Rabu, 14 Maret 2012

Senja Ungu...



Gundah meraja di ujung senja merona, bekas luka  lara di hati masih terasa pedih dan perih…

Duhai luka, lekas enyahlah dari dada ini, agar aku mampu bernafas dengan lega…

Duhai luka nestapa, sirnalah dari pandanganku, agar wajah ini terasa lebih bersih menatapmu. Agar hati ini terasa basah mengejarmu…

Pada warna senja yang begitu ungu, kutitipkan beberapa kata di atas awan yang pernah ku goreskan dengan tinta hitam, 

Seketika aku terhenyak ke sisi terapuh dalam diriku, aku merasa tak mampu dan tidak berkemampuan dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup ini…

Gelimang noda dan dosa menenggelamkanku pada  kehinaan yang dalam…
Gelap,
Suram,
Pekat,
Bagai getah yang lekat, Erat melekati kulit batang-batang pohon. 

Dari patahan dahan dan daun-daun dari ranting kering , atau seperti pekatnya cairan malam menitis pada kain sebentang, membentuk gambar-gambar rumit bercorak kawung…

Ach…, senja yang ungu, bagaimana aku bisa memintamu menempa warna-warni lukisanku, sedang tinta-tinta itu terlalu pekat, sedang gambar-gambar itu terlanjur lekat…

Semoga luka-luka ini cepat sirna, semoga rasa perih ini cepat reda. Agar hati ini mampu merunduk. Agar hati ini mampu melunak. Dengan kata cinta yang terpercaya...


Luka di senja Ungu…
Dari sekeping hati nan rapuh…

Batavia, 14 Maret 2012

@bie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar