Kamis, 17 Januari 2013

Di Balik Sebuah Musibah



Ya Allah, hari ini kota kami terendam banjir, hamba – hamba-MU banyak yang meninggalkan rumahnya bahkan tak sedikit harta benda mereka tak terselamatkan akibat terbawa air yang begitu tiba – tiba datangnya, kami tak sempat menyelamatkannya. Kami sibuk menyelamatkan diri kami dan keluarga kami…


Kami tahu Ya Robbi…,

Semua ini PASTI salah kami, kami yang terlalu angkuh dengan segala kemampuan dan kepiawaian kami dalam mengingkari segala nikmat yang telah Engkau karuniakan pada kami.


Maka, pantaslah kami mendapatkan musibah ini, ujian ini…, yang tidak lain Engkau hendak memperingatkan kami dari sebuah kelalaian besar yang tengah kami lakukan sepanjang waktu ini. Dan kami yakin ada hikmah yang Engkau sisipkan bersama musibah ini…


Allah Azza wa jalla memiliki hikmah yang indah. Di antaranya ada yang dipahami dan ada yang tidak dipahami oleh siapa pun selain-Nya. Tidaklah Allah Azza wa jalla  menamai diri-Nya dengan Hakim-Dzat Yang Mahabijaksana- melainkan karena semua takdir dan syariat-Nya penuh hikmah. Demikian samarnya maksud terjadinya musibah yang menimpa manusia hingga membutuhkan renungan yang lama dan pandangan yang saksama. Meskipun demikian, terkadang manusia tidak memahami apa yang terjadi. Kadang, ada yang memahami sebagian kecilnya, yang lain dimudahkan memahami sebagian besarnya.


Hal  yang perlu dipahami, beragam musibah dan bencana baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tidak, tidaklah terjadi melainkan karena perbuatan dosa. Namun, hikmah yang terjadi berbeda-beda. Pada satu musibah, Allah Azza wa jalla  memiliki kelembutan (keindahan) di satu sisi dan kehancuran di sisi lain. Pengaruhnya akan tampak bagi orang yang paham dan merenungkan keadaan. Secara umum, manusia lebih tahu tentang dirinya sendiri daripada orang lain. Kaidah ini telah dijelaskan Allah Azza wa jalla di banyak tempat dalam kitab-Nya Allah Azza wa jalla berfirman:


 “Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (an-Nisa’: 79)


Rasulullah Shalallahualaihi wassalam bersabda dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:


 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


 “Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)


 Terkadang, ada bencana dan musibah yang terjadi tanpa diketahui penyebab yang mengharuskan musibah itu terjadi. Misalnya, seseorang gelisah tanpa tahu asal-muasalnya karena kelalaian akibat kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa jalla  berfirman menghikayatkan keadaan para sahabat setelah musibah terjadi pada Perang Uhud:


 أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badr), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran: 165)


 Jadi, segala bentuk musibah, meskipun sangat kecil, asalnya adalah dari hamba dan disebabkan oleh dosanya. Dari Aisyah Radhiallahuanha, Nabi Shalallahualaihi wassalam bersabda:


 مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُسْلِمُ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا


 “Tidaklah suatu musibah menimpa seseorang melainkan Allah Azza wa jalla menghapuskan dosanya dengan sebab itu, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Semoga musibah banjir kali ini, cukup menyadarkan kita atas dosa – dosa yang telah kita perbuat, dan kita berusaha untuk kembali dalam ketaatan kepada-Nya, dan semoga kita termasuk hamba - hamba-Nya yang terampuni dosa - dosanya akibat musibah ini, dan kita selalu memohon pada Allah mudah – mudahan bencana ini akan segera berakhir. Insya Allah…

Jkt, 17 Januari 2013

Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar