Rabu, 16 November 2011

Mencari Sosok Ideal...


Di sela – sela kesibukan rutinitas kantor beberapa laki – laki dewasa terlibat perbincangan santai tapi nampaknya bukan hal – hal yang sering di obrolkan dalam keseharian mereka.


Edo, laki – laki lajang  yang cukup enerjik dalam kesehariannya, tiba – tiba melontarkan sebuah pertanyaan pada seniornya sebut saja mas Adam,

…” mas adam aku mau Tanya nich, “ jujur  ya mas, apakah istri mas adam sekarang ini adalah sosok wanita yang mas adam impikan saat dulu mas adam dalam pencarian sosok yang akan mas adam jadikan teman  sejati dalam hidup mas adam…?”


Sontak mas Adam kelimpungan mendapatkan pertanyaan  yang sama sekali nggak pernah  terfikirkan akan mendapatkan pertanyaan  se dasyat itu…


Sebelum mas Adam menjawab pertanyaan Edo, ia memberikan sebuah gambaran tentang kehidupan yang berkaitan dengan masalah keinginan dan takdir, antara obsesi dan hasil akhir dari sebuah ikhtiar, dan  antara harapan dan skenario Allah Subhanahu wa ta’ala. 


Ketika kita bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan pada suatu masa, hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Tidak ada satu peristiwa apapun di dunia ini yang terjadi hanya karena  factor kebetulan. Semua adalah bagian dari skenario  Sang Maha Pencipta. Bahkan bilangan tetesan air hujan ataupun daun – daun yang jatuh di rimba raya ini, semua itu bukanlah suatu kebetulan tapi qadar Allah. 


Begitupun halnya soal jodoh atau pasangan hidup, dengan siapanya adalah sebuah misteri di tambah lagi ideal  atau tidaknya jodoh yang kita dapatkan adalah sebuah kondisi  yang kita tak punya kuasa untuk menawarnya.

Lalu siapa pula yang memberikan kita kesempatan untuk melakukan pilihan…?
Kita bertemu begitu banyak orang yang menarik, pandai, baik, cantik, dsb. Namun kenapa Si A tertarik kepada si B yang mungkin tidak secantik si C, atau tidak sepandai si D, dan tidak sekaya si E, juga tidak sebaik si F? Mengapa setiap orang mempunyai kriteria, pilihan dan ketertarikan kepada orang yang berbeda? 

Dan tidak selalu yang baik, cantik, pandai, kaya dll selalu membuat orang tertarik kepadanya bukan..? 


Sosok ideal…


Adakah sosok ideal…? , sesungguhnya Ideal itu adalah sebuah persepsi, dimana setiap orang mempunyai standar keidealan yang berbeda – beda sesuai dengan tingkat obsesivitas  masing – masing pribadi. Ideal menurut sebagian kita, tapi bukan sebuah keidealan buat kelompok yang lain.

Ketika kita berdoa memohon petunjuk kepadaNya untuk dipertemukan dengan orang yang ideal  dan di saat yang tepat pula. Dan qadar Allah, kita bertemu dengan seseorang yang kita anggap tepat, kemudian kita memutuskan untuk mencintainya dan memilihnya untuk menjadi pendamping hidup kita. Kitapun sudah memikirkannya secara masak-masak, melakukan langkah langkah strategis, merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna.

Namun dalam perjalanan waktu, ketika belum sampai pada ujung akhirnya, ternyata Allah berkehendak lain. Seringkali kita merasa kecewa dan marah. Lalu kitapun bertanya ;
“Ya Allah, kenapa tak Kau kabulkan doaku…?”

Padahal tanpa kita sadari sebenarnya pada saat itu justru Allah sedang mengabulkan doa kita. Bisa jadi orang yang kita anggap sempurna, sebenarnya tidaklah seindah pencitraannya, tidak sesuai dengan doa-doa yang kita panjatkan selama ini. Kalaupun kita paksakan, bisa jadi akan mendatangkan lebih banyak kemudharatan dan penyesalan. Apa yang kita anggap baik belum tentu membawa kebaikan untuk kita. Dan sesungguhnya baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Begitu banyak keburukan tersembunyi di balik keindahan, demikian pula sebaliknya banyak kebaikan yang terlihat buruk di mata manusia.
Teringat dengan surat Al Baqarah ayat 216:


“……Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Yakinlah seindah indah rencana manusia, rencana Allah pasti jauh lebih indah
Sebenarnya Allah Yang Maha Tahu telah menyiapkan pendamping yang tepat dan terbaik untuk kita..Hanya saja kita tidak tahu siapa, kapan dan dimana? Di atas rencana ada rencana. Manusia bisa membuat sejuta rencana, tapi Allah punya hak prerogatif untuk mensukseskan atau menggagalkannya.Hanya saja seringkali manusia tidak sabar, terlalu cepat memvonis dan menilainya rencana Allah sebagai musibah, sehingga yang ada adalah suudzon kepadaNya. Dan seringkali pula kita baru meyadari hikmah, keburukan atau kebaikan di balik suatu hal setelah peristiwa tersebut terjadi.

Namun sangatlah tidak tepat jika kita mencari orang yang sempurna dalam segala-galanya. Kalau itu yang kita cari, dijamin kita tidak akan pernah menemukannya. Bukankah tidak ada satupun manusia yang tidak punya kekurangan? Tetapi Allah pun Maha Adil, Dia memberi kekurangan di satu sisi dan pada saat yang bersamaan Dia anugrahkan kelebihan dalam hal yang lain. Bisa jadi hal yang menurut pandangan kita, kita anggap sebagai suatu kekurangan, padahal justru itulah kelebihannya.Lagipula siapa yang berhak menilai seseorang? Bisa jadi orang yang kita anggap rendah derajatnya atau yang banyak kekurangannya di mata manusia justru jauh lebih mulia dalam pandangan Allah.

Lalu apakah kita sendiri merasa sebagai orang yang sempurna, sehingga menuntut pasangan yang sempurna? Ketika kita merasa diri kita sempurna, justru disitulah kekurangan terbesar diri kita yaitu merasa diri paling hebat, tidak punya kekurangan. Itulah kesombongan yang nyata. Allah sangat membenci orang yang sombong. Iblispun dikutuk dan dilempar dari syurga karena kesombongannya.

Jika kita memutuskan mencintai seseorang karena Allah dan untuk mencari keridhaan Allah, maka kenapa tidak kita serahkan pilihan sepenuhnya kepadaNya? Ketika kemudian Allah memilihkan seseorang untuk menjadi pasangan hidup kita, kitapun menerimanya dengan ikhlas karena dialah pilihan Allah. Dan segala sesuatu yang telah dipilihkan Allah untuk kita pastilah yang terbaik.

Namun ketika ternyata kita mendapati pasangan hidup kita ternyata tidak seperti yang kita harapkan.

Tetapi kita tetap yakin dialah pilihan terbaik yang Allah berikan kepada kita. Kita tetap ikhlas dan ridha pada ketentuanNya. Kita tetap belajar mencintai pasangan kita yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna, sesungguhnya itulah ladang amal kita, jalan kita menuju jannahNya.


Oke mas Adam…, Tapi pertanyaan saya belum di jawab mas Adam…,
Yang di awal tadi, “… apakah istri mas Adam sekarang ini adalah sosok wanita yang mas adam impikan saat dulu mas adam dalam pencarian sosok yang akan mas adam jadikan teman  sejati dalam hidup mas adam…?”


Harus jujur  ya do’…


Oo Iya dong Mas…


Hmmm…,  bukan do’…, tapi setidaknya aku  berusaha untuk mensyukurinya  dan menerima dia apa adanya.
Tetapi yang PASTI  , Allah Subhanahu wa ta’ala paling tahu yang terbaik buat kita, Bagian kita adalah, “Mensyukuri atas segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam hidup kita.


Semoga Allah menambahkan kenikmatan bagi hambaNya yang selalu bersyukur
Sebagai renungan, sudahkan kita mensyukuri sesuatu yang terjadi pada kita di hari ini..? 


" Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah nikmatku,
tetapi sungguh jika kamu mengingkari (kufur) nikmatku...maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih..." (QS.14:7).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar