Rabu, 13 Juni 2012

Mudah Marah ( Sebuah Akhlaq yang Buruk )


Goblok...!!!,  Bodoh...!!!, Tolol...!!!

Di kasih tau gak ngerti - ngerti..., Udah gak usah kerja...!!!

Kurang lebih seperti itu hentakan yang ku saksikan hari ini...

Rabu, 13 Juni 2012.

Subhanallah...

Marah boleh - boleh saja, apakah harus berteriak - teriak dengan kata - kata yang kurang enak di dengar, kita orang dewasa, yang yakin masih bisa untuk berfikir dan bertindak lebih baik lagi. Menyoal kesalahan, siapapun bisa melakukan kesalahan, bukankah obat dari orang yang membuat kesalahan adalah Nasehat..?, ya Nasehat..., bukan caci maki...

Padahal yang di dakwa atas kemarahan itu belum tentu melakukan kesalahan...?


M A R A H


Sifat ini merupakan perangai yang tercela baik dalam tinjauan syara’ maupun dari sisi akal sehat. Dan sifat ini merupakan sebab timbulnya ragam persoalan yang tidak menyenangkan akibat sikap yang tidak menyenangkan ini.


Betapa banyak akibat yang timbul dari perangai ini, pembunuhan, perceraian, pertikaian antara kedua pihak dan lain sebagainya yang merupakan hasil dari sifat marah.

Jangan karena anda berkuasa, menjadi boleh untuk melampiaskan kemarahannya pada setiap orang.

Ingatlah, adanya Tuan karena adanya abdi, anda tidak akan di hormati, di akui sebagai Tuan, jika tidak ada kelompok ini (abdi), orang yang dalam kekuasaan anda.

Karifan anda adalah gunung - gunung pahala, jangan anda sia- siakan...

Ada sebagian manusia, apabila marah, kemarahannya akan menuntunnya sehingga diapun mengkerutkan keningnya dihadapan selain orang yang membuatnya marah, ucapannya yang sangat jelek tersebar kemana - mana sampai kepada seseorang yang tidak bersalah sedikitpun, dan menyakiti seseorang yang sebenarnya dia tidak menghendaki hal itu terjadi kepadanya...

Masya Allah...
Begitu bahayanya perangai marah ini...

Lalu perkara ini akan memuncak, apabila dia sudah ridha menuang perkara yang berbahaya bagi siapa saja yang tidak sederajat kedudukannya dengan dirinya, memberi kepada seseorang yang tidak mengharap pemberiannya, dan memuliakan seseorang yang tidak mengharap pemuliaan darinya. [1]

Ini adalah perangai yang tercela, yang bertentangan dengan sifat bijak, keteguhan hati, pribadi yang luhur dan sifat adil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bukanlah seseorang dikatakan kuat dengan pandai gulat, akan tetapi seorang yang kuat apabila dapat menguasai dirinya di saat marah.” [2]

Kesempurnaan kekuatan seorang hamba adalah dengan mengendalikan pengaruh dari hawa amarah yang bergejolak, maka sebaik-baik manusia adalah seseorang yang syahwat serta hawa nafsunya mengikuti syariat, kemarahan yang ada pada dirinya dan pembelaannya diperuntukkan kepada kebenaran untuk menepis kebathilan.

Dan seburuk-buruk manusia adalah seseorang yang di kuasai oleh syahwat dan amarahnya. [3]

Barangsiapa yang diberi taufik untuk menepis hawa marah maka dia telah beruntung dan telah selamat, jika tidak demikian maka hidupnya tidak akan bersih dan hatinya tidak akan tentram, dan jauh dari kebahagiaan...

Seseorang yang tinggi derajatnya tidaklah memikul kedengkian,
dan tidak akan mencapai derajat tinggi seorang pemarah...

Ingatlah, sesungguhnya kita saat ini sedang mengukir jejak yang akan kita tinggalkan tidak lama lagi, apakah jejak - jejak yang akan kita tinggalkan adalah jejak - jejak yang di warnai dengan kemarahan...? atau yang di penuhi dengan sikap kearifan dan kesabaran... 


Semoga kita terhindar dari sifat [gampang] marah...


Abie Sabiella


Foot Note:
[1] Lihat al-Adab ash-Shagir wa al-Adab al-Kabir karya Ibnu al-Miqfa’ hal.105
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 10/91 dan Muslim (2109) dari hadits Abu Hurairah
[3] Lihat Bahjah Qulub al-Abrar karya Ibnu Sa’di, syarh hadits no.71

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar