Selasa, 20 Mei 2014

SEMUA ADA AJALNYA...


Segala sesuatu ada ajalnya…
Piring dengan pecahnya,
Daun dengan bergugurannya,
Harapan dengan sirna-nya, 
Dan hidup dengan kematiannya…
Semua ada ajalnya..


Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam kitab-Nya :


وَلِكُلِّ أَمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu), apabila ajalnya tiba, maka tidak dapat meminta penundaan dan percepatan sesaatpun.” (Q.S. Al-A’rof ; 34).

Sebagai seorang hamba hanya bisa bersabar, tidak menyalahkan, apalagi marah, menganggap Sang Khaliq tidak adil, dengan menahan rizqinya, atau menyirnakan harapannya, atau tak menjauhkan dari musibah, sementara Allah Azza Wajalla adalah Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha pengasih dan Maha Bijaksana.

Dan juga hendaknya seorang hamba tahu, memahami, bahwa setiap kejadian pasti ada waktunya, setiap musibah ada akhirnya, keduanya tidak bisa dimajukan atau diundurkan.

Begitupun sebuah harapan yang hilang…
Tetaplah yakin bahwa Allah Jalla wa ala akan menggantikan dengan yang lebih baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad no 23074)

Dan janganlah lupa, ketika sesuatu yang engkau cintai tiba – tiba hilang dari rengkuhanmu, ucapkanlah ;

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي ، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Verily we belong to Allah and truly to Him shall we return. O Allah! Protect me in this calamity that has befallen me and replace it with something better

Seorang hamba harus yakin bahwasannya sesungguhnya segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kehadapan-Nya, dan percayalah bahwa Allah akan menggantikan apa yang hilang dari hadapan kita dengan ganti yang lebih baik lagi.

Semisal seorang hamba memohon tibanya cahaya seperti cahaya diwaktu siang, sementara di tengah gulita dan pekatnya malam, maka permohonan itu akan sia – sia. Tapi jika engkau sedikit bersabar menikmati proses perjalanan malam yang pekat itu, maka sang malam kian memuncak hingga mendekati fajar, cahaya siang akan datang dengan cerahnya, entah seorang hamba itu menghendaki atau tidak. Dan jika pada waktu itu hamba menghendaki kembalinya waktu malam, maka do’anya tidak akan dikabulkan, dia akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu dan enggan.

Maka untuk menanti pergiliran antara musibah dan balasan yang lebih baik dari Allah, seorang hamba di tuntut bersabar menikmati prosesnya dan menjalani waktu bergulirnya proses itu. Tidak bisa Instan…

Sikap minimal yang harus diambil seorang hamba, adalah selalu mengingat kepada Robb-nya dan senantiasa men-tauhidkannya, dengan hanya meminta kepadanya tidak memohon kepada selainnya, juga tidak memohonkankan hajat kepada selainnya.

Selalu mengingat Allah Azza Wajalla, sepanjang waktu, siang maupun malam, sehat ataupun sakit, suka atau duka, memanjatkan doa pada-Nya serta Ridho dan pasrah atas segala kehendak-Nya, dan mengikuti takdir-Nya.

Ya Robb…
Aku memilih Cinta-Mu, walau harus kehilangan cintanya…

~abie Sabiella~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar