Senin, 27 Februari 2012

Saat kau tiada...




“Kalau sudah tiada baru terasa! Bahwa kehadirannya sungguh berharga,”

 Demikian sebuah lirik lagu yang pernah aku dengar...

Terkadang kehadiran seseorang baru berarti bagi kita ketika orang tersebut sudah tiada, jauh, menghilang dan pergi meninggalkan kita. Sama halnya dengan sesuatu yang lain yang berharga bagi kita, ternyata keberhargaannya baru terasa ketika sesuatu itu sudah tak lagi kita miliki.
Memang penyesalan selalu datang terlambat!

 Sebagaimana betapa berharganya seseorang atau sesuatu. Ketika itu semua sudah tiada kita miliki lagi, sudah menjauh dan sudah meninggalkan kita, kita baru tersentak-termenung, mungkin menangis dan bertanya pada diri sendiri kenapa harus berakhir seperti ini…

Penyesalan selalu datang belakangan dan acapkali kita tak menyadarinya saat – saat dimana kita belum kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

Padahal, ketika sesorang atau sesuatu masih ada di dekat kita, masih terlihat dan masih kita rasakan keberadaannya, mungkin kita tak memedulikan, cuek atau dalam beberapa hal tak jarang malah menyakitinya.
Aku ingin berbagi kisah, kisah tentang penyesalanku atas sebuah prahara yang meninpaku bersama sahabat, adek, saudara seiman dalam perjuangan, beberapa waktu yang lalu…

Selama ini kami sejalan seirama dalam banyak hal yang pada intinya kami saling mendukung aktifitas yang kami masing – masing.

Banyak hal yang sering aku diskusikan bersamanya via sms, bbm, ym dll, sekali waktupun terlibat obrolan langsung sambil lalu…

Kurang lebih 5 tahun kebersamaan bersamanya, aku tau persis sifat – sifatnya dan dia  pun tau sifat – sifatku bahkan kebiasaan buruku pun ia ketahui…

Sebenarnya perbedaan antara kita sudah kita ketahui sejak lama, dan engkau maupun aku sama – sama nggak ingin mengungkitnya, karena jika terungkit perbedaan itu maka sudah barang pasti perdebatan dan perselisihan bakal terjadi.

Sebenarnya hampir kita berhasil untuk meredam perbedaan ini demi sebuah kebersamaan dalam kasih sayang dalam artian yang sangat luas.

Dan terakhir, aku juga nggak tau kenapa tiba – tiba engkau mengungkit dan memperuncing perbedaan itu, mungkin setelah engkau gagal mencoba beribu cara tuk membenciku, kemudian cara ini engkau tempuh...,al hasil perselisihan sampai pada titik puncaknya,

Dan…

Semua harus berakhir disini…???

Sahabat,

Smoga kau tak membenciku sebagaimana aku tak akan pernah membencimu…

Jakarta, 27 feb 2012

abiesabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar