Senin, 14 November 2011

Saat Cinta Bersemi



Allah menciptakan manusia dengan cinta-Nya. Dalam setiap tarikan nafas kita. Dalam setiap detak jantung, dalam setiap denyut paru-paru. Semua itu ada karena cinta-Nya kepada setiap makhluk-Nya. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya Alloh menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Dia tebarkan rasa cinta kepada setiap hamba-Nya. Binatang-binatang berusaha mencari pasangannya, meskipun ia harus bersaing keras untuk mendapatkan pasangannya, bahkan nyawa kadang harus tergadai. Itu yang ada pada sebagian binatang, sementara pada binatang yang lain seperti Merpati misalnya, alangkah indah kehidupan sepasang burung Merpati. Bahkan kita selaku manusia perlu meniru kehidupan keluarga sang Merpati.

Allah menciptakan makhluk-Nya dengan berpasang-pasangan. Hal ini agar setiap makhluk-Nya dapat bereproduksi dan berkembang-biak sehingga semakin menyemarakkan isi bumi.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Alloh menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Alloh mengembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisaa’ 4:1).

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhynya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Ruum, 30:21).

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat, 49: 13).


Islam menganggap, cinta merupakan sesuatu yang agung dan mulia. Cinta memiliki hubungan dekat dengan iman. Kesalahan dalam bercinta akan bisa berakibat kesalahan dalam keimanan. Oleh karena itu, Islam tidak menelantarkan dan menyalahgunakan cinta, menjadikannya komoditi, permainan, disejajarkan dengan nafsu kebinatangan. (Al Izzah edisi 45 Th. VI, 21 Sya’ban 1416 H/12 Januari 1996).

Cinta adalah fitrah manusia. Manusia akan sangat cinta kepada harta, perniagaan ataupun istri/wanita. Hal ini disinyalir oleh Alloh SWT dalam firman-Nya:

Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At taubah, 9: 24).


Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana kita semestinya menempatkan perasaan cinta tersebut? Kalau kita menempatkan cinta kepada Alloh, Rasul-Nya dan berjihad di atas perasaan cinta yang lain, maka selamatlah kita, tetapi ketika cinta kita kepada Alloh, Rasul-Nya dan berjihad lebih rendah daripada cinta kepada kerabat, istri, harta, maka Alloh akan mendatangkan adzab-Nya. Fenomena cinta dunia (Hubbudunya) telah melanda sebagian besar umat manusia. Tinggal kita menempatkan perasaan cinta tersebut sesuai dengan tempatnya yang semestinya.

Cinta kepada Alloh semestinya menjadi dasar cinta kita, karena dalam setiap gerak langkah kita ada karena cinta Alloh kepada hamba-Nya.

Imam Al Ghazali berkata, “Barangsiapa yang mengakui empat hal tanpa melakukan yang empat, maka dia adalah pembohong.

(1). Barangsiapa yang mengaku cinta surga, namun tidak beramal dengan taat, maka dia pembohong.
(2). Barangsiapa yang mengaku takut terhadap neraka dan ia tidak meninggalkan maksiat, itupun pembohong.
(3) Barangsiapa yang mengaku cinta terhadap Alloh, sementara ia selalu resah akan siksa-Nya, maka dia adalah pembohong”. (Al Ghazali)

Robi’ah berkata, “Engkau durhaka terhadap Tuhan, sedangkan engkau menampakkan kecintaan kepada-Nya; demi umurku sebagai taruhan (ukuran), maka itu merupakan sesuatu yang aneh. Andaikan cintamu benar, artinya engkau mentaati-Nya, karena orang yang cinta akan selalu patuh terhadap yang dicintai”.

Asy Syubali berfatwa, “Orang-orang yang punya rasa cinta terhadap Alloh akan mereguk minuman dari segelas cintanya, dan bagi mereka negeri dan bumi amat sempit. Mereka minum dan tenggelam dalam lautan rindu kepada-Nya, dan mereka merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya.”

Asy Syubali bersyair, “Ingat yang dicintai wahai tuanku, akan membuat aku mabuk: dan apakah engkau pernah melihat orang bercinta tanpa dirasuki mabuk kepayang!”.

Ada yang berkata, “Sesungguhnya seekor unta yang lagi mabuk, ia tidak akan mau makan rumput selama 40 hari. Namun bila dibebankan di punggungnya, iapun akan membawa beban itu. Manakala sekerat hati mengebu-ngebu ingat terhadap kekasih, iapun enggan memasukkan makanan dan tidak peduli beban di punggung tetap ditanggung demi rindunya terhadap kekasih. Unta saja bisa meninggalkan kesenangan yang diharamkan Alloh! Apakah kamu enggan menambah beban berat demi Alloh Ta’ala! Kalau kamu tidak mampu, artinya pengakuanmu menyatakan cinta tinggal nama tanpa suatu makna. Tidak akan berguna di dunia maupun di akherat, juga dihadapan sesama makhluk atau kelak di dunia maupun kelak di hadapan Sang Pencipta.”

Ali kw. Berkata, “Barangsiapa yang merindukan syurga, tentu ia berkemas-kemas menuju segala bentuk kebajikan. Dan barangsiapa yang takut terhadap neraka, iapun akan mencegah nafsunya dari yang disenangi. Dan barangsiapa yang meyakini mati, pasti semua kenikmatan dunia dianggap remeh.”

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=277299892285433&set=t.100000708288670&type=1&theater

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar