Jumat, 13 Juli 2012

Cerita mereka, "Kenapa saya berjilbab...?


Kemarin saat saya diminta Nenek untuk menjadi petugas registrasi dalam pernikahan saudaranya, saya banyak mikir... dengan alasan mengajar saya menolak permintaan beliau padahal memang jadwal saya mengajar malam itu. 

Bersamaan pula dengan resepsi pernikahan dosen saya yang digelar di gedung yang berbeda, dan saya juga diminta untuk menjadi pagar ayu disana meskipun sudah kutolak sejak awal. 

Tapi entah kenapa sabtu pagi Wiwi, murid saya menelfon untuk tidak bisa belajar nanti malam. Ah, ini artinya aku harus tetap pergi memenuhi permintaan nenekku. Apalagi setelah mencari sana-sini, orang yang dibutuhkannya belum cukup. Sebenarnya saya malas, kenapa?

Dalam acara pernikahan adat, apalagi di keluarga saya yang masih cukup kental ritual keadatannya, saya harus berperang melawan nurani saya yang banyak tidak menyetujui ritual-ritual yang menurut pemahaman saya hanya mubadzzir dan tidak sesuai syariat.

Baju yang disiapkan alhamdulillah tidak terlalu macam-macam. Karena tidak disiapkan jilbab, maka inilah yang menjadi masalah, saya harus mencari jilbab yang cocok dengan warna baju. Nenekkku sudah menawarkan jilbabnya yang pendek sampai leher, adduh.. mengapa beliau masih berpikir saya akan menggunakan jilbab seperti itu ya?

Alhamdulillah lagi.. untungnya tante ada yang punya jilbab warna pink yang cocok dengan motif sarungnya. Jilbabnya tipis sekali, dan aku lagi-lagi lupa membawa jilbab untuk melapisi. Untungnya lagi, nenekku masih punya jilbab pink.. jadilah jilbab itu aku lapis dua. Dan tentu saja saya menjadi pusat perhatian dengan menggunakan jilbab yang berlapis dua. Belum lagi jilbab yang saya urai...

“Hiasan bajunya tertutupi jilbab dong?” kata tante dan nenek saya.
Aku hanya terdiam, mereka sudah berulang kali mempertanyakan ini. Dan aku pun telah menjelaskannya jauh lebih sering... ini juga yang jadi salah satu alasan saya tidak mau lagi mengikuti permintaan nenek. Belum lagi disuruh make up di salon. Uh...!

Dengan alasan semua itu akan membuat wajah saya rusak mereka mau menerima...
Mengapa mereka masih saja mempermasalahkan jilbabku?

Aku berjilbab bukan karena paksaan siapa-siapa. Tiada niat selain meraih ridho Allah dengan menjalankan perintah-Nya. Saya kan muslimah? Dan seorang muslimah wajib menutup auratnya!
Sejak SD saya sudah memiliki keinginan besar untuk memakai jilbab. Entah mengapa! Padahal di keluargaku masih minim yang meggunakan jilbab, mama saja belum pakai jilbab.

“Ma, saya mau sekolah SMP nanti di sekolah yang wajib memaki jilbab, tapi saya tidak mau sekolah di SMP Islam Batu-batu (Sebutan untuk Madrasah Tsanawiyah yang ada di kampungku)”

Inilah mungkin jalan yang ditunjukkan Allah, hingga akhirnya Mama bertemu dengan sepupu jauhnya yang bersekolah di Pesantren dan sedang bertugas Ramadhan di kampung saya. Paman tersebut menawarkan kalau aku di sekolahkan di Pesantren Yasrib saja, tempat dia bersekolah. Maka semakin sempurnalah niat saya untuk menggunakan jilbab...

Beberapa sepupu saya yang ketika ditanya, mengapa belum berjilbab? Ada yang menjawab, masih menunggu kata hati, ada pula yang mengatakan masig belajar untuk menjilbabkan hati takutnya nanti buka pasang jilbab atau apa kata orang-orang kalau saya pakai jilbab sementara sikap saya masih begini-begini?
Ach, semuanya tidak akan pernah jadi kalau menunggu sempurna dulu baru mau melakukan sesuatu...
Saya menulis ulang perkataan dari Mbak Asma Nadia, salah satu penulis favorit saya:
“Berjilbab tidak berarti kamu sempurna, tapi semoga menjadi awal untuk membuktikan kesungguhanmu menyempurnakan diri dihadapan-Nya.”
_________ Colly Poejie__________


Siang hari di masjid Salman ITB. Saat sedang merapikan jilbab, seorang anak kecil berusia sekitar 5-6 th (perkiraanku) tiba2 datang menhampiri (mungkin sebelumnya dia sudah memperhatikan aktivitas yang sedang ku lakukan) dan dengan gaya polosnya langsung bertanya “teh, kenapa kepalanya ditutup ama kain ini ?” sambil menunjuk ke jilbabku.

Mendadak mendapat pertanyaan  seperti itu, aku jadi sedikit muter otak untuk ngasi jawaban yang kira2 bisa dimengerti oleh anak seusia dia .. Sambil mikir  jawabannya, dikepala ku juga muncul komentar2 tentang dia

mmmm, anak yang lucu, sepertinya cerdas, berani, ….tapi orangtuanya mana ya, kog anaknya dibiarin seliweran sendiri ??”

Karena belum dapat ide yang bagus untuk menjawab pertanyaannya, aku jadi balik bertanya ” nah, adek sendiri kenapa kepalanya ditutup juga pake jilbab ? ” *lumayan ngulur waktu buat nyari kalimat2 yang tepatnya 

dengan lancar kalimat2 penjelas itu keluar dari mulutnya “ini ummi yang make-in, kata umi kalau perempuan keluar rumah harus pake ini … dan supaya gak digangguin orang jahat juga .. supaya jadi cantik juga … ” . Nia mau aja, nia mau jadi anak baik,  ikut yang dibilangin umi. Tapi sekarang panasss .. hareudang teteh … boleh gak kalau dibuka ya ??? biasanya umi gak ngebolehin …. kalau di dalam rumah boleh gak pake … “

ooo.. begitu … ternyata dia lagi nyari dukungan untuk buka jilbabnya sebentar karena lagi panas
teteh hareudang ?? kalau teteh hareudang, dibuka gak ???

Baiklah adik kecil, aku sudah mendapatkan keywords nya … semoga kalimat2 sederhanaku bisa dimengerti ….
“sini duduk dekat teteh …oh ya  umi nya mana ?? ““itu..” dan dia pun menunjuk salah satu perempuan yang sedang rukuk di barisan yang sedang shalat .. kalau Nia udah beres shalatnya .. cepet2 tadi … heheheh”

Ooo begitu …  dugaan pertamaku tadi semakin kuat tentang dia … cerdas, dan berani. Baiklah akan kumulai menjawab pertanyaan2 mu adek kecil.

iya kalau perempuan, islam, sudah gede memang harus make … Allah yang suruh … teteh juga pake karena mau jadi baik juga … nurut sama yang diperintahin Allah …  karena udah biasa pake, jadi nggak  ngerasa hareudang lagi … Kalau lagi dluar, ya harus dipake terus, tapi karena Nia masih kecil, jadi  boleh aja dilepas kalau Nia panas, ntar dipake lagi . Tapi kalau dipake terus, ya lebih bagus lagi …kalau teteh .. udah gak boleh dilepas kalau lagi diluar begini … (Ditatap dengan mata yang bulat, pipi yang rada tembem, aku jadi pengen nyubit pipinya )

“ooh gitu ya teh …” .. udah ah … umi shalat, Nia lepas .. umi beres shalat .. Nia pake … dan tangannya pun siap2 mau melepas jilbabnya. Tapi berhenti sebentar … dan menurunkan tangannya lagi dan berkata ” tapi Nia cantikan kalau pake ini deh .. daripada gak pake..” ya udah deh .. pake aja … “
heheheh … dasar anak kecil,  tidak sampai sepersekian menit, keputusannya sudah berubah

“oh iya bener … orang akan jadi semakin cantik kalau dia make jilbab ” dengan nada meyakinkan aku menimpali kata2nya …. *ya jadi sedikit narsis meng-claim diri sendiri  juga gpp lah … “

Tak berapa lama seorang ibu mendekati ku sambil tersenyum dan bilang ” makasih teh, udah nemenin anak saya .. dia suka nanya dan gak takut dengan orang yang baru dikenalnya” ..Mari teh .. saya duluan .. sambil menggandeng tangan anaknya bersiap2 keluar masjid.

“oh iya gpp bu .. tadi kami ngobrol tentang jilbab, dia lagi kepanasan dan pengen ngelepas jilbabnya bentar…”Mari …

Aku jadi ingat pengalaman pertamaku berjilbab. Kelas 2 SMP, abangku sudah meminta ku untuk berjilbab, dan dengan alasan yang macam2 itu kutolak mentah2. “Susah .. harus bikin seragam sekolah baru lagi”, beli baju 2 baru  yang lengan panjang” Walau sudah dijanjikan ” Kalau kamu mau sekarang berjilbab, sekarang juga abang belikan semuanya, seragam, baju,  celana, rok dan jilbabnya, berapapun yang kamu mau” (*waduh … abangku ternyata tidak main2  dengan permintaannya *). Ku keluarkan alasan2 lainnya “panas”, “belum bisa pakai jilbab”., bla bla bla.. . Intinya bukan dialasan itu menurutku, tapi hatiku sendiri sepertinya yang belum siap dan malas  ..

Masuk SMA, pikiranku berubah. AKU INGIN BERJILBAB. Alasannya sederhana, cukup dengan kata SUKA. Aku juga tidak tau kenapa tiba2 bisa jadi seperti itu – entah kesambet jin apa. Saat itu, aku benar2 belum tau kalau berjilbab itu adalah suatu kewajiban bagi seorang muslimah. Orangtuaku tidak melarang, tidak memaksa, cuma berpesan “kalau udah sekali pake, jangan dibuka lagi” … “Siap”  kataku dengan cepat. Walau tawaran abangku yang dulu sudah expired … tidak masalah …. aku siap dengan jilbab putih seadanya … baju panjang yang jumlahnya terbatas … gpp ..

Intinya saat itu, aku merasa senang dengan jilbabku, merasa lebih terlindungi .. Kalau ada  pertanyaan ” jelaskan keuntungan dan kerugian memakai jilbab” maka akan kujawab ” keuntungannya ada banyak .. kerugiannya tidak ada”.

“rambut jadi rontok, terlihat lebih tua, ketinggalan zaman gak bisa ikut tren model2 pakaian.. ” menurutku gak juga … itu cuma mitos…
Justru … orang akan lebih terlihat lebih anggun dengan berjilbab (versi mataku melihat ya ). Ada banyak artikel ilmiah yang ditulis (silahkan di search di mbah google) tentang pentingnya menutup kulit jika sedang diluar rumah, menjaga kulit dari sinar matahari yang bersifat merusak dst (kalau mau melihat keuntungan berjilbab dari sisi ilmiahnya”). Berdandan juga yang gak perlu ribet2, gak harus ke salon atur2 model rambut setiap  ada acara – penghematan .. hehehe , lebih praktis (ekstrimnya : kalau rambut belum disisir sekalipun .. mau ketemu orang .. langsung pake jilbab-udah beres .. toh ketutup ini ). Kalau pas lagi jalan, orang ngisengin juga beda kalimatnya dengan orang yang tidak berjilbab, (yang ngisengin juga liat2 orang yang diisengin sptnya) misal : “assalamu’alaikum bu haji .. mau kemana” … atau “aduh jadi gak enak, ada anak pesantren mau lewat “  (walau tetap tidak enak diisenginnya, ku aminkan di dalam hati saja .. amin deh kalau ntar jadi bu haji beneran … amin deh kalau dibilang anak pesantren”.
Tapi inti dari semua itu .. itu bukti kepatuhan ….

Dan jika ada yang bilang ” jilbab itu gak ngejamin kalau orang yang makenya orang baik.. ” Ya .. tidak ada jaminan untuk itu .. tapi bukan jilbabnya yang salah .. tapi orang nya …. Kalau ada yang bilang “jilbab hati yang paling penting” .. ya benar .. tapi kenapa tidak sekaligus dua2nya ??? Jilbab kepala dipake .. hati juga “dijilbab”

“Ya Allah … karuniakan pada ku ilmu yang bermanfaat dan dengan itu semoga aku pun bisa semakin tahu aturan dan larangan Mu , menjadi tau makna dibalik perintah berjilbab  Mu ini ‘

_______________ fitri susanti __________________


Jujur, saya tak tahu persis kenapa saya mulai mengenakan jilbab. Pasalnya, ketika itu Mama, adik perempuan serta saudara-saudara dekat saya di Jakarta belum ada yang berjilbab. Saya tidak mengalami near death experience yang biasanya manjur bikin orang bertobat. Saya tidak bermimpi didatangi malaikat yang menyuruh saya berjilbab (saya pernah dengar cerita semacam ini lho..). Saya tidak tergabung dalam organisasi Islam.

Kejadian yang paling mungkin mempengaruhi saya adalah umrah yang saya lakukan beberapa bulan sebelum saya berjilbab. Tapi persisnya apa, dimana, bagaimana, saya tak tahu.Maka, ketika orang-orang menanyakan alasannya, sebenarnya sih saya juga bingung mau jawab apa.

Saya pun ketika itu bukan orang yang terlalu religius (well, sekarang mungkin juga nggak terlalu sih, tapi dibandingin dulu sih insyaallah udah mendingan). Saya tidak biasa mengucapkan Assalamu'alaikum sebagai sapaan sehari-hari, misalnya. Shalat saya pun masih suka bolong-bolong. Jarang mengaji, malas ikut ceramah tarawih, suka pakai kaos ketat, sering berbohong, dan hal-hal lain yang membuat saya tidak layak dikategorikan sebagai umat muslim yang alim dan manis deh.

Entah dimana turning pointnya. Semuanya seperti proses saja. Well, umrah memang sedikit banyak memberi pencerahan. Pulang dari tanah suci saya memang jadi banyak memikirkan tentang agama. Betapa jauhnya saya dari Tuhan, betapa banyak larangan yang sudah saya langgar.
Saya ingin menjadi lebih baik, begitu niatan awalnya.
Lalu entah bagaimana sampailah concern saya tentang jilbab. Beberapa hari saya pikirkan dan saya tanyakan secara tersirat kepada teman-teman yang sudah berjilbab. Hingga suatu hari saya mengsms teman saya menanyakan, perintah berjilbab ada di surat mana ayat berapa sih?

Dijawab teman saya, Al-Ahzab: 59. Saya segera cari di Al-Qur'an. Ah ya, ada. Biarpun bahasanya agak berat buat saya. Membaca ayat-ayat itu sebenarnya masih agak bias untuk pikiran saya. Ragu apakah ini benar-benar wajib? Iya. Entah berapa proporsinya, tapi iya ragu itu ada.Tapi kemudian saya balik pola pikir saya: 'kenapa enggak?'

"Worst case"nya adalah jilbab itu wajib sehingga saya beresiko berdosa bila tidak menaatinya. Coba saya metaforakan. Katakanlah saya sedang mengambil sebuah mata kuliah. Sang dosen memberikan tugas A, B dan C yang bila ada satu saja lalai dikerjakan maka saya tidak akan lulus. Lalu, di tengah semester dosen ini memberikan tugas D. Tak dijelaskan apakah tugas ini akan mempengaruhi lulus/tidaknya saya karena, katakanlah, pada hari tugas itu diberikan saya bolos. Sehingga saya tidak memperoleh keterangan lengkap tentang makna dari tugas D ini. Masalahnya tugas D ini agak sulit dan saya harus mengorbankan 2 weekend untuk mengerjakannya.
Apa yang akan saya lakukan? Melalaikan tugas itu dengan resiko tidak lulus, atau mengerjakan tugas itu, mengorbankan 2 weekend namun nilai akhir saya lebih terjamin? Rasanya sih saya pilih opsi kedua, karena worst case nya adalah tugas D akan mempengaruhi kelulusan saya.

Nah, hal yang sama berlaku disini. Resikonya adalah saya berdosa bila tidak berjilbab. Namun bila saya berjilbab maka ada beberapa hal yang berubah (dan mungkin tidak enak). Saya coba list apa sih hal-hal yang akan membuat saya menyesal bila berjilbab. Daftar itu berisi hal-hal semacam ini:
1. Repot.
2. Panas.
3. Nggak bisa pakai baju sesuka hati.
4. Nggak enak kalau ke tempat-tempat hura-hura.
5. dst.
Yah, pokoknya semacamnyalah. Setelah saya analisis (jjjiiee..), ternyata menurut saya resiko yang bisa saya dapat tidak sepadan dengan kesenangan yang saya peroleh. I couldn't think a single reason (that really matters) why I shouldn't wear jilbab. And then I started to wear it.

Ah ya, beberapa orang berpendapat lebih baik menjilbabi hati dulu sebelum menjilbabi kepala. Saya hormati hak siapapun yang punya pendapat demikian. Tapi menurut pendapat saya tidak demikian (and because this is my blog, I want to write about my opinion, so suck it up! ha ha).

Berjilbab physically itu mudah. Percaya deh. Anda hanya perlu melilitkan kain di kepala, mengenakan baju dan celana lengan panjang yang tidak transparan dan ketat-ketat (amat). Piece of cake! Semua orang bisa melakukannya.

Berjilbab secara fisik itu mudah. Yang sulit adalah menjilbabi hati. It might be the hardest thing to do in life. It is, for me. Sampai saat ini saya masih belum mampu mensterilkan hati saya dari iri, malas, dengki, dendam, buruk sangka, sombong, malas (did i mention 'malas' twice?) dkk. Tiap hari pasti ada yang mampir. Tiap hari.

Tapi apakah karena saya belum bisa menjinakkan hati makanya saya tidak menjinakkan aurat? Masalahnya, saya tidak tahu kapan saya bisa menjinakkan hati saya. Mungkin tidak akan pernah bisa. Tuhan selalu membolak-balikkan hati manusia, bukan? Lagipula ketika saya merasa bahwa hati saya telah steril, bukankah itu artinya juga sombong ya? Kayak nge-looping.

Saya tidak melihat bahwa setelah hati bersih barulah saya berjilbab. Bukan, jilbab itu bukan tujuan kalau buat saya. Jilbab adalah alat yang saya gunakan agar hati saya bisa (lebih) bersih.

Makanya, kalau menurut saya sih, berjilbab bukan jaminan lebih bersih hatinya dari yang tidak berjilbab. Pada kasus saya, berjilbab berarti saya ingin menjadi lebih baik tapi saya juga mengakui bahwa saya butuh bantuan dari orang-orang sekitar saya agar sampai kesana. Kasarnya, saya minta dicemooh kalau saya kedapatan mencontek atau berkata kasar atau tidak shalat atau terlalu lengket sama yang bukan muhrim atau hal-hal lainnya. Persis seperti reminder. Mungkin reaksi pertama adalah malu pada masyarakat.

Tapi, salahkah? Menurut saya sih tidak. Yang penting tujuannya, saya tidak melakukan hal-hal tidak terpuji, tercapai. Orang lain tidak terluka. Masalah niat itu urusan saya dengan Tuhan. Daripada niatnya sudah tidak betul, menyakiti orang lain pula. Combo double deh. Hehe.

Buat orang lain mungkin remindernya bisa macam-macam. Kalung bertuliskan ayat Al-Qur'an kek, tato henna bertuliskan Allah kek, bisa jadi apa saja. Saya memilih jilbab karena itu yang paling terasa dan terlihat. Tiap kali saya bercermin. Tiap kali saya menggaruk kepala, leher atau telinga. Tiap kali melihat lengan dan kaki yang terbungkus hingga pergelangan. Semuanya mengingatkan bahwa saya punya cita-cita untuk menjadi umat muslim yang lebih baik. Ada yang harus dikerjakan dan ada yang harus dihindari. Ada kiamat yang akan datang. Ada banyak dosa yang telah saya lakukan. Jilbablah yang menjadi remindernya. Meskipun tidak selalu saya dengarkan sih.
_________________ floresiana yasmin _________________


Perintah Memakai Hijab

Sahabat muslimah…, berhijab ini berkaitan dengan keadaan tubuh secara fisik. Maka tidak ada istilah “yang penting hatinya dulu yang berhijab, baru kemudian badannya yang berhijab”. Sungguh telah jelaslah perintah Alquran dan Assunnah mengenai hijab ini, yang mana kaitannya adalah dengan badan, bukan hati. Karena hati memiliki pengaturan sendiri, dan badan pun (secara fisik tampak luar) memiliki pengaturan tersendiri, tidak dapat dicampur-adukkan.

Agar lebih memberikan penjelasan bagi sahabat muslim sekalian, berikut ini adalah tafsiran ayat Alquran oleh Imam Ibnu Katsir mengenai perintah berhijab.
Alloh Subhanahu wa Ta’alaa berfirman dalam surah Al-Ahzaab (33) ayat 59,



Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyuruh para wanita mukmin seluruhnya, begitu juga kehususan perintah kepada isteri-isteri dan anak-anak beliau karena kemuliaan mereka, untuk menjulurkan atau menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Tujuannya agar mereka mudah untuk dikenali dari para wanita jahiliyah dan hamba-hamba sahaya perempuan. Jilbab sendiri adalah sejenis selendang panjang yang diletakkan melapisi kerudung. Penafsiran jilbab seperti ini dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, ‘Ubaidah, al-Hasan al-Bashri, S’aid bin Jubair, Ibrahim an-Nakha’i, ‘Atha’ al-Khurasani dan banyak ulama lainnya. Jilbab pada saat sekarang adalah sama dengan izar (kain). Al-Jauhari berkata, “Jilbab adalah kain yang menutupi seluruh tubuh”.

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallohu’anhumaa, ia berkata, “Allah memerintahkan para wanita mukmin, bila mereka keluar dari rumah-rumah mereka untuk sebuah keperluan, hendaknya mereka menutupi wajah-wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab. Hingga yang tampak dari mereka adalah sebuah biji mata saja”. (Ath-Thabari, XX/324)

Muhammad bin Sirin berkata, “Aku bertanya kepada ‘Ubaidah as-Salmani tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa, “Hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”, maka ‘Ubaidah langsung menutup wajah dan kepalanya  serta menampakkan mata kirinya saja.” (Ath-Thabari, XX/325)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”, yakni, jika mereka menutupkan jilbab ke seluruh tubuh, niscaya akan mudah dikenal bahwa mereka itu adalah wanita-wanita mukmin yang merdeka. Mereka bukan hamba sahaya dan bukan pula pelacur, dan mereka tidak akan diganggu.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, atas segala dosa dan kesalahan yang mereka lakukan di zaman jahiliyah, karena mereka melakukan itu semua tanpa pengetahuan agama.



Dan Ramadhan adalah moment paling tepat untuk memulai niat baik ini (berjilbab)…, Kuatkan niat kalian saudariku yang masih belum mengenakan jilbab, percayalah…, tidak ada kesempurnaan yang kalian tunggu dan kalian jadikan alasan untuk menunda berjilbab, coba fikirkan jika pada saat kalian masih saja dalam “menunggu kesempurnaan” itu, tiba – tiba ajal menjemputmu, maka sempatkah kalian mengenakan jilbab itu…???
Smoga bermanfaat untuk sahabat - sahabat muslimah...
 Yuk kita sambut Ramadhan dengan sebuah perubahan (Hijrah) ke jalan yang lebih baik lagi, jalan hamba - hamba yang beriman dan bertaqwa...

Jakarta, 14 Sya'ban 1433 H

_____Abie sabiella____

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar