Jumat, 10 Oktober 2014

Mungkin aku kena Gastritis...

Dari subuh ulu hati terasa sakit, sampai siang sakitnya makin terasa, akhirnya aku tanya temen yang dokter, katanya aku kena Gastritis.

Apa itu Gastritis...?

Gastritis adalah peradangan pada dinding lambung. Dilihat dari waktu terjadinya, gastritis dibagi menjadi dua:
  • Gastritis akut atau muncul secara mendadak dan cepat reda.
  • Gastritis kronis atau terjadi secara perlahan dan berlangsung lama.
Lambung memiliki sel-sel penghasil asam dan enzim yang berguna untuk mencerna makanan. Untuk melindungi lapisan lambung dari radang atau pengikisan asam, sel-sel tersebut juga sekaligus menghasilkan lapisan “lendir”. Lapisan lendir ini berfungsi melindungi dinding lambung dari iritasi akibat asam yang diproduksi. Gastritis terjadi ketika lapisan lendir tersebut rusak sehingga dinding lambung mulai teriritasi.

Pada sebagian penderita, gejala bisa muncul dan berupa rasa nyeri atau ngilu pada perut bagian atas, mual, muntah, serta kehilangan nafsu makan. Dan pada kasus gastritis yang terbilang parah, yaitu akibat terjadinya pengikisan dan pendarahan pada lapisan lambung. Gejala yang timbul bisa berupa tinja berwarna merah atau hitam dan muntah darah.
Segera lakukan pengobatan jika Anda menderita gastritis karena sebagian besar kondisi ini dapat sembuh dengan cepat setelah diobati. Namun sebaliknya jika gastritis dibiarkan, maka dalam jangka panjang dikhawatirkan akan menimbulkan komplikasi seperti tukak lambung,pendarahan hebat dan kanker lambung.


Hal-hal yang menyebabkan gastritis

Gastritis akut umumnya disebabkan oleh:
  • Makanan yang mengandung kadar asam tinggi (makanan bercuka atau buah-buah-buahan telalu asam).
  • Makanan yang terlalu pedas.
  • Efek samping penggunaan obat-obatan pereda rasa sakit, seperti ibuprofen, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS).
Jika dibiarkan, semua kasus gastritis akut bisa berubah menjadi gastritis kronik. Gastritis kronis pada umumnya disebabkan oleh:
  • Infeksi bakteri H. pylori
  • Refluks cairan empedu (arus balik cairan empedu dari usus halus ke lambung)
  • Kondisi yang mendasari, seperti anemia pernisiosa (anemia akibat lambung tidak mampu mencerna vitamin B12)
  • Konsumsi alkohol yang berlebihan.
  • Pemakaian narkoba jenis kokain.

Diagnosis gastritis

Dalam melakukan diagnosis gastritis, hal pertama yang biasanya dilakukan dokter adalah menanyakan pada pasien mengenai gejala yang dirasakannya. Dokter juga akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan pasien, misalnya apakah pasien pernah menderita kondisi yang mungkin menjadi penyebab dasar gastritis atau apakah pasien aktif mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit seperti ibuprofen, aspirin, atau obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Dari keterangan-keterangan tersebut, dokter akan menarik kesimpulan awal mengenai kondisi yang sedang dialami oleh pasien.
Karena gastritis merupakan sebuah kondisi dan bukan penyakit, penyebab dasarnya perlu diketahui agar penanganan yang sesuai dapat dilakukan. Untuk mendukung kesimpulan, dokter biasanya juga akan melakukan sejumlah pemeriksaan fisik seperti:
  • Tes napas, tes darah atau pemeriksaan tinja untuk mendeteksi keberadaan bakteri H. pylori.
  • Tes barium untuk melihat adanya perubahan pada lapisan lambung.
  • Endoskopi, yakni pemeriksaan dengan menggunakan endoskop (alat kecil menyerupai selang yang dilengkapi dengan kamera) yang dimasukkan ke kerongkongan hingga perut. Manfaat pemeriksaan ini adalah untuk memeriksa adanya gangguan dalam sistem pencernaan, termasuk untuk memastikan jika terdapat peradangan atau tukak pada dinding lambung.
  • Biopsi, yaitu pemeriksaan yang sebenarnya masih merupakan bagian dari endoskopi. Jika dokter menemukan adanya radang, sampel jaringan dinding lambung mungkin akan diambil untuk diteliti di laboratorium. Melalui biopsi ini, dokter juga bisa mendeteksi keberadaan bakteri H. pylori.

Pengobatan gastritis

Untuk mengobati gastritis akut yang disebabkan oleh meningkatnya produksi zat asam, Anda dapat menggunakan obat-obatan seperti berikut ini:
  • Obat-obatan penghambat pompa proton (PPP), seperti esomeprazole, lansoprazole, dan omeprazole. PPP mampu menghambat sel-sel penghasil asam yang terdapat pada lapisan lambung. Dengan begitu, kadar asam di dalam lambung bisa turun. Obat ini pada umunya memerlukan resep dari dokter.
  • Obat-obatan antasida, yaitu obat yang mampu menetralkan kandungan asam di dalam lambung. Efek samping obat ini masih tergolong ringan, misalnya diare dan konstipasi. Obat ini dapat dibeli tanpa memerlukan resep dokter.
  • Obat-obatan antihistamin H-2 seperti cimetidine, famotidine, dan ranitidine. Sama seperti penghambat pompa proton, antihistamin H-2 mampu menurunkan kadar asam di dalam saluran pencernaan. Obat ini memerlukan resep dokter.
Untuk mengatasi gastritis akut yang disebabkan oleh jadwal makan yang tidak teratur dan konsumi makanan yang terlalu pedas, Anda bisa lakukan dengan cara menghentikan kedua kebiasaan buruk tersebut. Namun jika gastritis akut Anda disebabkan oleh efek samping obat-obatan pereda rasa sakit yang Anda konsumsi, sebaiknya tanyakan dahulu pada dokter sebelum Anda menghentikannya dan mencari obat alternatif.
Jika gastritis disebabkan oleh infeksi bakteri H. pylori, kombinasi 3 obat akan digunakan untuk mengatasinya, yaitu 2 antibiotik dan 1 PPI. Antibiotik yang umum digunakan adalah clarithromycin, amoxicillin dan metronidazole. Kombinasi obat-obat ini diberikan selama seminggu.

Benar adanya, hal-hal yang menjadi sebab munculnya Gastritis memang sering aku lakukan, seperti makan tak teratur, sering konsumsi makanan pedas dan asam dll, pantes aja ulu hati terasa nyeri dan sedikit mual, mirip saat asam lambung-ku kambuh dua tahun lalu...

Demikian sahabat, semoga artikel ini bermanfaat untuk para pengidap penyakit lambung dan sekitarnya.

Jkt, 10 Okt 2014

~abie sabiella~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar