Minggu, 02 Juni 2013

Menyoal ikhwal "kesedihan"

Semua orang pasti pernah merasa SEDIH, teman Antum, kerabat Antum, orang tua Antum, atau Antum sendiri, maupun ana sendiri pun pernah bahkan sedang merasakannya.

Banyak hal yang dapat memicu kita untuk merasakan kesedihan.


Jika ditanya apakah yang menyebabkan seseorang itu bersedih, jawaban setiap orang pasti berbeda-beda mengingat permasalahan hidup yang dihadapi mereka berbeda juga. Kadang kita tahu betul apa yang membuat kita bersedih, namun kadang juga kita tidak mengetahui penyebab kesedihan kita.

Salah seorang teman ana sering mengeluh "Terlalu banyak hal yang membuat saya sedih, mungkin hal yang paling membuat saya sedih adalah hidup saya sendiri, rasanya saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", keluh teman ana.

Wah rasanya kata-kata seperti itu sudah seringkali terucap jika kita merasakan kesedihan yang mendalam. Dan jika Antum sedang mengalami perasaan yang sama seperti teman ana , ana harap Antum jangan sampai berfikiran untuk mengakhiri hidup Antum sekarang, paling tidak selesaikan terlebih dahulu membaca tulisan ana ini yach...

KESEDIHAN adalah suasana hati yang sangat ingin kita jauhi, sebisa mungkin dalam menjalani kehidupan kita mengusir jauh-jauh yang namanya kesedihan, pasti semua orang ingin merasakan perasaan yang sebaliknya bukan..? Kebahagiaan, keceriaan, kesenangan dan kesukariaan tentunya.

Pada umumnya kesedihan menutup minat kita pada aktifitas yang bersifat hiburan dan kesenangan, konsekuensi logisnya membuat perhatian kita terpusat pada apa yang telah kita anggap hilang [ pangkal penyebab kesedihan ], Yang pada dasarnya perlakuan seperti itu sebenarnya merupakan penghimpunan energi kita agar kita dapat memulai langkah-langkah baru, itu jika dalam kesedihan kita masih tersadar.

Sebenarnya, jika kita mau memandang suatu kesedihan dari sisi lain, kita akan menemukan sebuah manfaat dari kesedihan itu, betapa tidak, titik “kesadaran” kita mampu kita hadirkan manakala kita dalam kesedihan, dan sebaliknya, jarang sekali kita temukan orang tersadar dari sebuah kesalahan fatal , sementara orang yang bersangkutan pada posisi senang dan bahagia, justru kecendrungannya malah hadirnya “ kelalaian “ bukan…,

Tapi.., memang harus di akui sejujurnya, sangat sedikit sekali orang – orang yang mampu menghadirkan  atau membalik suasana seperti ini, tak mudah memang…, contohnya ana sendiri mengalami kesulitan yang cukup menguras energy dan asa, untuk keluar dari terjerembabnya jiwa dari dari lembah kesedihan yang teramat dalam akibat multiproblematika hidup, alih – alih dalih mencoba untuk menutupi kelemahan, justru nyata benar “kerapuhanku” tak mampu aku pungkiri…

Artinya kesedihan memaksa ana untuk berhenti dari kepenatan duniawi dan membuat perhatian ana terfokus terhadap rasa kehilangan tersebut,  merenungkan hikmahnya, dan pada akhirnya ana mencoba membuat penyesuaian-penyesuaian psikologis serta menyusun rencana-rencana baru yang akan memungkinkan hidup ana terus berjalan, sekalipun ada konsekuensi logis yakni ana akan kehilangan beberapa teman atas perubahan ini.

Berduka itu bermanfaat tetapi depresi yang berkelanjutan adalah sia-sia…

 La yukallifullahu nafsan illa wus'aha, Laha ma kasabat wa alayha maktasabat …

Allah does not burden any human being with more than he is well able to bear:

in his favor shall be whatever good he does, and against him whatever evil he does.


Lembah Nelangsa, 10 Nov 2011

~Abie sabiella~

http://www.facebook.com/notes/mahad-daarussunnah-bekasi/menyoal-ikhwal-kesedihan/10150354378965069

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar