Selasa, 22 November 2011

al Itsar & al Muwasah



Mengutamakan Orang Lain (al-Itsar) dan Menolong Orang Lain (al-Muwasah) 

Di era globalisasi ini, sudah mewabah sikap individualis. Kalau dulu, contohnya Indonesia, rakyat terbiasa dengan semboyan gotong royong. Namun, temen-temen liat sekarang, terutama di kota-kota besar. Jarang sekali ada sekelompok masyarakat yang bersosialisasi bersama. Kalaupun ada, ikatan yang terjadi pun hanya ikatan kapitalis (berdasarkan manfaat), misal rekan bisnis, dsb.

Dalam Islam, dikenal sikap mengutamakan orang lain (al-itsar) dan menolong orang lain (al-muwasah).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata,
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shalallahualayhi wassalam. kemudian berkata, “Ya Rasulullah, aku sedang kesusahan.” Kemudian Rasulullah saw. mengutus di untuk menemui salah seorang istrinya. Maka istri Rasulullah berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apa pun kecuali air.” Kemudian Rasul mengutus laki-laki itu kepada istri beliau yang lain. Maka istri Rasulullah itu pun berkata seperti istri yang tadi,sehingga semua istri Rasulullah mengatakan hal yang sama. “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apa pun kecuali air.” Rasulullah saw. pun bersabda, “Siapa yang mau menjamu tamu pada mala mini?” Kemudian seorang lelaki dai kaum Anshar berkata, “Aku ya Rasul.” Orang Anshar itu lalu membawa laki-laki tadi ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, muliakanlah tamu Rasulullah saw. ini.” Dalam riwayat lain ia berkata kepada istrinya, “Apakah engkau punya sesuatu?” Istrinya berkata, “Tidak, kecuali makanan anak-anak kita.” Maka orang Anshar itu berkata, “Hiburlah mereka. Jika mereka mau makan malam, maka tidurkanlah mereka. Jika tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya seolah-olah kita sedang makan.” Kemudian mereka semua duduk, dan tamu pun makan. Akhirnya sahabat Anshar dan istrinya tidur dalam keadaan lapar. Ketika datang waktu Shubuh, sahabat Anshar itu pergi menemui Nabi saw. Nabi pun berkata, “Allah sungguh takjub karena perbuatan engkau bersama istrimu tadi malam, pada saat menjamu tamu.” (Mutafaq ‘alaih).

Sungguh luar biasa apa yang dlakukan sahabat di atas. Kondisinya tidaklah lebih, namun ia masih mengutamakan orang lain dari pada diri dan keluarganya. Mungkin, kalau sekarang, sebagian besar ngga akan mau ngelakuin hal tersebut. Itu karena dalam benak mereka, “Aku saja sudah susah, mau sok nolong-nolong orang segala,” itulah sikap individualis yang akan semakin menjauhkan kita dari cinta Allah.

Rasul shalallahualayhi wassalam juga bersabda, “Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang. Makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (Mutafaq ‘alaih)

Yang terjadi sekarang, orang-orang, terutama yang hartanya melimpah, senang untuk membuang-buang dan ‘mempuruk-purukkan’ makanan. Apalagi di bulan Ramadhan. Saatnya berbuka sering dianggap sebagai tindakan ‘balas dendam’ karena seharian tidak makan maupun minum. Sehingga ketika adzan dikumandangkan, mereka langsung menyantap seluruh makanan hingga kekenyangan. Tak terpikir bagi mereka ratusan jutaan saudaranya di belahan dunia lainnya bahkan sulit untuk mencari sesuap nasi atau seteguk susu.

Rasul juga menyukai orang-orang yang senang berbagi.
Dari Abu Musa ra., ia berkata,

“Rasulullah shalallahualayhi wassalam . bersabda, “Sesungguhnya kaum al-Asy’ariyin
jika bekal mereka dalam peperangan telah menipis,atau memiliki sedikit makanan untuk keluarganya di kampung halamannya, mereka akan mengumpulkan hartanya pada satu kain, kemudian membagi-bagikannya pada suatu wadah dengan bagian yang sama. Mereka itu termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka.”” (Mutafaq ‘alaih)

Wallahu 'alam bish shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar