Kamis, 26 April 2012

Why...? Limadza...?



Suami-istri adalah pasangan yang ditakdirkan Allah jala wa ala untuk berpasangan dalam mengarungi kehidupan ini. Mereka adalah pasangan demi meraih tujuan. Suami adalah nakhoda dan istri beserta dengan anak adalah penumpang. 

Kadang nakhoda perlu ditegur jika terlihat haluan kapal berubah. Namun, sungguh disayangkan jika justru penumpang kapal lain yang memberikan teguran.

 Istri kok tidak bertegur sapa dengan suami dan tidak bangga kepadanya. Ada apa ini...? 

Aku punya banyak kawan yang berlainan jenis. Ketika aku bertemu dengan mereka, aku sering mendengar dan mendengarkan banyak kisah kehidupan pribadinya. Kisah-kisah itu diceritakan oleh teman-teman wanita. Namun, sungguh aku terheran-heran. 

Mengapa...?

Karena ternyata di antara wanita - wanita yang sudah bersuami itu justru lebih bangga menceritakan kehebatan lelaki lain daripada suaminya.

Aku gak habis pikir mengapa para istri itu bersikap dan berperilaku demikian. Para wanita itu sering menceritakan kehebatan lelaki lain karena kepintarannya, kesantunannya, kesetiaannya, kekayaannya, dan loyalitas kepada wanita. 

Para wanita itu begitu bangga mengisahkan kehebatan lelaki yang bukan suaminya itu tanpa diliputi perasaan malu atau sungkan. Dia begitu sadar dengan ceritanya itu sedangkan pendengar juga begitu sadar bahwa betapa kurang ajarnya wanita itu. Sudah memiliki suami tetapi justru menceritakan kehebatan lelaki lain. 

Tidak ada dan tidak akan pernah ditemukan lelaki dan perempuan sempurna. Semua pasti memiliki kekurangan. Justru adanya kekurangan itu dapat dimanfaatkan agar mereka saling melengkapi kekurangan tersebut. 

Allah subhanahu wata’ala  begitu adil dan sangat bijaknya mengatur kehidupan mahluknya tak terkecuali manusia. Bukankah kekurangan pasangan justru dapat digunakan sebagai media komunikasi sehingga tercipta hubungan yang harmonis, saling melengkapi dan saling mendukung...

Jangan sebaliknya, kekurangan suami diceritakan kepada orang lain dan kelebihan lelaki lain diceritakan kepada sesamanya. Ketika aku mendengar cerita-cerita itu, sungguh emosiku meluap-luap, darahku naik sampai di ubun - ubun. 

Aku merasakannya sendiri betapa beratnya tugas seorang suami. Para lelaki itu bekerja membanting tulang, pergi pagi pulang malam, dan memberikan hasil keringat itu kepada istri dan buah hati tercinta. 

Dinginnya udara pagi yang menusuk tulang tak lagi dirasakan. Jauhnya jarak tempuh tak pernah di perhitungkan. Besarnya gaji tak pernah terpikirkan, hanya satu hal yang ia pikirkan: Tanggung jawabnya terhadap keluarga

Jika sudah memiliki lelaki atau suami, hendaknya para istri tahu diri dan belajar menghormatinya. Hendaknya para istri tidak bersikap mendua perhatian kepada lelaki lain. Jelas perilaku seperti ini teramat kurang terpuji. 

Banggalah dengan suamimu, meskipun dirinya memiliki banyak kekurangan.
Ingatlah…, baktimu padanya mampu mengantarkanmu ke gerbang syurga dan engkau bebas untuk memasukinya dari pintu yang mana engkau suka…

Dari Abu Hurairah Radhiallahuan berkata :" Rasululllah Shalallahualaihi wassalam bersabda :"

“ idzaa sholatil mar’atu khomsaha, wa shomat syahroha, wa hashonat farjaha, wa atho’at ba’laha dakholat min ayyi abwaaba jannata sya’at.” 

Apabila seorang wanita (menjaga) sholat lima waktunya, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya. niscaya dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia sukai. (HR. Ahmad, Abu hurairah dan Ath-Thabrani)

Janganlah suka membanggakan lelaki lain,

Mengapa…???
Karena dia bukan apa-apamu…!!!

Abie sabiella
Jkt, 26042012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar