Jumat, 25 Mei 2012

SANDAL JEPIT…

 


Selera makanku mendadak punah, yang ada hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan  capek dan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia di meja makan tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.

“Ummi… Ummi.., kapan kau dapat memasak dengan benar sich…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan..!”  Ya, aku tak mampu menahan emosi untuk tak menggerutu.

”Sabar bie…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem.

“Iya sich…, tapi abie kan manusia biasa,  Abie belum bisa sabar seperti Rasul,  Abie merasa bosan dan jenuh kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah meleleh…

***

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling.

Bayangkan saja, rumah tak ubahnya laksana kapal pecah,  Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.

 Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi…, bagaimana abie tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… ,isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur segala urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu.

 “Ach…dasar perempuan…, gampang sekali untuk menangis…,” bathinku berkata dalam hati. “Sudah diam  mie…, nggak boleh cengeng, katanya mau jadi isteri shalihah…? Isteri shalihah itu nggak cengeng lho mie…,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya.

“Gimana nggak nangis…! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus, rumah ini berantakan karena memang ummie tak bisa mengerjakan apa-apa, jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah, abie gak tau ummie kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abie nggak ngerasain sich bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat makin deras mengalir…

***

 Bie…, siang nanti antar Ummi ngaji yach…?” pinta isteriku. “Aduh, mie… , abie kan sibuk sekali hari ini, berangkat sendiri saja yach…?” ucapku. “Ya sudah, kalau abie sibuk, Ummi e naik bus umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” sela-ku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi e gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

***

Pertemuan yang telah ku jadwalkan hari ini ternyata harus  diundur pekan depan karena ada beberapa elemen pendukung belum terpenuhi. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji.

Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ach, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug..! Hati ini menjadi luruh. “Och….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu.

Tes, tes…! Air mataku jatuh tanpa terasa,  Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

“Maafkan aku Aysha…”,  pinta hatiku.

“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhty  berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab ummienya.

Beberapa menit setelah kepergian dua ukhty itu, kembali melintas ukhty-ukhty yang lain. Namun, belum juga kutemukan Aysha-ku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh ber-abaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku..!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya.

Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Aysha-ku.

 Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata:

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan aku (Nabi SAW) adalah sebaik-baik kalian bagi keluargaku” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)”

 Sedang aku..? Ach, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim...!!!

“Aysha…!” panggilku, ketika tubuh ber-abaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abie…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ach, kenapa tidak dari dulu kulakukan hal – hal seperti ini…?” sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika ia  tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu bie…,”ucapnya dengan suara tulus.

 Ach Aysha…, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu, dan saat bersamaan Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu..?
Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?

Ya Allah ya Robb…, berkahilah kami…
_______________________________________________
Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien
Buat para mujahid dakwah..renungkanlah kisah sandal jepit ini, dan tanyalah hati kita sejauh mana perhatian kita (bukan hanya soal sandal dll) terhadap sosok makhluk bernama istri di tengah2 kesibukan kita…, Tanya…?

http://abisabiella.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar