Rabu, 17 Juli 2013

Memburu kesenangan atau kebahagiaan..?




Senang...? apa bahagia...
Bahagia apa senang...?

Orang akan merasa senang jika mampu menggapai kebahagiaan, begitupun orang akan merasa bahagia jika hatinya merasa senang...
 Lalu, apa bedanya antara senang dengan bahagia...

Begini aja dech...,
Pernahkah terpikir suatu jawaban jika kita ditanya: "Apa yang membuat anda bahagia ?" Coba berhenti sejenak membacanya, kemudian mulai pejamkan mata dan renungkan apa jawabannya.

Sudah...?

Jika jawaban kita adalah "memiliki" berbagai hal yang ada di luar diri kita seperti : banyak harta, punya  istri cantik atau punya suami yang baik & setia, anak yang sholeh, kesehatan yang prima, dll. Jika demikian, maka sebetulnya yang kita cari dalam hidup ini adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. 

Kenapa...?

Karena, kesenangan unsur pembentuknya berasal dari "faktor eksternal", artinya apa saja yang merasa pas, sreg dengan suasana hati kita pada sat itu, maka akan menyenangkan kita, namun kita tidak mampu mengontrolnya sehingga suasana tersebut selalu menyenangkan hati kita. Itulah kesenangan, berbeda dengan kebahagiaan yang unsur pembentuknya berasal dari "faktor internal" yakni kondisi hati, yang sepenuhnya ada dalam kontrol kita, terlepas kondisi eksternal yang terjadi.

Pemburu kesenangan akan sering terampas kesenangannya ketika mendapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, seperti; kekurangan harta, jatuh sakit, terkena musibah, dizalimi orang, dan lain sebagainya.

Pemburu kebahagiaan akan melihat setiap kejadian dari "kacamata spiritual", semua yang terjadi adalah hal yang wajar atau bahkan justru menguntungkan dirinya karena semua dalam pengaturan Allah : ditinggal mati orang yang dikasihi dianggap wajar, karena meyakini semua orang pasti mati jika telah tiba waktunya, diuji sakit atau musibah diyakini sebagai penggugur dosa atau peringatan untuk lebih taat kepada Allah; dizalimi orang tetap tenang, tidak terprovokasi, karena meyakini dia sedang "menitipkan pahala" untuk ditransfer di akhirat kelak dari orang yang menzalimi dirinya.

Bagi pemburu kebahagiaan, apapun yang diberikan Allah, jika tidak disukainya ia bersabar dan jika disukainya ia bersyukur. Ia selalu beruntung, beroleh pahala dari sabar dan syukurnya dan kebahagiaannya tidak terusik, apapun kondisi eksternal yang dihadapinya. Ia adalah orang yang kaya hati, mampu mengontrol hatinya karena hatinya dipenuhi oleh keyakinan illahiyah. Dan si pemburu kebahagiaan itu adalah sosok mukmin sejati, karena ia faham betul apa yang menguntungkan bagi dirinya dan agamanya.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Semoga bermanfaat, 
Tebet City, 9 Ramadhan 1434 H


Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar