Minggu, 07 Oktober 2012

Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah



Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah, jika mereka saja dapat meninggalkan Allah, apalagi dirimu...

Sebuah ungkapan yang luar biasa yang sarat dengan hikmah dan pelajaran, betapa tidak, Allah adalah Sang pencipta kita (Creator), yang berarti pula keberadaan Allah dalam hidup setiap hamba adalah faktor yang sangat penting bahkan maha penting. Justru karena adanya Allah maka ada-lah kita.

Bagaimana mungkin seorang hamba tidak mencintai penciptanya, dan bagaimana ia bisa mempu melakukan itu...

Tapi kenyataannya ini terjadi, dimana banyak sekali para hamba yang tidak mempunya rasa cinta terhadap sang penciptanya. Jangankan memiliki rasa cinta, bahkan mengenalpun tidak...

Banyak sekali bukti yang mengindikasikan bahwa seseorang tidak mempunyai rasa cinta pada penciptanya. Pada umumnya seseorang yang mencintai sesuatu, maka iya akan berusaha untuk mendapatkan yang di cintainya itu, ia akan mencarinya dan apapun akan ia korbankan untuk sesuatu yang di cintainya itu.

Mencintai Allahpun demikian, kita harus mencari dimana keberadaan Allah sang pencipta itu, kita pun harus mencari bagaimana cara mencintai Allah itu dan syarat - syarat apa saja yang harus kita penuhi sehingga kita layak mendapatkan cinta Alla jala wa ala.

Rupanya langkah - langka inilah yang sebagian hamba enggan menempuhnya, sehingga wajar saja mereka tidak mampu mencintai Allah, bahkan sampai tahap mengenalpun tidak.

Mencintai Allah Subhanahu wata’ala adalah menjadikan -Nya dan segala perintahNya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan seorang hamba. Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada seluruh mahluk,  termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.

Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 24)

Allah menyebut mereka yang mencintai selain diri-Nya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasik.

Jangankan menjadikan yang selain Allah Subhanahu wata’ala itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat nya saja, sudah dikatakan Dzalim oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya;

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat Dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. QS. Al-Baqarah: 165)



Cara Mencintai Allah

Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah
Subhanahu wata’ala. Bukan dengan cara – cara yang kita reka – reka sendiri, yang tidak memiliki dasar sandaran (dalil ) dan cendrung  hasil dari penalaran akan dan bisikan nafsu yang merusak. Bukan….! Bukan seperti ini.

Adapun cara mencintai Allah
Subhanahu wata’ala yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah Shalallahualaihi wassalam. Sebab beliau adalah figure teladan, Rasul pilihan  yang diutus Allah Subhanahu wata’ala kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Ali Imran: 31)

Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah
Subhanahu wata’ala, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah Shalallahualaihi wasalam ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.

Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari Muslim)

Sebab kedudukan Rasulullah Shalallahualaihi wassalam adalah sebagai utusan resmi (Rasul) dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang dari Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang kamu dilarang mengerjakannya maka jauhilah!” (al-Hasyr: 7)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah, Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).


Seperti itulah seorang hamba dalam menggapai cinta sang penciptanya, yakni dengan melaksanakan apa saja yang pernah Rasulullah Shalallahualaihi wassalam lakukan semasa hidupnya, dengan penuh kesabaran, dalam hal ini sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menghindari kemaksiatan.

Adapun mereka yang enggan menggapai cinta Allah (ingkar), di sebabkan mereka telah tertutup mata dan hatinya akibat menuruti hawa nafsunya, hobbynya dan kesenangan dunia mereka, sehingga mereka menjadi hamba – hamba yang tidak pandai bersyukur atas segala karunia dan penciptaan dirinya oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Kembali pada ungkapan di atas; 

Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah, jika mereka saja dapat meninggalkan Allah, apalagi dirimu...

Mencintai Allah adalah segalanya, sedangkan mencintai manusia yang tidak atas dasar cinta karena Allah, maka tinggalkanlah, karena itu hanya sebuah kehinan, kesia – siaan, dan kamu akan di tinggalkan.

Dzat yang maha Agung saja mampu mereka tinggalkan, apalah arti dirimu…

Jakarta, 21 Dzulqa'ida 1433 H

Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar