Senin, 28 Januari 2013

Karena Allah bukan mesin ATM



Sebagai hamba yang beriman, tentunya kita sepakat bahwa Allah Subhanahu wata’ala adalah Dzat yang maha besar, Maha Adil, dan Maha Baik. Maka ke maha sempurnaan Allah inilah yang mustahil untuk mahluknya memiliki sifat yang sesempurna itu, dengan kata lain, yang Allah miliki tidak mungkin dimiliki oleh manusia secara sempurna.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى : ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاًوَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ . [رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk (melakukan) perintah yang disampaikan kepada para Nabi. Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amalan yang shaleh. ’ Dan firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu. ’ Kemudian beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh (lama), tubuhnya diliputi debu lagi kusut, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbku, ya Rabbku’. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.”  (HR. Muslim)

Pendek kata, kita sebagai manusia yang merupakan ciptaan-Nya, dalam ketiga hal itu tidak mungkin dapat melampaui Allah Jalla wa ala. Kita jauh dari sempurna. Tapi apakah kemudian karena tidak bisa menjadi sempurna , kita berhenti berusaha..? Tidak, justru karena kita ini ciptaan Allah, sudah selayaknya kita hidup mencerminkan sifat sifat Allah dan memohon pada-Nya untuk menolong dan memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik kepada sesama, jujur, dan memiliki rasa keadilan.
Firman Allah :

{وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على أَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS al-Maaidah:8).

Anda mau uang...? jawabannya sederhana.. BEKERJA!. Kita lupa bahwa Allah itu Maha Adil. Allah memberikan kepada  kita apa yang pantas kita terima. Seorang komunis yang rajin bekerja, akan mendapatkan uang atau upah yang lebih banyak daripada orang yang rajin berdoa tapi malas bekerja.

Sekali lagi, Allah Aza wajalla itu Maha Adil. Allah tidak akan mengambil dari orang lain kemudian memberikan kepada kita kelebihannya, hanya karena kita berdoa meminta dan memuji Allah. Allah juga tidak akan memberikan yang baik kepada orang yang malas bekerja, hanya karena orang itu beribadah kepada  Allah. Kita sering lupa bahwa dibalik  kebaikan  Allah yang luar biasa itu ,selalu  ada juga keadilanNya.  Mana mungkin orang malas dan orang rajin menerima hasil yang sama ?.

Lalu anda akan bertanya, berarti kita tidak perlu Berdoa ?. Oh tidak.. Justru menurut saya , kita tidak akan mampu menjalani hidup ini dengan baik, jujur dan seadil mungkin tanpa berdoa dan memintanya kepada Allah.

Kita berdoa meminta supaya Allah memberikan kebeningan pada hati kita, supaya kita senantiasa dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan ketika kita sudah melakukan kesalahan, hati yang bening  itu akan mengingatkan kita bahwa kita sudah salah, dan kembali kepada jalan yang benar. Kita berdoa supaya Allah memberikan kita semangat kerja yang rajin, supaya ketika kemalasan itu datang, kita memiliki dorongan dari hati yang diberikan Allah untuk tetap semangat. Kita berdoa supaya kita diberikan kebijaksanaan supaya kita hidup baik dan tidak menyakiti orang lain.
Allah  Menjelaskan hal ini dalam firman-Nya:

{وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا}

“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan)”  (QS Asy Syams:7-10). 

Kita lakukan dulu apa yang wajib kita lakukan, dan pada saat yang sama kita berdoa meminta Allah memampukan kita melakukannya. Allah yang Maha Mengetahui, pasti akan memberikan kita yang terbaik, jika kita melakukan kewajiban kita dengan baik.

Intinya adalah kita berdoa meminta kepada Allah, hal hal yang tidak dapat diberikan manusia bagi kita. Manusia tidak dapat melembutkan hati manusia lain, kecuali itu datangnya dari Allah. Manusia tidak dapat menyemangati manusia, kecuali semangat itu Allah timbulkan. Manusia pintar sekalipun tidak akan memiliki hikmat dan kebijaksanaan, kalau itu bukan dari Allah.  Kurang pintar apa pejabat dan para koruptor yang dipenjara karena tidak dapat membedakan mana milik pribadi, mana milik orang lain, dan mana milik negara. Hal hal ini tidak harus kita ajarkan kepada tamatan Master atau Doktor.

Mungkin di benak kita pernah (sering) terlintas “sebuah tanya” akan adanya doa yang selalu kita pinta tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda dikabulkan. Padahal kita merasa kebaikan semata yang dipinta. Kenapa bisa demikian..?

Penjelasan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t berikut ini mungkin bisa kita jadikan renungan. Beliau berkata: “Demikian pula doa. Doa merupakan sebab terkuat untuk menolak kejelekan dan (sebab untuk) mendapatkan apa yang diinginkan. Akan tetapi terkadang pengaruhnya luput untuk diperoleh. Bisa jadi karena lemahnya doa tersebut di mana keberadaan doa itu tidak dicintai oleh Allah U disebabkan di dalamnya mengandung permusuhan. Bisa jadi karena lemahnya hati orang yang berdoa dan ia tidak menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa jalla, juga tidak memperhatikan waktu berdoa. Jadilah doa tersebut seperti busur yang sangat lemah, karena anak panah yang keluar darinya melesat dengan lemah. Bisa jadi pula doa tersebut tidak dikabulkan karena ada perkara-perkara yang menghalanginya seperti makan dari yang haram, adanya kedzaliman, hati yang penuh noqtah hitam karena dosa, kelalaian dan syahwat yang mendominasi.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 9)

Satu hal yang perlu kita ketahui cara Allah mengabulkan doa hamba – hambanya bermacam – macam, misalnya anda di hindarkan dari musibah atau anda di berikan kesehatan yang prima, atau anda di naikan derajad anda di mata Allah dan tidak mesti  semuanya berupa uang.

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan satu doa yang tidak ada di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah memberikan kepadanya dengan doa tersebut salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi permintaannya disegerakan, bisa jadi permintaannya itu disimpan untuknya di akhirat nanti, dan bisa jadi dipalingkan/dihindarkan kejelekan darinya yang sebanding dengan permintaannya.” Ketika mendengar penjelasan seperti itu, para shahabat berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyak doa.” Nabi Shalallahualaihi wassalam menjawab: “Allah lebih banyak lagi yang ada di sisi-Nya (atau pemberian-Nya).” (HR. Ahmad 3/18, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5714)

Kita berdoa meminta supaya hidup kita ini dicukupkan dengan baik, dan pada saat yang sama, kita tidak menginginkan kecukupan hidup kita itu berasal dari jeritan atau kekurangan orang lain. Allah itu Maha Mencukupi, Allah itu mengadakan segala sesuatu yang tidak terpikir oleh kita manusia dalam kapasitas pikiran kita yang terbatas. Mencoba menyelami jalannya Allah itu ibarat mengisi air lautan ke dalam sebuah gelas.

Ketika kita mengalami kesulitan atau cobaan, apakah dengan gampang kita kemudian mengatakan ini sudah kehendak Allah ?. Nanti dulu.. mungkin kita harus mengkaji kembali, jangan jangan memang kita pantas menerima semuanya itu karena cara kita yang salah. Saya sangat percaya bahwa Allah menghendaki yang baik bagi kita semua, tetapi kita juga harus belajar untuk hidup sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Ketika kita mengalami hari hari baik yang menyenangkan hati, itulah kebaikan Allah mengijinkan semua itu dapat terjadi.  Ketika kita mengalami kesulitan , cobaan dan tantangan, itu juga kebaikan Allah, mengijinkan kita untuk belajar menjadi kuat, menyadari kesalahan kita  dan bertambah dewasa dalam kehidupan.  Jadi tidak terbantahkan bahwa Allah itu Baik.

Anda ingin uang ?… Bekerjalah dengan rajin dan jujur, berusahalah dengan cara yang baik dan adil, dan Allah akan memberi kesempatan dan membuka peluang serta menimbulkan semangat ekstra sesuai kebutuhan kita. Kita tidak otomatis hidup berkecukupan dan memiliki uang tanpa kerja keras , jujur dan giat menabung. Saya bukan seorang Ustad atau pemuka agama, tapi ini yang saya tahu dengan pasti : Bahwasannya Allah Bukan mesin  ATM.

Wa Allahu a’lam bisshowab…

Smoga bermanfaat…

Jkt, 29 Jan 2013
Abie Sabiella

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar