan kesungguhan orang tuanya.

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki kesungguhannya. Akankah ini kita biarkan…?

Mari belajar  yang sungguh – sungguh buah hatiku…
Belajarlah bersama Ayah, bersama teman – teman, bersama kaum muslimin…
Agar ayah bundamu senang…agar pandangan mereka tenang…agar jalanmu terang…

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga telah menggariskan bahwa kita hidup di zaman penuh fitnah dan coba…beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salla berucap:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676. Ash-Shahihah no. 937)

Belajarlah Y nak…
Agar kita mampu, menggigit  cahaya itu…
Cahaya sunnah…
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Yaitu apa – apa yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku. (HR. At-Tirmidzi 2641, Ath-Thabarani I/256. Ash-Shahihah 203, 204)

Semoga kita mampu menjalani kehidupan yang berliku ini di tas bimbingan ilmu dan selamat hingga ke hadirad Rabbul Izzati wal Jalaalah …

Dan untukmu wahai orang tua, semoga kita sama – sama mengetahui bahwa mengajarkan kebaikan pada anak ibaratnya adalah mengukir di atas batu…sulit, namun masih bisa untuk dilakukan, dan meninggalkan bekas yang tak pernah hilang.

Namun jika mengajarkan kebaikan ketika seseorang itu telah dewasa, maka itu ibarat mengukir di atas air, mudah namun mudah pula hilangnya.

Barakallahufikum…

Abie Sabiella
Jkt, 21 Jan 2012
_____________________________________________
Terilhami dari tulisan al akh  Abu ‘Abdirrazzaq al Fitrah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar