Senin, 11 Maret 2013

OH DUNIA..., JANGAN KAU MENIPUKU...


Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 'Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas), maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga.'" (HR. al-Bukhari, no. 6072 dan Muslim, no. 116

Dunia.., dunia..., Masya Allah engkau dunia...
Luar biasa pengaruhmu, sungguh dasyat efek yang kau timbulkan...
Jutaan manusia bertekuk lutut menjadi budak - budakmu
Jutaan manusia mengabdi dan berhamba kepadamu...

Betapa tidak...!
Siang malamnya mereka habiskan untukmu,
detik, menit, jam, seeemua mereka pertaruhkan untukmu...
Sungguh luar biasa engkau, kemolekanmu telah memukaukan aku,
Keindahanmu telah memalingkan aku dari semua yang ku miliki...

Jujur...,
Aku masih memmbutuhkanmu
Aku masih sangat memerlukanmu,
Aku masih butuh dukunganmu,
Aku masih ingin partisipasimu,

Tapi dengan sebuah syarat...!

Aku masih butuh kamu, tapi nggak semua waktuku ku habiskan untukmu...
Aku masih perlu kamu, tapi nggak semua urusanku harus berorientasi untukmu,
Aku masih harapkan dukunganmu tapi aku tidak mau dengan Intervensimu...

Faham...!!!

Aku ngerti koq dunia itu penting...
Tapi, penting itu bukan berarti segala - galanya...
Kalau aku harus menyerahkan semua waktuku untukmu...? Nanti dulu...!
Kalau aku harus mengorbankan sebagian besar umurku...? pikir - pikir dech...
Kalau aku harus menginvestasikan seluruh hidupku untukmu...? hmmm..., nggak bisa'...!

Aku faham akan pentingnya dunia, dan Robb-ku telah menjelaskannya ;

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia... (al Qhassas :77)

Tujuan utama kita adalah akhirat, sedangkan dunia adalah alat tunggangan kita, kendaraan kita..., sangat Ironis dan menyedihkan manakala justru yang berstatus sebagai kendaraan malah menjadi tujuan dan yang menghabiskan sebagian waktu hidup kita.
Bagaimana mungkin kita akan rela kehilangan sesuatu yang hakiki dan abadi  dan di tukar dengan sesuatu (dunia) yang sesaat, sementara, dan palsu?

 وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Namun dalam realitas kita melihat banyak manusia modern justeru bersikap sebaliknya. Dan ini tidak saja diperlihatkan oleh sembarang manusia. Bahkan sebagian manusia yang mengaku muslim sekalipun menampilkan sikap terbalik. Bila menyangkut urusan peluang keberhasilan di dunia ia menjadi sangat serius. Ia kerahkan perhatian, waktu, tenaga dan uang tanpa keraguan. Namun bila menyangkut urusan peluang keberhasilan di akhirat ia malah bersikap setengah hati bahkan bermain-main dan bersenda-gurau. Ia sangat fokus akan sukses dunia namun sangat tidak peduli sukses akhirat. Seolah sukses dunia merupakan sesuatu yang hakiki sedangkan sukses akhirat hanyalah mimpi tanpa bukti. Mengapa hal ini terjadi?

Ini akibat salah memahami atau bahkan tidak mengetahui konsep hidup seorang muslim, sehingga pemahaman yang kita miliki justru pemahaman yang terbalik yang menyelisihi pesan - pesan Illahiyah.

Lantas dari mana mereka mendapatkan pemahaman yang terbalik itu...? tidak lain dari orang - orang Yahudi dan Nasrani, Orang - orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan mereka, dan inilah yang telah di prediksi oleh Baginda Nabi صلى الله عليه و سلم dalam sabdanya :

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

 شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ

 لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, maka kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Muslim – shahih)

Mereka telah menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, maka tak heran jika mereka menghabiskan seluruh hidupnya untuk kejayaan dunia mereka. Allah menjelaskan dalam surah Ar-Ruum ayat ke tujuh:

 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَاوَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir/material (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Ruum ayat 7)

Sedangkan kita (mukmin) di berikan hidayah dengan mengetahuinya Abadinya negeri akhirat yang menjadi tujuan kita, masya' iya kita akan membutakan diri kita setelah Allah memberikan penerangan dalam kitabnya, misalnya terhadap ayat berikut:

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)

Sudah sangat jelas bahwa melalui ayat di atas Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita mengejar negeri akhirat sebagai fokus utama. Sedangkan terhadap kenikmatan duniawi Allah hanya mengatakan “jangan kamu lupakan bahagianmu”. Artinya, Allah menyuruh kita all out (habis-habisan) mengejar kebahagiaan akhirat. Sedangkan terhadap dunia yang penting jangan sampai kita melupakannya atau mengabaikannya. Redaksi ayat sudah amat-sangat jelas seperti demikian.

Orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezeki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin (lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Igaatsatul Lahfaan, 1/37). 

Silahkan berlomba menjadi orang kaya di dunia, sebab Islam tidak melarang anda menjadi orang kaya. Bahkan para sahabat banyak yang kaya-raya seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan. Silahkan kejarlah berbagai keberhasilan dunia….. Yang penting, janganlah sampai melupakan kehidupan akhirat….

Adilah dengan mengatur waktumu,
Sisakan waktu untuk akhiratmu...

Dawud ath-Tha'i rahimahullah juga mengatakan, "Malam dan siang tak lain hanya sekedar perjalanan yang pasti dilewati oleh seluruh manusia, sehingga hari-hari itu habis mereka lewati sampai akhir perjalanan. Jika engkau mampu menyiapkan bekal pada setiap harinya untuk perjalanan yang akan datang (akhirat), maka lakukan itu. Karena terputusnya perjalanan sudah dekat, sedang urusan lebih cepat dari itu. Berbekallah untuk perjalananmu, dan selesaikan urusan yang dapat kau selesaikan, seakan-akan urusan itu selalu mengagetkanmu.” 

Demikianlah orang shalih memahami betapa berartinya waktu dan umur. Mereka berusaha sekuat tenaga menghabiskan hari-harinya di dalam ketaatan kepada Allah. Maka sepantasnya setiap orang yang berakal menghitung dirinya, lalu mengarahkannya menuju jalan ketaatan. Demikian setiap hari ketika menyambut pagi hari yang baru. Ketika menuju pembaringan di malam hari hendaknya mengulang lagi muhasabah itu dan terus bertanya kepada diri sendiri.

Apakah engkau takut miskin...?
Subhanallah...,

Ketahuilah sesungguhnya kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati / dalam jiwa. 
Rasululah صلى الله عليه و سلم bersabda, "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa." (HR. al-Bukhari, no. 6081 dan Muslim, no. 1051).

Ya Allah ya Robb....
Mudahkan kami menggunakan karunia (dunia) ini benar - benar menjadi jalan kami menuju kampung akhirat..., kampung ke abadian...

Ya Rahman...
Hindarkan kami dari tipu daya dunia ini...

Jkt, 11 Maret 2013

abie sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar