Jumat, 30 Maret 2012

Sikap Seorang Muslim Ketika Sakit...



Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala, bahwa Alloh akan mengasihinya dan tidak menyiksanya. Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Alloh.” (HR: Muslim).

Berada antara takut dan penuh harap, takut pada siksa Alloh dan berharap pada keluasan rahmatNya, Rasululloh bersabda, yang artinya: “Tidaklah menyatu (rasa takut dan harapan) dalam hati seorang hamba pada saat seperti ini (sakit) kecuali Alloh mengabulkan harapannya dan memberikan kepadanya rasa aman dari apa yang ditakutkannya.” (HR:At-Tirmidzi dengan sanad hasan).

Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya juga tidak mengharapkan kematian meskipun penyakitnya sangat parah. Namun kalau terpaksa hendaknya berdo’a: “Ya Alloh, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Jadikanlah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan bagiku dan kematian sebagai istirahatku dari segala keburuk-an.” (Hadits Anas bin Malik-HR: Al-Bukhari dan Muslim).

Jika ada hak-hak orang lain yang menjadi tanggungannya, baik berupa hutang, amanat atau lainnya hendak-nya bergegas mengembalikan atau menunaikannya. Dibenarkan untuk mewasiatkan sebagian hartanya untuk hal-hal yang baik, dan tidak dibenarkan lebih dari sepertiga. Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda tentang wasiat: “Sepertiga, dan sepertiga itu jumlah yang besar.” (Muttafaq ‘Alaih).

Wasiat yang dibuat tidak boleh bersifat merugikan, seperti berwasiat tidak memberikan harta peninggalannya kepada sebagian ahli warisnya, atau mewasiatkan sebagian hartanya kepada salah seorang ahli waris, karena tidak dibenarkan mewasiatkan harta kepada ahli waris, sebab masing-masing dari mereka telah mendapat bagian waris sebagaimana yang ditentukan syari’at.

Hendaknya orang yang sakit selalu menjaga shalat, menghindarkan diri dari apa-apa yang najis dan bersabar dalam beratnya melakukan hal tersebut. Wajib bagi setiap muslim, terutama yang sedang sakit untuk bertobat kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala dari segala dosa dan hendaknya memperbanyak membaca Al-Qur’an,dzikrullah, do’a, istighfar, bertasbih dan bertahlil.

Do’a-do’a Untuk Orang Sakit

Alloh Subhannahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hambaNya senantiasa ber-do’a. Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuper-kenankan.” (QS: Al-Mukmin: 60).  “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku .” (QS: Asy- Syu’ara: 80).

Nabi shallAllohu ‘alaihi wasallam biasanya meletakkan tangannya pada tubuh orang yang sakit seraya berdo’a, yang artinya: “Ya Alloh Tuhan segenap manusia, hilangkanlah sakit dan sembuhkan-lah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali dengan penyembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaq ‘Alaih).

Beliau juga mengajarkan kepada sahabatnya yang sakit untuk berdo’a, seraya bersabda, yang artinya: 

“Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: ‘Bismillah’ Tiga kali, kemudian ucapkan ‘A’udzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadzir’u (Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Alloh dari keburukan yang aku dapati dan aku takutkan) sebanyak tujuh kali.” (HR: Muslim). 

Sahabat tersebut berkata: “Maka aku lakukan (nasihat beliau) dan Alloh Subhannahu wa Ta’ala  pun menghilangkan penyakit yang selama ini aku derita”.

Risalah Kepada Orang Yang Sakit


Wahai hamba-hamba Alloh yang sedang sakit…, Semoga Alloh Subhannahu wa Ta’ala menyembuhkan antum dan menjadikan antum sebagai kekasihNya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Alloh Subhannahu wa Ta’ala melimpahkan nikmatNya kepada antum baik secara lahir maupun batin. Semoga pula antum termasuk golongan yang apabila mendapatkan kenikmatan bersyukur, apabila mendapat ujian bersabar, dan jika melakukan dosa segera beristighfar.

Dalam kehidupan di dunia ini, setiap manusia tidak akan terlepas dari dua keadaan yaitu Nikmat dari Alloh Subhannahu wa Ta’ala yang tidak terhitung banyaknya yang harus dipertahankan dengan bersyukur. dan Ujian-ujian dari Alloh Subhannahu wa Ta’ala, seperti sakit, rasa takut lapar dan sebagainya. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah bersabar.

Sabar adalah menahan diri dari rasa kesal terhadap takdir, menahan lisan dari mengeluh kepada sesama makhluk yang lemah, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat, seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian dan sebagainya.



Kewajiban Bersabar 

Setiap muslim wajib bersabar ketika tertimpa suatu musibah. Namun tidak mengapa bagi si sakit memberitahukan sakitnya tanpa mengeluhkannya kepada sesama makhluk. Lalu hendaknya ia mengatakan, yang artinya: “Ini telah ditakdirkan oleh Alloh, dan Alloh melakukan apa yang dikehendakiNya. Segala puji bagi Alloh dalam segala keadaan. “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditentukan oleh Alloh bagi kami’.” (QS: At-Taubah: 51).



Keutamaan Bersabar

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallAllohu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan bersabar serta menerangkan keutamaan dan pahalanya. Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepadaNya-lah kami kembali’, mereka itulah yang mendapat kesabaran yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqarah: 155-157).



Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10).

Sabda Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wasallam, yang artinya: “Dan barangsiapa berusaha sabar, Alloh akan menjadikannya bersabar, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan karunia (dari Alloh) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (Muttafaq ‘Alaih).

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, semua urusannya baik baginya dan hal ini tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin, jika dia mendapatkan kebahagiaan bersyukur dan itu baik baginya, dan jika dia tertimpa musibah bersabar dan itu baik baginya”. (HR: Muslim).
Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan duka yang menimpa seorang muslim hingga duri yang menusuknya kecuali Alloh menghapuskan dosa-dosanya karena hal-hal tersebut.” (HR: Al-Bukhari dan Muslim).

“Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, dan apabila Alloh menghendaki keburukan pada seorang hambaNya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR: At-Tirmidzi dan di hasankannya).

“Sungguh besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan-cobaan; dan sungguh Alloh Ta’ala apabila mencintai suatu kaum diujiNya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Alloh, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Alloh.” (HR: At-Tirmidzi dan meng-hasan-kannya).

“Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin baik pada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehingga dia memjumpai Alloh dalam keadaan bersih dari dosa.”




Anjuran Berobat 

Orang yang sakit dianjurkan untuk berobat dengan cara dan obat-obatan yang dibolehkan, Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidaklah Alloh menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula penangkal (obatnya), maka berobatlah kalian.” (HR: Al-Hakim dan Ibnu Hibban dan men-shahih-kannya).

Tidak dibenarkan berobat dengan cara dan sesuatu yang haram, seperti berobat kepada dukun, atau berobat dengan arak, darah, ular, daging monyet ataupun hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh tidak menjadikan kesembuhanmu pada apa-apa yang diharamkan atasmu.” (HR: Ath-Thabrani dengan sanad shahih).
“Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallAllohu ‘alaihi wasallam.” (HR: Abu Dawud).

(sumber Rujukan: Al-Hadiqatul Yani’ah minal ‘Ulumin Nafi’ah, Syaikh Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah)
Sumber: www.mediamuslim.info

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar