Kamis, 08 Maret 2012

“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.”



كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Āli `Īmrān [3]: 185.)

Kematian adalah langkah awal dari perjalanan agung yang memisahkan suami dari istrinya, orang tua dari anaknya, kekasih dari yang dicintainya dan saudagar dari kekayaannya. Perjalanan yang bermuara kepada keabadian; kenikmatan Surga atau kesengsaraan Neraka. Kematian merupakan hal yang diyakini namun sering kali sengaja dilupakan atau terlupakan; perkara yang diketahui akan tetapi begitu banyak diabaikan. Karena itulah, Nabi—shallā’Llāhu `alaihi wa sallam—mengingatkan,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ – يَعْنِي الْمَوْت

Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yakni kematian).” [Riwayat at-Tirmidzi IV/553/2307, Ibn Mājah II/1422/4258, dan lain-lain.]

Bapak Sholihun, demikian orang - orang memanggilnya, dan aku biasa memanggil beliau "Be" asal kata dari Babe ( Bapak : Betawi ). Keseharian beliau adalah petugas harian masjid kami ( Masjid Nurul Haq - kebon baru Tebet ), Kebersihan masjid dan parkir kendaraan yang singgah di masjid itu adalah tanggung jawab beliau dan kesemuanya itu beliau lakukan dengan penuh tanggung jawab dan penuh keikhlasan.

Semalam beliau masih asyik bercengkrama dengan jamaah sholat isya, dan 2 atau 3 hari yang lalu aku sempat ngobrol sama beliau tentang sisa pembagian beras yang rutin di bagikan ke jamaah sholat subuh setiap sebulan sekali. Aku bilang sama beliau, "Pak..., itu beras sisa yang dibagikan nggak usah nunggu bulan depan di baginya kembali, toh setiap bulan pasti tersisa, dan beras yang sisa itu boleh di ambil di pertengahan bulan bagi yang membutuhkan, dan Babe lah yang tau siapa yang berhak menerimanya..." kataku.., beliaupun meng iyakan...

Belum sampai pada pertengahan bulan, ternyata Beliau telah pergi menghadap Sang Kekasih Abadi Allah Jala wa ala...

Allahumma firlahu warhamhu wa'afihii wafuanhu...

Selamat jalan Babe...
Dan ternyata pesan itu kemaren sebelum beliau wafat (semalam pukul : 23.30 wib)telah di sampaikan pada rekan sepekerjaannya (sesama petugas kebersihan masjid) dan tadi pagi aku terkejut, ternyata amanah yang aku sampaikan beberapa hari yang lalu telah di sampaikan ke rekannya sbelum beliau wafat, Subhanallah...,

Kebergian Babe sebagai nasehat buat kami semua...

Babe adalah sosok sederhana yang peranannya mungkin di pandang sebelah mata oleh sebagian orang tapi kalau saja kita mau melihat secara cermat, betapa tidak nyamannya kita beribadah di masjid saat keadaan masjid terlihat kotor, toilet bau dan sampah berserakan..., peranan siapakah kira - kira ketika sebuah masjid terlihat bersih, indah dan nyaman...? orang - orang seperti Bapak Sholihunlah yang berada di garis depan pada penciptaan suasana yang indah, bersih dan nyaman itu.

Babe juga sosok yang rajin dan sabar, betapa tidak..., kita bisa lihat saat - saat Ramadhan, Iedul fitri maupun Iedul Adha, sosok seperti pak Sholihun pula yang terlihat sekali peranannya, terutama secara fisik...

Apakah seseorang seperti Bapak Sholihun ini bekerja untuk sebuah pamrih duniawi...? aq yakin sekali orang seperti Babe ini sangat jauh dari hal - hal semacam itu, berbeda dengan orang - orang yang terpandang di masyarakat, segalanya mesti terekspos media...

Semoga Babe mendapat kemudahan di perjalanannya yang panjang...

Selamat Jalan Babe... 

Dan kepergian Babe sebagai nasehat berharga buat kami, kata ulama salaf bahwasannya ;

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.” [Lihat Shifah ash-Shafwah vol. I, hal. 639; al-`Āqibah fī Dzikri'l Maut, hal. 43; dan al-Ihyā', vol. IV, hal. 450.

Ka`b berkata, “Barangsiapa mengenal kematian, niscaya menjadi remehlah segala musibah dan kegundahan dunia.” [Al-Ihyā', vol. IV, hal. 451.]

Terkadang seseorang menyadari tengah jauh dari-Nya, sehingga terpuruk dalam kehampaan jiwa yang demikian menyakitkan, meskipun secara zahir dikelilingi oleh kenikmatan duniawi. Ia ingin keluar dari kondisi tersebut, namun ia bingung untuk mencari penawar yang praktis dan tepat. Mengingat kematian adalah kunci dari obat rohani yang sangat efisien dan ampuh. Apapun bentuk kesenangan yang melenakan dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa harta, wanita, jabatan, anak-anak dan lain sebagainya, seluruhnya akan terputus oleh kematian.

`Umar Ibn `Abdu’l `Azīz berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian. Sekiranya engkau hidup dalam kelapangan maka hal itu akan menyempitkanmu. Namun apabila engkau hidup dalam kesempitan maka hal itu akan melapangkanmu.” [Al-Ihyā', vol. IV, hal. 451.]

Tidak cukupkah kematian sebagai nasehat? Bayangkanlah ketika datangnya kematian dengan sekaratnya, alam kubur dengan kesunyian dan kegelapannya, hari kebangkitan dengan detail perhitungannya, serta Neraka dengan siksanya yang kekal atau Surga dengan kenikmatannya nan abadi.

Kita masih saja terperdaya oleh kelezatan dunia yang fana. Saat kematian membawa kita ke kubur, adakah kenikmatan dunia yang masih terasa? Semuanya musnah tak berbekas. Mana rumah yang megah, pakaian yang indah, wajah yang rupawan, tubuh yang bagus, istri yang jelita, kekasih yang dicintai, anak yang dibanggakan, jabatan yang tinggi dan kedudukan yang terhormat? Kita terbenam dalam tanah. Di atas, bawah, kanan dan kiri kita hanyalah tanah. Tiada kawan kecuali kegelapan yang sangat pekat, kesempitan dan serangga yang menggerogoti daging kita. Kita benar-benar mengharapkan kumpulan amal shalih yang mendampingi dan membantu kita, namun sayangnya harapan dan penyesalan tidak lagi berguna.

Kita menganggap kematian itu berada pada posisi yang sangat jauh dari kita, padahal ia begitu dekatnya. Waktu berlalu bagaikan kedipan mata. Masa kecil dan remaja bertahun-tahun yang lalu hanyalah bagai hari kemarin, dan tanpa terasa kita telah berada di hari ini. Begitu pula yang akan terjadi dengan esok hari. Sampai kemudian kematian tiba-tiba datang menjemput kita untuk mengarungi sebuah perjalanan yang sangat penjang dan berat, sementara kita belum memiliki bekal untuk itu, karena kesengajaan dan kelalaian kita.

Semoga ada manfaatnya...

Jakarta, 08 Maret 2012

Abie Sabiella



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar