Selasa, 22 November 2011

My Inspiration and enjoy the process of change



Beberapa waktu lalu, saya belajar akan sebuah kekecewaan. Pengharapan yang mungkin terlalu berlebihan.

Allah menegur saya perlahan, seakan memberi petunjuk kepada saya dengan sangat halus, walau saat itu saya sedemikian keras kepalanya.

Beberapa waktu lalu, saya dapat jawaban yang meneguhkan diri saya agar tidak mengedepankan emosi. Mengajak saya dengan kembali perlahan untuk mengambil hikmah yang seharusnya bisa saya lihat dengan baik.

Yach, belum lama ini, saya kembali diajak bersabar. Diajak mempelajari banyak hal untuk belajar. Siapa pun mereka yang mengecewakan atau menyadarkan, agar selalu menginspirasi.

Menginspirasi saya untuk tidak berbuat yang mengecewakan
Menginspirasi saya untuk bisa lebih menyadarkan…
Bukan tenggelam pada masalah yang kelihatannya belum selesai…

Lalu, di lain kesempatan, saya diajarkan untuk tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Mereka sama seperti saya, mudah mengecewakan, mudah melupakan, mudah berubah, mudah menyakitkan, mudah sekali berbuat apa pun…

Bahwa dengan begitu, jangan pernah saya bergantung dengan mereka. Siapa pun itu.
Kekecewaan seolah tak akan pernah berhenti ketika kita bergantung kepada manusia.

Bukan berarti kita sendirian…. tapi mencoba berpikir lebih matang lagi untuk jangan terlalu berharap banyak pada manusia… siapapun itu… Kita bertanggung jawab sendiri atas segala yang kita lakukan. Kita menjalani hidup kita sendiri atas apa yang kita kerjakan… hari ini, esok, dan seterusnya…

Ketika harapan ditumpukan pada manusia, dan yang kita dapat adalah kekecewaan… sampai kapan kita menikmati perasaan itu…

Saya manusia, saya pun sama…
mudah mengecewakan, walau tak berniat seperti itu
mudah lupa, walau tak disengaja
mudah menyakiti, walau tak ingin disakiti

Kini, saya hanya berpikir
siapa pun kita… boleh menginspirasi atas segala macam tindakan, ucapan… tapi kembali kepada Dia tempat kita bergantung dan memohon pertolongan…

Only Allah they can depend on...


Menikmati Sebuah Proses


Bersabar…
Nasihat yang sering kita dengar bersama.
Terdengar sederhana, namun penerapaannya begitu sulit.

Belakangan, kata ‘sabar’ sering terngiang-ngiang di kala kelelahan datang silih berganti. Ketika melihat waktu yang terus berjalan, sementara masih banyak proses yang harus dijalani.

Ishbir…
Berkali-kali juga terdengar dengan datar dan semangat ketika saya berada dalam situasi untuk memberi tahu… kalau memang belum waktunya.

Hari ini, sebuah curhatan dari seorang sahabat makin menyadarkan saya. Meyakinkan diri saya untuk sabar dan menikmati proses. Bahwa segala sesuatu itu berproses, tak langsung ‘ting’, jadi…

Bahwa ketika menginginkan sesuatu, ada tahapan-tahapan yang harus kita jalani dan itu tidaklah mudah.

Masih ingat cerita sebuah kepompong yang ingin menjadi kupu-kupu?
Karena alasan kasihan seorang anak manusia membantu proses itu… tapi apa yang terjadi? Kepompong memang akhirnya menjadi kupu-kupu, tapi tidak sesempurna kupu-kupu pada umumnya. Anak manusia itu ‘memaksa’ sebuah hasil, tanpa menikmat proses.

Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya karena pada lain kesempatan, seorang teman pernah menasihati. “Jangan terlalu memaksakan diri” Yach… kalau kita saja keras pada diri sendiri, siapa yang akan mentolerir sikap kita…

sahabatku…
mari kita sama-sama menikmati proses itu… 
Kita tidak pernah tahu akan mendapat apa di ujung jalan itu…
Kita akan bisa tahu ketika kita berjalan… menikmati proses sampai kita menemukan sebuah kotak yang ketika dibuka akan memberi kejutan indah buat kita.[] novikhansa



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar