Minggu, 17 Juni 2012

Kewajibanmu adalah Hak-ku...




Allah Ta'ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (An-Nisa': 34)

بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

"karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)"

Ayat di atas menggambarkan tentang metode yang berguna untuk keluarga dan kehidupan rumah tangga. Seorang suami dituntut untuk mengatur, meluruskan, dengan tegas terhadap istrinya. Seorang suuami wajib bekerja mencari rizqi dari kebutuhan primer maupun sekunder, sebaliknya istri tidak diwajibkan atas hal itu. Makanya, suami itu seperti seorang pengembala yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya, sehingga dengan superioritasnya seorang suami harus mengurus rumah tangganya sesuai dengan Syariat Allah Ta'ala.
Sedangkan  sikap seorang istri harus menghargai dan menerima pemberian suami.
Seorang istri wajib menerima pemberian dengan senang hati, meski pemberian itu kurang berkenan dihatinya, Menjaga kehormatan diri dan harta suami,

Sabda Rasulullah Shalallahualaihi wassalam, “Perempuan (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya itu serta tentang harta suaminya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Menyenangkan hati suami, Untuk itu Rasulullah menganjurkan agar para istri berdandan dihadapan suaminya.
“Sebaik-baiknya perempuan (istri) ialah yang menyenangkanmu jika engkau memandangnya.” (HR. Tabrani).

Sangat mudah bagi istri untuk bisa merawat dan mempercantik diri untuk suami di rumahnya.

Melayani suami dengan baik, Pekerjaan mengatur rumah dan segala isinya adalah tugas istri termasuk juga melayani suami selama istri mampu melakukannya.

 Rasulullah Shalallahualaihi wassalam bersabda, 

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhannya, hendaknya si istri mendatanginya meski ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Taat dan patuh kepada suami, Inilah kewajiban paling utama seorang istri. 

Rasulullah Shalallahualaihi wassalam bersabda,

 “Sebaik-baiknya istri ialah jika memandangnya kamu akan terhibur. Jika kamu menyuruhnya, ia akan menurut patuh. Jika kamu memintanya melakukan sesuatu, ia memenuhinya dengan baik, dan jika kamu bepergian, ia menjaga dirinya dan harta bendamu.” (HR. Nasa’i).
 Saat terjadi pertengkaran pun, istri harus tetap hormat kepada suami. Namun, perlu diingat, tidak ada ketaatan terhadap mahluk jika menyuruhnya untuk bermaksiat kepada Allah.

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu).

Embrio Konflik

Manusia bukanlah sosok mahluk  yang statis, tetapi sangat dinamis. Perasaan dapat berubah setiap waktu. Dan cinta pun dapat terbang  bahkan hilang. Ikatan pernikahan pun bisa menjadi lemah bila tidak dijaga dengan baik dan kebahagian di dalam rumah tangga pun tidak bisa dijamin akan berlangsung terus. Perlu usaha dari kedua belah pihak suami istri untuk saling menjaga keberlangsungan cinta dan kasih mereka. Ibarat sebuah pohon, tanahnya perlu dirawat, dijaga dan dipupuk.

     Tidak menutup kemungkinan dalam sebuah rumah tangga terjadi  Miscommunication  , dan tentu ini akan menjadi embrio terjadinya konflik jika antar pasangan kurang tidak menyadari  yang menjadi akar permasalahan yang memicu konflik itu, dan biasanya memang ada hak atau kewajiban suami istri yang tidak di jalankan.

sebuah pernikahan tidak akan memcapai sebuah kebahagiaan jika kedua belah pihak tidak memperhatikan hak dan kewajiban antar pasangan.   Dalam hal ini seorang istri memiliki kewajiban untuk mendengar dan mengikuti suami, namun di sisi lain istri  juga mempunyai hak terhadap suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan diskusi, tidak menutup kemungkinan ide istrilah yang di pakai untuk menentukan sebuah keputusanm namun tetaplah pihak suami yang mengesahkan putusan itu.

Sehingga, sebaiknya antara suami dan istri dapat saling ingat mengingatkan ke arah kebaikan dengan cara musyawarah, diskusi yang baik, tanpa perlu menyinggung perasaan satu sama lain.

Hak Istri Menuntut Ilmu

     Sebenarnya, seorang istri berhak mendapatkan pelajaran ilmu agama dari suaminya atau kesempatan belajar dari orang alim lainnya, dengan tetap menjaga hijab dan akhlaknya. Seorang suami harus mengawasi istrinya dalam pelaksanaan terhadap syariíat dan komitmennya, suami berkewajiban mengingatkan dan menasihati istrinya dengan cara yang baik ketika menyimpang dari syariíat. Jangan membiarkan istrinya larut dalam kesalahan dan dosa, dan suami harus bersabar menghadapi semuanya.

     Akan tetapi, manakala suami tidak memenuhi kewajiban yang semestinya, harus dilakukan sebagai konsekuensi seorang pemimpin. Apalagi kalau dia sendiri malah tidak melakasanakan ketaatan kepada Allah, maka seorang istri wajib membantu suaminya agar tetap dalam ketaatan kepada Allah SWT. Janganlah seorang istri bersikap acuh tak acuh, tidak peduli dengan suaminya.

     Istri juga jangan membebani suaminya dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Istri, hendaklah menjadi faktor pendorong dan motivator bagi suami dalam beribadah kepada Allah, berjihad di jalan Allah, berdakwah dan berakhlak yang baik, sehingga menjadi uswah (teladan) bagi lingkungan sekitarnya, Firman Allah taíala:

’’Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.....’’ (QS. Thohaa; 132 ).

     Bagaimana Caranya? Yang harus dilakukan istri adalah memberi nasihat dengan cara yang baik dan memberikan contoh. Tunjukkanlah kepada suami bahwa Anda sangat mengharapkan suami melaksanakan ibadah secara istiqamah. Kewajiban setiap orang adalah memberi nasihat kepada sesama manusia. Adapun petunjuk dan hidayah itu datang dari Allah. Jangan bosan memberi nasihat dan memberi contoh. Firman Allah Subhanahu wata’ala:

’’Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl: 125)

     Hikmah, adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

     Rasulullah Shalallahualaihi wassalam bersabda: ’’Agama itu nasihat, kami (para sahabat) menjawab, bagi siapa, ya Rasul?’’ Maka Beliau Shalallahualaihi wassalam bersabda,’’ Bagi Allah, rasul-Nya, pemimpin umat Islam dan setiap orang Islam,’’ (HRMuslim).

     Nasihat merupakan kata-kata yang mengandung nilai-nilai kebaikan, dalam bahasa Arab, tidak ada kata atau kalimat atau ungkapan yang lebih umum untuk menggambarkan kebaikan dunia maupun akhirat daripada kata nasihat.

Konon, seruan akan lebih mengena jika dilakukan dengan menyentuh hatinya. Lakukan dengan penuh kecintaan. Ajak dengan hati, dan semoga suami anda juga menerima dengan hati.

     Budaya saling taushiyah ini akan sangat indah diterapkan antar pasangan. Berbekal keikhlasan dan cinta, saling melakukan amar maíruf nahi munkar dalam keluarga, inilah tipologi keluarga rabbaniy atau keluarga yang di dalam rumahnya ada nuansa mencari tahu (belajar, mengilmui sesuatu) dan memberitahu (mengajarkan ilmu yang diketahui), dan inilah keluarga yang bertaqwa yang berhaq mendapatkan pertolongan Allah azza wajalla, sebagaimana firman-Nya, yang artinya :

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” [Ath-Thalaq : 4]

     Ikhtiar adalah sikap yang diajarkan agama kita, tentang hasilnya bisa cepat atau lambat, bahkan bisa juga gagal. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman, ’’Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

“ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia,’’ QS. Ar-Ríad:11)

    Dan tidak kalah pentingnya adalah selalu berdoa. meminta pada Allah Subhanahu wata’ala, dan jangan pernah putus asa.

 ’’Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah :153) .

Dan ungkapan terakhir dari artikel sederhana ini, bahwasannya ;

Bila ada surga di dunia itu adalah rumah tangga yang bahagia, rumah tangga yang penuh dengan rasa sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan bila ada neraka di dunia itu adalah rumah tangga yang hancur, suami istri saling menyalahkan, curiga, tidak saling mencintai dan jauh dari rasa sakinah mawaddah dan rahmah.

Wallahu aílam bisshawaab

Abie Sabiella
Jakarta, 17 Juni 2012


Sumber rujukan :___________
http://www .suaramerdeka.com/
http://www.eramuslim.com/
Dan dari berbagai Sumber lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar