Kamis, 31 Mei 2012

IKHWAL BALAS BUDI

Kerjasama menepis segala kesulitan

Menyoal  tentang balas budi, banyak sekali kisah – kisah perjalanan hidup seseorang yang berkaitan dengan balas budi, dan satu di antara kisah – kisah itu adalah kisahku ini :


Aku teringat sebuah peristiwa 16 tahun yang lampau, saat aku melakukan safar ke sumatera, tepatnya di pulau sumatera bagian yang paling ujung bawah pulau sumatera yakni lampung, dimana di sana kedua orang tuaku tinggal bersama adek – adekku…

Qadar Allah, dalam perjalanan aku berbarengan dengan sebuah keluarga kurang lebih terdiri dari 5 orang,  sepasang suami istri dan ketiga anak – anaknya, ternyata keluarga ini terkena musibah kecopetan yang mengakibatkan ludesnya ongkos yang mereka persiapkan untuk perjalanan menuju kampung halamannya.

Alhamdulillah…
Aku bersama kakakku masih punya sedikit persediaan uang, akhirnya kami bagi dua dengan keluarga yang  kena musibah itu, dan akhirnya kami berpisah menuju kota tujuan masing – masing dengan kami tidak sempat berkenalan lebih jauh lagi, dan kami melupakan semuanya itu…

Berselang beberapa waktu kemudian, pada saat aku kembali ke jakarta, tidak di sangka terjadi kemacetan yang luar biasa pada saat itu, terjadi penumpukan ribuan penumpang  di pelabuhan merak – Banten,  Dinas Jasa marga mengerahkan bus – bus pariwisata untuk mengangkut tumpukan penumpang itu, bisa di bayangkan bus – bus itu menetapkan tariff yang tidak wajar (mahal), sehingga uang yang tersisa tidak mencukupi untuk  ongkos perjalanan yang lumayan melelahkan itu.

Qadar Allah, ada seorang laki – laki baik menolongku dengan membayarkan kekurangan ongkos bus yang aku tumpangi menuju Jakarta.

Subhanallah…
Apakah ini balas budi…, aku tidak tau, yang pasti semua itu sudah Allah takdirkan, di dalam perjalanan kehidupanku…

Yang terpenting yang harus kita fahami pada saat kita di berikan peluang untuk menolong sesama dalam sebuah kesulitan hidup, jangan pernah mengharapkan balasan dari orang yang kita tolong pada saat itu, karena boleh jadi pada saat kita di rundung duka nestapa, di himpit kesulitan yang amat pelik, justru orang – orang yang tidak pernah kita kenal yang menolong kita, seperti realita yang pernah aku alami.

Tapi…
Pada saat kita menerima pertolongan orang lain, jangan lupa untuk berterima kasih kepada mereka yang telah menolong kita, karena ini merupakan akhlaq yang sangat terpuji.

Islam mengajarkan kita untuk dapat berlaku baik terhadap manusia. Allâh Ta'ala mencintai bahkan memerintahkan kebaikan dalam setiap perkara. Allâh Ta'ala berfirman yang artinya

Sesungguhnya Allâh memerintahkan perbuatan adil dan kebaikan (Qs an-Nahl/14:90)

Maka janganlah seseorang di antara kita enggan untuk menolong sesama dan jangan pula mudah melupakan budi baik orang lain. Sungguh, seseorang yang melupakan budi baik orang lain adalah seseorang yang tidak pandai berterima kasih. Padahal berterima kasih kepada manusia atas kebaikan mereka adalah bagian dari makna bersyukur kepada Allâh Ta'ala.

Sebagaimana yang disabdakan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :

Tidaklah seseorang bersyukur kepada Allâh   seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia (atas kebaikan mereka). (Shahîh Sunan Abi Dâwud no. 4811)

Dalam hadits yang lain,

Barang siapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh… (Shahîh Sunan at-Tirmidzi no. 1954)

Allâh Ta'ala tidak menerima syukur seorang hamba kepada-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan, tatkala dia tidak pandai berterima kasih atas kebaikan manusia kepadanya. Yang demikian karena (kuatnya) hubungan kedua hal tersebut satu dengan yang lain. 

Makna lain dari hadits di atas adalah barangsiapa memiliki kebiasaan tabiat mengingkari budi baik manusia dan tidak bersyukur (berterima kasih) atas kebaikan mereka, maka niscaya dia memiliki tabiat kebiasaan mengkufuri nikmat Allâh Ta'ala dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. 

Ada pula makna lain yang terkandung dalam hadits di atas, bahwa barang siapa tidak mensyukuri (kebaikan) manusia, maka dia layaknya orang yang tidak mensyukuri Allâh Ta'ala. Semua makna ini terpetik melalui penyebutan nama Allâh Ta'ala Yang mulia (dalam hadits di atas. (An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîts hlm . 488)

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan yang mulia telah mencontohkan bagaimana menyikapi orang yang telah menyodorkan satu kebaikan kepada beliau. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu'anha pernah berkata “Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pernah menerima hadiah. Dan Beliau membalas hadiah itu dengan kebaikan”

Barang siapa mendambakan untuk dijauhkan dari (adzab) api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah (ketika) kematiannya datang menjemput, ia (dalam keadaan) beriman kepada Allâh dan hari Akhir. Dan hendaklah memperlakukan manusia dengan cara
yang ia sukai untuk diperlakukan dengannya.
HR. Muslim no. 4753

Subhânallâh… Ini adalah bagian dari tuntunan indah Dien al  Islam dalam bermu'amalah dengan manusia.
Dalam kesempatan lain, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Aku menjamin sebuah rumah di bagian tepi surga bagi seorang yang meninggalkan debat kusir sekalipun dirinya adalah pihak yang benar. Aku menjamin sebuah rumah di bagian tengah surga bagi yang meninggalkan dusta sekalipun dia tengah bercanda. Dan aku menjamin sebuah rumah di bagian paling atas surga bagi seorang yang mulia akhlaknya." (Shahîh Sunan Abu Dâwud no. 4800 dengan sanad hasan)

Pribadi yang pandai berterima kasih terhadap sesama adalah indikasi  pribadi seorang hamba yang pandai pula bersyukur pada Robb-Nya, dan ini adalah akhlaq Nabi, akhlaq para sahabat, akhlaq orang – orang shalih, akhlaq insan – insan bertaqwa…

Berbalas budi…, Akhlaq Islami…
Berbalas budi.., Ciri muslim sejati…

Barakallahufiekum…

Jakarta, 31 Mei 2012
Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar