Jumat, 21 September 2012

The Power of FOCUS





Kata focus (Inggris) dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai terang atau jelas. Arti lainnya adalah memusatkan perhatian. Kalau Anda ingin memotret seseorang dengan menggunakan kamera berlensa manual (bukan autofocus), maka Anda harus mengatur fokus lensa tersebut agar gambar yang ingin Anda potret menjadi jelas dan tidak kabur. Sehingga hasil pemotretan Anda menjadi terang dan jelas.

Begitu pula dengan hidup ini. Kebanyakan orang tidak melihat dengan jelas kemana tujuannya (tidak mengatur fokus lensanya). Atau kalau sudah terlihat dengan jelas kemana tujuannya, maka akan mengalami pengaburan pada apa yang akan dilakukan. Dalam bahasa sehari-hari, ‘saya tahu saya mau kemana (inginkan), tapi saya tidak tahu (bingung) apa yang harus saya lakukan’. Jadi, kemana saya dan Anda harus memusatkan perhatian, agar dapat meraih yang dituju? Atau, kemana “pandangan” saya dan Anda harus diarahkan, agar pekerjaan kita menjadi jelas?


Jack Canfield dan Mark Victor Hansen adalah penulis serial buku best-sellerberjudul Chicken Soup for the Soul. Keduanya juga telah lama sebagai pembicara terkenal dalam seminar-seminar pengembangan diri. Les Hewitt adalah seorang pelatih kinerja dan pendiri Achievers Coaching Program. Ketiganya selama tiga tahun telah merampungkan sebuah buku yang berjudul The Power of Focus. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dan berbagai masukan dari orang-orang sukses dan para peserta yang telah mengikuti seminar-seminar mereka.


Saya ingin mengambil pokok-pokok pikiran dari mereka, agar arah fokus kita menjadi jelas (semoga). Jadi kemana kita harus fokus?


Terdapat sepuluh titik fokus yang harus diperhatikan:


1. Fokus pada kebiasaan-kebiasaan Anda

2. Fokus pada kekuatan-kekuatan Anda
3. Fokus pada tujuan
4. Fokus pada penciptaan keseimbangan hidup
5. Fokus pada membangun hubungan
6. Fokus pada keimanan atau keyakinan
7. Fokus pada apa yang ingin Anda minta
8. Fokus pada konsistensi kerja
9. Fokus pada keputusan hidup yang tepat, dan
10. Fokus pada tujuan hidup kembali (sebuah evaluasi diri).

Mengingat ruang yang sangat terbatas pada tulisan ini, maka saya tidak akan menjelaskan secara terperinci ke-10 titik fokus tersebut (alasan yang dikemukakan), di samping pengetahuan saya yang sangat terbatas (alasan yang sebenarnya).


Sebagai penutup, saya ingin mengutipkan kepada Anda sebuah dialog yang terjadi antara Adi W. Gunawan – trainer Accelerated Learning – dengan seorang Ibu yang mengikuti lokakaryanya.


Ibu ini menceritakan keadaan anaknya yang duduk di kelas 4 SD. Anak ini pandai memainkan piano. Karena permainannya dirasa cukup baik, oleh kedua orangtuanya anak ini hendak diikutsertakan dalam lomba. Ternyata anaknya menolak untuk ikut. Dengan segala bujuk rayu anak itu tetap tidak mau. Ibu itu bertanya mengapa ini bisa terjadi dan apa yang harus mereka lakukan sebagai orangtua.

Yang pertama saya tanyakan adalah, “Anak Ibu ini di kelas ranking ya?”
“Lho, Bapak kok tahu?” balas si ibu.
“Kalau memang benar di kelas ranking, maka saya tahu alasannya mengapa anak Ibu tidak mau ikut lomba,” jawab saya.

“Lalu apa sebabnya, Pak?” Tanya ibu itu lagi.
Ternyata, sesuai dengan analisis saya, kedua orangtua anak ini termasuk orangtua yang menuntut anak untuk selalu ranking atau juara kelas. Telah ditanamkan dalam pikiran anak ini sejak masih kecil bahwa dia harus bisa juara. Untuk menjadi juara tentunya nilainya harus baik. Nilai baik berarti tidak boleh membuat kesalahan. Dan dia hanya akan menjadi juara dengan mengalahkan teman-temannya yang lain. Kalau sampai nilainya kalah dibandingkan dengan temannya maka dia akan gagal.

Coba Anda bayangkan pola pikir yang ditanamkan orangtua tersebut pada anaknya. Dan biasanya, pola pikir ini akan terus merembes dalam kehidupan sang anak selanjutnya. Pola pikir apakah itu? Pola pikir yang berpandangan bahwa membuat kesalahan adalah hal yang jelek. Sehingga kebanyakan orang menghindar untuk berbuat salah. Padahal kesalahan adalah suatu pelajaran untuk memahami apa arti kebaikan. Dan dalam setiap upaya untuk selalu fokus, akan ada saja kesalahan yang kita buat. Namun kesalahan inilah yang akan membuat kita untuk selalu bisa tetap fokus dan berlatih kesabaran. Seperti kata pelatih Terry di atas, “Anda bisa melakukan apa saja yang Anda mau asalkan Anda melakukannya dengan sepenuh hati.”


Apakah Anda Mau?

http://anistiens.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar