Sabtu, 09 Juni 2012

Possesif…



Kenapa sich harus pake acara possesif segala…?  Keluh seorang teman…, Ketika aku menanyakan hal ini pada mereka yang possesif dalam hubungan mereka jawaban yang hampir sama  yang mereka kemukakan adalah karena mereka sangat  dan teramat sayang terhadap pasangannya...

Benarkah...?

Tapi apakah harus dengan cara demikian melarang ini dan itu terhadap pasangannya..? bukankah hal itu justru malah bisa merangsang pasangannya untuk berbohong…? Bukankah  kesepakatan awal terjalinnya sebuah hubungan itu untuk mencari kebahagiaan bersama pasangan yang dicintai dan mencintainya, bukan untuk membuat pasangan menjadi tersiksa karena  ketidak nyamanan yang di alaminya dan ini merupakan penganiayan bathin bahkan ada yang  sampai pada penyiksaan secara fisik terhadap pasangannya…

Possesif  adalah “rasa memiliki” yang terlalu berlebihan. Bisa terjadi pada setiap orang, mulai dari pacar (tidak di rekomendasikan untuk pacaran sebelum nikah) terhadap pasangan suami isteri maupun figur orang tua terhadap anaknya.


Karakter possesif ini banyak di miliki seseorang, namun sangat sedikit sekali yang menyadarinya. Ada juga yang merasa tidak ada sesuatu yang aneh terhadap sikap possesifnya. Bahkan, lebih banyak lagi yang tidak mau mengakuinya "Itukan tanda rasa sayang saya saja..." , seperti itu kurang lebih mereka biasanya berkilah…

Umumnya karakter possesif ini paling banyak terjadi pada pasangan yang masih berstatus “pacaran”. Dan ini terbukti dari beberapa keluhan, curhat dari mereka.

Dalam beberapa hal, sifat possesif akan membuat pasangan merasa dimanja,
dan rata-rata pasangan yang  salah satunya  memiliki karakter possesif ini sangat setia terhadap pasangannya, karena rasa ingin memilikinya sangat berlebihan dan tidak mau kalau sampai pasangannya  di rebut orang lain, rasa takutnya yang Overacting  inilah mungkin yang membuat orang tersebut  menjadi posssesif, sekalipun  sikap ini mengakibatkan pasangan lama-lama akan merasa terkekang.

Demikian halnya yang terjadi pada suami atau isteri yang pasangannya possesif, dalam beberapa waktu mungkin merasa diperhatikan namun lama-lama akan timbul rasa tidak bebas karena suami atau istri salah satu di antara mereka merasa terlalu di “awasi” atau bahasa fulgarnya merasa di mata – matai.

Hal yang sama terjadi pada anak yang ibunya possesif. Biasanya si anak sampai seperti robot karena selalu disetir oleh orang tuanya.

Beberapa  hal ( tindakan ) yang seringkali di lakukan oleh pasangan possesif ini, dan pada stadium akut, sifat possesif akan membuat seseorang terlalu takut apabila terjadi sesuatu pada orang yang disayanginya. Takut pacarnya kecantol orang lain, takut suami atau isteri naksir atau di taksir orang lain, bahkan ada juga orang tua yang takut anaknya kenapa-napa kalau bergaul dengan anak lain. Takut ini, takut itu yang teramat sangat berlebihan.

Jika pasangannya menerima telepon atau nggak nelpon-nelpon, langsung dech muncul  interogasi macam yang di lakukan personil bareskrim atau anggota Intelijen.

"Tadi siapa yang telepon… ? Cowok apa Cewek… ? Siapa …? Temen sekantor kah..?"

"Sekarang lagi makan siang dimana..? Lho itu suara siapa..?, kok kelihatannya akrab banget sama kamu..?"

"Ini bbm dari siapa…?, temen kok bahasanya kelihatan mesra... TTM ya ?"

“Kok pakai panggil dek segala..?, kan bisa di panggil namanya…!, atau ukhty misalnya…


Pokoknya repot dech kalau possesif sudah menjadi obsesi [repot banget ngerti-in bahasanya.
Jujur atau tak jujur tetap saja di curigai, dan yang tampat hanya hanya kejelekan semua, karena justru itu yang di cari.

HP diperiksa, Saku di raba (copet dunk he..he..), Tas di check isinya, baju di lihat kena bekas apa [lipstick mungkin], records telepon dicheck, email di monitor, masya Allah…

Seorang anak jadi canggung karena nggak pernah keluar rumah. Seorang suami  tidak bisa beraktivitas karena bolak – balik di telepon isteri menanyakan posisinya, mungkin  jika perlu suaminya dipasangi  GPS ( Global Positioning System ). Seorang isteri nggak bisa beraktivitas karena sebentar-sebentar suaminya telfon  dll.

Possesif dalam arti menyayangi  orang  yang disayangi sebenarnya sangat bagus, namun jika terlalu berlebihan akan menyebabkan hadirnya rasa tidak nyaman.

Ingat, pasangan kita, anak kita, orang yang kita sayangi, memiliki kehidupan pribadinya sendiri yang suka nggak suka  harus mendapatkan pengertian. Mereka butuh ruang untuk aktualisasi diri.

Jangankan mereka, burung saja yang sudah dikasih sangkar emas, makanan dan minuman berlimpah,  masih kalah bahagianya dari burung yang diluar sangkar. Orang  yang dipenjara, meskipun penjara mewah, bisa pesan makanan lewat sipir, bisa nonton TV, kamar full AC, fasilitas handphone dan internet, masih kalah bahagia dengan orang yang bisa beraktivitas di luar penjara .

Kalau mau jujur, sebenarnya mengapa orang menjadi possesif tidak lain karena adanya rasa kurang percaya diri menghadapi kenyataan, ketidakpercayaan diri  kalu dirinya sebenarnya memiliki keunggulan di banding orang lain, ketidakpercayaandiri terhadap potensi yang ada pada dirinya.

Merasa kurang cantik, merasa tidak berpendidikan tinggi, merasa kurang gaul, merasa miskin wawasan dan lain sebagainya, yang ini semua membelenggu pemikiran orang – orang possesif pada umumnya.

Bolehlah orang lebih cantik, lebih tampan, tapi yakinilah pasangan kita itu jauh lebih care , lebih bisa di percaya dan setia.

Harta boleh lebih kaya, pribadi boleh lebihunggul, tapi toh pasangan sudah memilih kita, Sudah mempercayai kita. Motifasi seperti ini yang harus selalu di kembangkan, agar pasangan merasa lebih bangga memiliki kita.

Yang cantik terlalu banyak, yang tampan juga nggak sedikit…
Yang kaya raya banyak, yang setia juga masih ada…

Mengapa dulu anda menjatuhkan pilihan pada pasangan  anda sekarang..? Memangnya tidak ada yang lebih tampan, atau lebih tampan, lebih berpendidikan, lebih berharta..? Tentu saja ada, tapi toh kita tidak memilihnya karena kita lebih nyaman pada pasangankita. Lebih comfort dan lebih bisa mempercayai satu sama yang lain.

Possesif terhadap pasangan masih di butuhkan, dengan syarat possesif yang masih memberikan ruang gerak pasangan sebagai mahluk individu.

Soal orang tua dengan  anak asalkan orang tua mau mempercayai anak dan memberinya kebebasan untuk aktualisasi diri si anak. Orang tua mana yang nggak ingin anak – anaknya maju berkembang, semua orang tua pasti inginkan itu, tapi orang tua juga tidak mau anak – anaknya tersesat .

Orang tua harus mampu menjadi sahabat – sahabat anak – anaknya, di samping tetap posisi orang tua sebagai Control Center dalam keluarga.

Dengan demikian Insya Allah anak – akan baik-baik saja, Anak akan bangga pada orang tuanya dan tidak akan berbuat sesuatu yang menyakiti hati orang tuanya .

Jangan biarkan pasangan anda, suami atau isteri anda atau orang-orang yang anda cintai sedih karena mereka merasa tidak dipercaya.

Sayangilah pasangan anda, suami, istri dan anak – anak anda, dan berilah kepercayaan pada mereka, Possesif tingkat ekstrem hanya akan melahirkan kebohongan, hindarilah itu…

Bissmillah…, selamat mencoba…

Smoga bermanfaat,

Jkt, 9 Juni 2012

Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar