Minggu, 19 Februari 2012

Meniti jalan meraih kecintaan Allah Subhanahu wa ta'ala

Point Penting dari Dauroh Bersama Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr di Masjid Istiqlal 19 Feb. 2012 Jakarta.
 


Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Jujurnya orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan kecintaan dan ridha-Nya serta dimasukkan ke surga-Nya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaannya, dalam semua perkataan dan perbuatannya, pada persoalan pokok agama dan cabang-cabangnya, dalam batin dan dzahirnya. Maka siapa yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu menunjukkan benarnya pengakuan cinta kepada Allah Ta'ala.


Dari Abu Hurairah Radhiallahu'an., katanya: “Rasulullah shalallahualaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis Qudsi: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahawa ia akan Kuperangi – Kumusuhi. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi.” (Riwayat Imam Bukhari)



 Rasulullah shalallahualaihi wassalam bersabda:
 “Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril untuk memberitahu bahawa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu (hai Jibril) si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang kepada seluruh penghuni langit memberitahu bahawa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua (hai penghuni-penghuni langit) si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah penerimaan baginya (yang dimaksudkan ialah kecintaan padanya) di kalangan penghuni bumi.” (Muttafaq ‘alaih)



 Dari Anas bin Malik dari Nabi Shhalallahualaihi wassalam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:  Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”. (HR. Bukhari:15)

Diantara point - point penting penyebab teraihnya Cinta Allah Subhanahu wa ta'alah adalah sebagai berikut :

 1. Membaca al-Qur’an dengan merenungi dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidak lain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur’an agar difahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wata'ala.

Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak dapat ditandingi dengan kemuliaan apa pun. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan seperti itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”.

2. Taqarrub kepada Allah Subhanahu wata'ala, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardhu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardhu dengan sempurna mereka itu adalah orang - orang yang mencintai Allah Subhanahu wata'ala.
Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah Subhanahu wata'ala. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Mengamalkan dzikir kepada Allah dalam segala aktifitas kehidupan, melalui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikir kepadaNya.
DZikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah shalallahualaihi wassalam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu, selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berzikir) kepadaKu”.
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Mengutamakan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri.  artinya ia rela mencintai Allah meskipun berisiko tidak dicintai oleh mahluk.
Inilah derajat para Nabi, di atas itu derajat para Rasul dan di atasnya lagi derajat para rasul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad Shalallahualaihi wassalam sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kesinambungan musyahadah (menyaksikan) dan ma’rifah (mengenal) Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wata'ala. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi).
6. Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir mahupun yang batin. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah akan menghantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah Subhanahu wata'ala.
Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan menghantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketundukan hati secara total di hadapan Allah (Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah), inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan menghantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika sepertiga takhir malam. Di saat itulah Allah Subhanahu wata'ala turun ke langit dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah Subhanahu wata'ala.  
Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur’an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka ia pun akan mendapatkan cinta Allah Subhanahu wata'ala.
10. Menjauhi / menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingati Allah Subhannahu wa Ta’ala .
Sumber : 
- Liputan langsung
- Madaarijus Saalikin – Imam Ibnu Qayyim AlJauziyyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar